Sejak mengenal ilmu Biologi tentu kita tahu bahwa 80 persen tubuh manusia adalah air dan lebih dari 70 persen permukaan bumi ditutupi oleh air. Di berbagai kitab agama pun kata “air” merupakan salah satu kata favorit. Hal itu menunjukkan betapa pentingnya air bagi tubuh manusia dan betapa dekatnya hubungan air dengan manusia. Para ahli gizi pun menyarankan agar setiap orang mengkonsumsi air minimal 2 liter per hari. Bila kandungan air dalam tubuh manusia kurang, kompisisi tubuh akan tidak seimbang. Selain karena secara medis terbukti air mampu mengembalikan keseimbangan tubuh, penggunaan air sebagai obat dari berbagai penyakit juga didukung oleh faktor kepercayaan atau sugesti pasien. Pengobatan itulah yang disebut dengan holistik, sesuatu yang mengandalkan sugesti manusia itu sendiri. Tidak heran bila banyak ahli kesehatan atau tabib yang mengandalkan air sebagai media penyembuhan pasiennya.
Masyarakat Indonesia memang sudah akrab dengan pengobatan alternatif baik yang menggunakan air, telur, batu atau benda lain sebagai media penyembuhannya. Ketika sang pasien yakin akan sembuh dengan meminum ”air keramat” maka tubuhnya akan beranjak lebih bugar. Selain menjadi media pengobatan penyakit fisik manusia, disadari ataupun tidak, air juga sering menjadi media pengobatan batin secara spiritual. Sebagai negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam, masyarakat Indonesia juga banyak yang mempercayai khasiat air yang telah dido’akan oleh kyai atau ulama. Tujuannya beragam, misalnya agar dilancarkan rezeki, dimudahkan dalam menghadapi ujian, diberi keturunan, didekatkan jodoh, dan lain sebagainya. Selain itu, beberapa tempat di Indonesia yang memiliki sumber air yang dianggap suci pun dipercaya memiliki banyak khasiat bagi tubuh manusia. Namun hal ini lebih fenomenal karena air yang digunakan memang tidak sembarangan, melainkan air dari berbagai tempat yang diangap keramat maupun dari orang atau benda yang dianggap sakti. Salah satunya kasus Ponari yang sempat menjadi berita utama di berbagai media masa.
Profesor Masaru Emoto, seorang peneliti dari Hado Institute di Tokyo, Jepang mengungkapkan suatu keanehan pada sifat air. Berdasarkan hasil pengamatannya terhadap lebih dari 2000 contoh foto kristal air yang dikumpulkannya dari berbagai penjuru dunia, Emoto menemukan bahwa partikel molekul air ternyata bisa berubah-ubah tergantung perasaan manusia di sekelilingnya, yang secara tidak langsung mengisyaratkan pengaruh perasaan terhadap klasterisasi molekul air yang terbentuk oleh adanya ikatan hidrogen. Hal itu ia sampaikan melalui sebuah buku yang berjudul Message from Water (Pesan dari Air). Emoto juga menemukan bahwa partikel kristal air terlihat menjadi “indah” dan “mengagumkan” apabila mendapat reaksi positif di sekitarnya, misalnya dengan kegembiraan dan kebahagiaan. Namun partikel kristal air terlihat menjadi “buruk” dan “tidak sedap dipandang mata” apabila mendapat efek negative di sekitarnya, seperti kesedihan dan bencana. Emoto menyimpulkan bahwa partikel air dapat dipengaruhi oleh suara musik, do’a-do’a dan kata-kata yang ditulis dan dicelupkan ke dalam air tersebut.
Penemuan Prof. Emoto tersebut mungkin dapat membuktikan bahwa fungsi air sebagai obat bagi tubuh manusia memang tidak dapat dipisahkan dari sugesti manusia itu sendiri. Hal itu juga dapat menjawab teka-teki yang beredar di masyarakat Indonesia atas penambahan khasiat pada air baik air dari tabib pengobatan alternatif, pengajian kyai, sumber mata air keramat bahkan batu dan tangan ajaib Ponari. Karena pengobatan yang mengandalkan kekuatan sugesti manusia ternyata memang sejalan dengan sifat air yang mampu dipengaruhi isi pikiran manusia itu sendiri. Namun perlu diingat, baik secara holistik maupun medis, air memang sangat penting bagi tubuh manusia. Oleh karena itu, minumlah air yang cukup untuk tetap menjaga kebugaran tubuh Anda.
Penulis: Syelvia Ikramatunnafsiah








