<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>MATOA &#187; Dari Sahabat</title>
	<atom:link href="http://matoa.org/category/dari-sahabat/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://matoa.org</link>
	<description>Just another WordPress weblog</description>
	<lastBuildDate>Fri, 10 Sep 2010 03:00:26 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Air dan Pengobatan Holistik</title>
		<link>http://matoa.org/air-dan-pegobatan-holistik/</link>
		<comments>http://matoa.org/air-dan-pegobatan-holistik/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Aug 2010 01:18:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matoa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dari Sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Info Lingkungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://matoa.org/?p=2426</guid>
		<description><![CDATA[Sejak mengenal ilmu Biologi tentu kita tahu bahwa 80 persen tubuh manusia adalah air...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://matoa.org/wp-content/uploads/2010/08/tetesan-air.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-2427" title="tetesan-air" src="http://matoa.org/wp-content/uploads/2010/08/tetesan-air.jpg" alt="" width="320" height="320" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Sejak mengenal ilmu Biologi tentu kita tahu bahwa 80 persen tubuh manusia adalah air dan lebih dari 70 persen permukaan bumi ditutupi oleh air. Di berbagai kitab agama pun kata “air” merupakan salah satu kata favorit. Hal itu menunjukkan betapa pentingnya air bagi tubuh manusia dan betapa dekatnya hubungan air dengan manusia. Para ahli gizi pun menyarankan agar setiap orang mengkonsumsi air minimal 2 liter per hari. Bila kandungan air dalam tubuh manusia kurang, kompisisi tubuh akan tidak seimbang. Selain karena secara medis terbukti air mampu mengembalikan keseimbangan tubuh, penggunaan air sebagai obat dari berbagai penyakit juga didukung oleh faktor kepercayaan atau sugesti pasien. <span id="more-2426"></span>Pengobatan itulah yang disebut dengan holistik, sesuatu yang mengandalkan sugesti manusia itu sendiri. Tidak heran bila banyak ahli kesehatan atau tabib yang mengandalkan air sebagai media penyembuhan pasiennya.</p>
<p style="text-align: justify;">Masyarakat Indonesia memang sudah akrab dengan pengobatan alternatif baik yang menggunakan air, telur, batu atau benda lain sebagai media penyembuhannya. Ketika sang pasien yakin akan sembuh dengan meminum ”air keramat” maka tubuhnya akan beranjak lebih bugar. Selain menjadi media pengobatan penyakit fisik manusia, disadari ataupun tidak, air juga sering menjadi media pengobatan batin secara spiritual. Sebagai negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam, masyarakat Indonesia juga banyak yang mempercayai khasiat air yang telah dido’akan oleh kyai atau ulama. Tujuannya beragam, misalnya agar dilancarkan rezeki, dimudahkan dalam menghadapi ujian, diberi keturunan, didekatkan jodoh, dan lain sebagainya. Selain itu, beberapa tempat di Indonesia yang memiliki sumber air yang dianggap suci pun dipercaya memiliki banyak khasiat bagi tubuh manusia. Namun hal ini lebih fenomenal karena air yang digunakan memang tidak sembarangan, melainkan air dari berbagai tempat yang diangap keramat maupun dari orang atau benda yang dianggap sakti. Salah satunya kasus Ponari yang sempat menjadi berita utama di berbagai media masa.</p>
<p style="text-align: justify;">Profesor Masaru Emoto, seorang peneliti dari <em>Hado Institute</em> di Tokyo, Jepang mengungkapkan suatu keanehan pada sifat air. Berdasarkan hasil pengamatannya terhadap lebih dari 2000 contoh foto kristal air yang dikumpulkannya dari berbagai penjuru dunia, Emoto menemukan bahwa partikel molekul air ternyata bisa berubah-ubah tergantung perasaan manusia di sekelilingnya, yang secara tidak langsung mengisyaratkan pengaruh perasaan terhadap klasterisasi molekul air yang terbentuk oleh adanya ikatan hidrogen. Hal itu ia sampaikan melalui sebuah buku yang berjudul <em>Message from Water</em> (<em>Pesan dari Air</em>). Emoto juga menemukan bahwa partikel kristal air terlihat menjadi &#8220;indah&#8221; dan &#8220;mengagumkan&#8221; apabila mendapat reaksi positif di sekitarnya, misalnya dengan kegembiraan dan kebahagiaan. Namun partikel kristal air terlihat menjadi &#8220;buruk&#8221; dan &#8220;tidak sedap dipandang mata&#8221; apabila mendapat efek negative di sekitarnya, seperti kesedihan dan bencana. Emoto menyimpulkan bahwa partikel air dapat dipengaruhi oleh suara musik, do’a-do’a dan kata-kata yang ditulis dan dicelupkan ke dalam air tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Penemuan Prof. Emoto tersebut mungkin dapat membuktikan bahwa fungsi air sebagai obat bagi tubuh manusia memang tidak dapat dipisahkan dari sugesti manusia itu sendiri. Hal itu juga dapat menjawab teka-teki yang beredar di masyarakat Indonesia atas penambahan khasiat pada air baik air dari tabib pengobatan alternatif, pengajian kyai, sumber mata air keramat bahkan batu dan tangan ajaib Ponari. Karena pengobatan yang mengandalkan kekuatan sugesti manusia ternyata memang sejalan dengan sifat air yang mampu dipengaruhi isi pikiran manusia itu sendiri. Namun perlu diingat, baik secara holistik maupun medis, air memang sangat penting bagi tubuh manusia. Oleh karena itu, minumlah air yang cukup untuk tetap menjaga kebugaran tubuh Anda.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Penulis: Syelvia Ikramatunnafsiah </em><em><strong></strong></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://matoa.org/air-dan-pegobatan-holistik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kupu-Kupu yang Dilindungi di Indonesia &#8211; Ornithoptera Goliath</title>
		<link>http://matoa.org/kupu-kupu-yang-dilindungi-di-indonesia-ornithoptera-goliath/</link>
		<comments>http://matoa.org/kupu-kupu-yang-dilindungi-di-indonesia-ornithoptera-goliath/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Jul 2010 03:51:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matoa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dari Sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Info Lingkungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://matoa.org/?p=2273</guid>
		<description><![CDATA[Di Indonesia, ada 20 jenis kupu yang dilindungi oleh undang-undang yang dikeluarkan oleh pemerintah.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://matoa.org/wp-content/uploads/2010/07/kupu-copy.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-2276" title="kupu copy" src="http://matoa.org/wp-content/uploads/2010/07/kupu-copy.jpg" alt="" width="283" height="149" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Keindahan sayap, pola warna, dan ukuran sayap merupakan suatu alasan dari sebagian besar  orang untuk menyukai salah satu kelompok serangga yang namanya kupu ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam dunia serangga, kupu termasuk ke dalam Ordo Lepidoptera. <strong>Lepidoptera,</strong> adalah bahasa Yunani, berasal dari 2 kata yaitu <em>lepidos </em>yang artinya sisik dan <em>ptera</em> artinya sayap. Jadi Lepidoptera artinya kelompok serangga yang bersayap sisik. Pengertian sisik di sini bukan seperti sisik ikan, melainkan kumpulan sel-sel penyusun sayap yang berukuran sangat kecil, tersusun bertumpuk-tumpuk seperti genteng, dan apabila dipegang sangat rapuh atau mudah lepas.</p>
<p style="text-align: justify;">Di Indonesia, ada 20 jenis kupu yang dilindungi oleh undang-undang yang dikeluarkan oleh pemerintah. Mengapa dilindungi? Ada beberapa alasan kupu tersebut dilindungi antara lain: (1) populasinya menurun, artinya di suatu daerah, jenis tertentu jumlahnya menjadi berkurang atau jarang ditemukan; (2) kerusakan habitat dan tanaman inang, artinya tempat hidup dan tanaman yang menjadi sumber makanan pokok dari ulat kupu tersebut menjadi hilang dan rusak akibat ulah manusia; (3) meningkatnya perdagangan, artinya untuk memenuhi permintaan kolektor serangga, maka banyak penduduk yang bertempat tinggal dekat dengan hutan banyak mencari kupu yang berukuran besar dan bersayap indah untuk dijual kepada kolektor; (4) endemik dan distribusinya terbatas, artinya kupu jenis tertentu hanya dapat ditemukan di tempat tertentu saja.</p>
<p style="text-align: justify;">Salah satu jenis kupu dilindungi yang dapat ditemukan dan dilihat di Museum Serangga TMII, Jakarta, adalah kupu jenis <strong><em>Ornithoptera goliath</em></strong>. Secara umum kupu ini dikenal dengan nama <strong><em>Goliath Birdwing</em></strong> (kupu sayap burung), disebut kupu sayap burung karena pada saat istirahat penutupan sayapnya menyerupai penutupan sayap seekor burung pada saat sedang tidak terbang.</p>
<p style="text-align: justify;">Ada perbedaan dari morfologi atau penampakan luar antara kupu jantan dan betina. Perbedaan itu meliputi warna dan ukuran. Pada kupu jantan, warna hijau kekuningan berpadu dengan hitam, suatu komposisi yang sangat kontras untuk sepasang sayap depan. Masih dalam padanan kontras antara hitam dan hijau dengan pola seperti batik berwarna coklat kekuningan menambah semarak sepasang sayap bagian belakang.</p>
<p style="text-align: justify;">Lain halnya dengan pola warna kupu betina yang hanya didominasi oleh warna putih dan coklat kemerahan dengan pola seperti batik juga. Pola warna kupu betina tidak begitu menarik bila dibandingkan dengan jantan. Dari segi ukuran, jantan tampak berukuran lebih kecil dibanding betina. Ukuran bentang sayap secara horizontal untuk jantan dan betina masing-masing 15 cm dan 19 cm, sedangkan secara vertikal, bentang sayap jantan dan betina masing-masing 13 cm dan 15 cm. Cukup besar memang bila dilihat dari segi ukuran jika dibandingkan dengan kupu-kupu yang sering kita temui di pekarangan.</p>
<p style="text-align: justify;">Ada alasan tertentu tentang ukuran kupu jantan yang lebih kecil dibandingkan dengan betina. Dalam dunia serangga sering dijumpai individu jantan selalu berukuran lebih kecil, hal ini berhubungan dengan tingkah laku jantan yang lebih aktif dan agresif ketika berhadapan dengan pasangan yang akan dikawininya. Tubuh yang kecil memungkinkan serangga jantan dapat bergerak lebih aktif dan agresif. Ukuran betina yang lebih besar berhubungan dengan peran betina setelah melakukan perkawinan dengan jantan. Ukuran tubuh yang lebih besar menyimpan banyak cadangan energi, energi tersebut digunakan untuk terbang lebih jauh dan lama serta memilih tanaman inang yang cocok untuk meletakkan telur-telurnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Setiap jenis kupu mempunyai tanaman inang khusus untuk tempat meletakkan telur-telurnyanya. Telur kupu <em>O. goliath</em> sering dijumpai di tanaman sirih hutan (<em>Aristolochia</em> spp.). Tanaman ini nantinya sebagai sumber makanan pokok untuk ulat-ulat yang telah menetas dari telur.</p>
<p style="text-align: justify;">Kupu <em>O. goliath</em> dapat ditemukan keberadaannya di Indonesia bagian timur antara lain di kepulauan Seram, Waigeo, dan Irian Jaya (Manokwari). Kupu-kupu ini dapat ditemukan di hutan-hutan pedalaman Irian Jaya dan sekitarnya. Oleh sebab itu marilah kita menjaga hutan-hutan yang masih tersisa di wilayah negara kita, supaya kita lebih sering bertemu dengan kupu-kupu indah yang ada di dalamnya.</p>
<p style="text-align: right;"><em>﻿Penulis : Dina Maulinda</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://matoa.org/kupu-kupu-yang-dilindungi-di-indonesia-ornithoptera-goliath/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Komunitas Wiken Tanpa Ke Mall</title>
		<link>http://matoa.org/komunitas-wiken-tanpa-ke-mall/</link>
		<comments>http://matoa.org/komunitas-wiken-tanpa-ke-mall/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Jun 2009 02:00:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Irma Dana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dari Sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Rekomendasi]]></category>
		<category><![CDATA[Ragunan]]></category>
		<category><![CDATA[Wiken Tanpa Ke Mall]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://matoa.org/?p=1455</guid>
		<description><![CDATA["Siapa pun boleh ikut. Orang kota kadang mengalami kejenuhan, liburan harus ke mall terus, mahal juga beli makannya. “]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://matoa.org/wp-content/uploads/2009/06/WTM_01.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-1456" title="WTM_01" src="http://matoa.org/wp-content/uploads/2009/06/WTM_01.jpg" alt="WTM_01" width="307" height="206" /></a>Ragunan, di hari libur penuh dengan pengunjung yang hendak piknik. Apalagi menjelang akhir tahun ajaran sekolah. Di setiap ruang terbuka Ragunan, nampak anak-anak kecil berseragam taman kanak-kanak [TK] memadati lapangan rumput. Ya, Ragunan juga dijadikan ruang perpisahan atau pembagian buku rapot anak-anak TK di Jabodetabek.</p>
<p>Tak hanya anak-anak TK yang meramaikan Ragunan pada Sabtu, 13 Juni 2009  kemarin. Ada  komunitas pencinta liburan alternatif,  yang menamakan dirinya komunitas Wiken Tanpa Ke Mall [WTM] yang bermain di Ragunan. Nama yang unik dan menggelitik rasa ingin tahu.</p>
<p>Komunitas ini diprakarsai oleh Iwan Esjepe dan Indah Esjepe, pasangan suami istri yang sama-sama menyukai kegiatan alam bebas dan peduli dengan Indonesia.  Dibawah rimbunnya pohon,  sambil duduk di atas tikar bekas banner, Indah Esjepe berbagi cerita tentang WTM ini.</p>
<p>“Awalnya sering ngumpul bareng. Seperti waktu 17 Agustus, kami buat Kemah Merah Putih. Terus, waktu Nopember ada Kemah Pelangi. Kegiatan ini  dibuat  tanpa membedakan SARA. Siapa pun boleh ikut. Orang kota kadang mengalami kejenuhan,  liburan harus ke mall terus, mahal juga beli makannya. “</p>
<p>Kaos kuning, bertuliskan “Jangan Ragu Raguna<a href="http://matoa.org/wp-content/uploads/2009/06/WTM_11.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-1457" title="WTM_11" src="http://matoa.org/wp-content/uploads/2009/06/WTM_11.jpg" alt="WTM_11" width="326" height="219" /></a>n”  dikenakan seluruh peserta WTM sangat pas dengan cuaca  hari itu. Matahari menebarkan sinarnya di Ragunan.   &#8220;Jangan Ragu Ragunan&#8221;  adalah  kegiatan perdana  WTM.</p>
<p>Aditiyayoga, seorang graphic desain,  hari itu didaulat menjadi ketua pelaksana kegiatan. Ia  menjelaskan alasan kenapa Ragunan yang dipilih.</p>
<p>“Ya, dulu orang beranggapan Ragunan itu buruk banget. Ternyata sekarang  fasilitasnya sangat  mendukung.  Ragunan sudah beradab lah…Sudah ada halte-halte, jadi kalo ke ujanan bisa berteduh. Ruang terbukanya juga sudah banyak. Ya, Ragunan memberikan kemudahan, sangat diluar perkiraan selama ini,” jelas Aditiya.</p>
<p>Lantas kemana saja rute  WTM I di Ragunan ini?<br />
Peserta datang sendiri-sendiri menuju Ragunan dan berkumpul di pintu utama, dekat halte Trans Jakarta. Kira-kira jam 07.30 mereka berangkat menuju pos pertama. Yaitu kandang ular.<br />
“Di sini, ada SIOUX, komunitas pencinta ular yang membantu menjelaskan perihal ular. Selama ini ular dianggap menakutkan, padahal ular juga menjadi penyeimbang alam, terutama untuk hama tikus,”  jelas pria berambut gondrong ini.</p>
<p>Dari kandang ular, peserta WTM, melanjutkan perjalanannya ke kandang burung.  Ada permainan ular tangga ukuran 4 x 4 meter yang dimainkan peserta di sana.  Plus beberapa quiz yang jawabannya bisa ditemukan di kandang burung. Selepas dari kandang burung, peserta yang dibagi menjadi 10 kelompok ini,  diajak melihat orangutan di rumah Ulrike von Mengden. Dari rumah orangutan,  peserta WTM membuat mainan tradisional dari daun kelapa, yaitu keris. Dan bermain  galah asin, untuk semua tim. Seru!</p>
<p>Lalu apalagi yang dilakukan pesertanya? Di pos terakhir, tepatnya di lapangan sebelah Pus<a href="http://matoa.org/wp-content/uploads/2009/06/WTM_8.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-1465" title="WTM_8" src="http://matoa.org/wp-content/uploads/2009/06/WTM_8.jpg" alt="WTM_8" width="307" height="206" /></a>at Primata Schmutzer,  masing-masing kelompok melukis tong sampah.   Tong-tong sampah dari drum sudah disipakan panitia, berjejer di lapangan rumput. Juga kaleng-kaleng cat berwarna biru, merah dan kuning  serta kuas.</p>
<p>Setiap kelompok dengan asyiknya, melukis tong sampah bekas drum yang sudah diberi cat dasar berwarna putih.  Ada jugaa yang mengganti  cat dasarnya  dengan warna kuning, baru membuat sketsa gambar binatang.  Kelompok lain ada yang  langsung menyapukan kuasnya ke atas tong sampah. Sekelompok anak-anak kecil yang ditemani oleh pendampingnya, Rangga , terlihat tak sabar  dan ribut ingin segera menyapukan kuasnya ke atas tong sampah.</p>
<p>Kaleng-kaleng cat pun segera dibuka dan dicampur dengan warna-warna yang tersedia. Tetesan cat tumpah ke atas rumput. Sayang,  tidak disediakan alas untuk kaleng-kaleng cat itu, sehingga mengotori rumput di Ragunan.</p>
<p>Jalan-jalan ala Wiken Tanpa Ke Mall, relatif murah biayanya. Keliling di Ragunan, kemarin, biayanya Rp. 75.000,-/orang. Dewasa dan anak-anak sama harganya.  Mereka dapat kaos, snack pagi dan makan siang.  Banyak hal yang bermanfaat bisa dibawa pulang peserta.  Ya, sesuai dengan tujuan Wiken Tanpa Ke Mall, bahwa liburan tidak harus ke mall, tapi harus ada nilai pendidikannya. Seperti permainan tradisional  dan melukis  tong sampah  tadi. Hasilnya mereka sumbangkan ke Ragunan.</p>
<p>Lantas kemana acara Wiken Tanpa Ke Mall berikutnya?  Kata Aditia masih rahasia, mungkin saja ke musium. Kalau tidak mau ketinggalan acara  Wiken Tanpa Ke Mall, coba klik :      http://wikentanpakemall.multiply.com. Kemana liburan weekend Anda kali ini? Ingat! Tidak harus ke mall!!!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://matoa.org/komunitas-wiken-tanpa-ke-mall/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bu Titi dan Perpustakaan Pelita Desa</title>
		<link>http://matoa.org/bu-titi-dan-perpustakaan-pelita-desa/</link>
		<comments>http://matoa.org/bu-titi-dan-perpustakaan-pelita-desa/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Jun 2009 05:00:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Irma Dana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dari Sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Kejora]]></category>
		<category><![CDATA[Pelita Desa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://matoa.org/?p=1428</guid>
		<description><![CDATA[“ Perpustakaan  adalah jendela dunia. Waktu kecil, mainan gak ada. Adanya perpustakaan, itu pun sangat minim. Sewanya…ya… 10 centlah."]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://matoa.org/wp-content/uploads/2009/06/Pelita-Desa2.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-1440" title="Pelita Desa" src="http://matoa.org/wp-content/uploads/2009/06/Pelita-Desa2.jpg" alt="Pelita Desa" width="260" height="194" /></a>Pertama kali mengunjungi perpustakaan Pelita Desa di Sindangbarang Loji, Bogor,  ada Siti di meja resepsionis sedang mencatat. Tak lama kemudian, muncul anak-anak kecil memasuki ruangan perpustakaan. Setelah dipersilahkan duduk oleh Siti, akhirnya bertemu dengan Lukman dan Agus. Kedua lelaki ini, setiap hari Sabtu, dengan sukarela membantu perpustakaan Pelita Desa.</p>
<p>Ternyata, Lukman adalah teman saya saat SMP, sekarang kerja di LIPI. Setelah basa-basi ngobrol dengan Lukman dan Agus, saya diajak ke lantai dua perpustkaan. Ada beberapa meja dan kursi belajar. Juga papan tulis. Sementara anak-anak perempuan yang tadi datang sedang asyik menggambar dan membaca buku.  Di lantai dua, ada sebuah ruangan yang terkunci.<br />
“ ini ruang kerja Bu Titi, biasanya kalau datang, Bu Titi  kerja di sini,” jelas Lukman.</p>
<p>Puas melihat-lihat di lantai dua,  kami turun ke ruang perpustakaan. Di lantai satu ini, berdiri rak-rak buku. Mata pun mengintip setiap rak, secara sepintas. Ada buku cerita anak-anak, novel remaja, dan  buku-buku hasil penelitian Prof. Dr. Setijati Sastrapradja alias Bu  Titi panggilan akrabnya.</p>
<p><a href="http://matoa.org/wp-content/uploads/2009/06/Pelita-Desa12.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-1441" title="Pelita Desa1" src="http://matoa.org/wp-content/uploads/2009/06/Pelita-Desa12.jpg" alt="Pelita Desa1" width="311" height="204" /></a>Ya! Bu Titi dan perpustakaan Pelita Desa  sangat erat hubungannya. Keduanya tak  bisa dipisahkan. Setelah beberapa kali bertemu dengannya, saya putuskan untuk berkunjung ke Pelita Desa. Perpustakaan umum  yang dibuka sejak tahun 2003, saat Didin  S. Sastrapradja, suaminya ulang tahun ke -70, setiap Sabtu ramai dikunjungi anak-anak sekitar Desa Loji, Bogor.  Buku-buku yang ada di Pelita Desa  ada yang dibeli oleh Bu Titi, juga sumbangan dari  orang lain.</p>
<p>“ Perpustakaan  adalah jendela dunia. Waktu kecil, mainan gak ada. Adanya perpustakaan, itu pun sangat minim. Sewanya…ya… 10 centlah. Sering tukeran sama teman. Jadi bayarnya cuma satu. Tapi bisa baca buku gantian,”  Bu Titi bercerita tentang  kegemarannya membaca buku saat kecil dulu.</p>
<p>Sejak masih bekerja di LIPI, Bu Titi selalu menyisihkan uang untuk perpustakaan Pelita Desa.  Sekarang, perpustakaan yang Ia dirikan ini sudah menjadi milik desa. Sayangnya, untuk perawatan buku dan kesejahteraan karyawannya belum bisa sepenuhnya dibantu desa. Bantuan yang diberikan untuk Pelita Desa baru sebatas buku-buku pelajaran saja.</p>
<p><a href="http://matoa.org/wp-content/uploads/2009/06/Pelita-Desa-2.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-1434" title="Pelita Desa 2" src="http://matoa.org/wp-content/uploads/2009/06/Pelita-Desa-2.jpg" alt="Pelita Desa 2" width="309" height="231" /></a>Menariknya lagi, anak-anak yang sering datang ke Pelita Desa  dan berprestasi di akhir tahun pelajaran akan mendapatkan hadiah dari Bu Titi, berupa celengan dan uang. Tapi, sebelumnya si anak juga harus mengisi celengan yang disediakan oleh Bu Titi. Apabila celengannya penuh, dan anak itu berprestasi, Bu Titi akan memberikan hadiah uang yang sama jumlahnya dengan yang ada di celengan.</p>
<p>Sayangnya, aturan  main dari Bu Titi seringkali dirusak oleh kebutuhan rumah tangga orangtua anak-anak itu.</p>
<p>“ pernah suatu kali Irma….ada ibu dari anak itu, datang ke Ibu. Dia mau minta uang dari celengan anaknya untuk beli magic jar. Ya sudah, kalau satu orang sudah begitu….yang lain ngikut,” cerita Bu Titi.</p>
<p>Saat ini Bu Titi sudah pensiun dari LIPI. Tapi kecintaan dan kepeduliannya terhadap anak-anak dan dunia membaca patut diacungi jempol. Disela-sela kesibukannya mengajar mahasiswa S2 dan merawat Pak Didin, Bu Titi masih terus menulis cerita untuk bulletin KEJORA yang saat ini diterbitkan oleh MATOA. Cerita dalam KEJORA sangat menarik dan  mengajak anak-anak untuk cinta  pada  tanah air serta kekayaan alam Indonesia.</p>
<p>Kalau Anda ingin memberikan  bacaan yang menarik bagi anak-anak Anda di rumah, taman bacaan, panti asuhan, jangan ragu untuk berlanggaanan KEJORA. Silahkan kirim email ke kejora@matoa.org. Dengan berlangganan KEJORA, Anda ikut mencerdaskan anak-anak Indonesia.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://matoa.org/bu-titi-dan-perpustakaan-pelita-desa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sekelumit Cerita Tentang Katak Pohon</title>
		<link>http://matoa.org/sekelumit-cerita-tentang-katak-pohon/</link>
		<comments>http://matoa.org/sekelumit-cerita-tentang-katak-pohon/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 May 2009 10:46:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Irma Dana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dari Sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Info Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[herpetologi]]></category>
		<category><![CDATA[katak pohon]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://matoa.org/?p=1374</guid>
		<description><![CDATA[“ Begitu netes langsung jadi katak kecil. Jadi tidak semua yang diajarkan di SD bener semua.” Tegas Mirza.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://matoa.org/wp-content/uploads/2009/05/katak-pohon.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-1375" title="katak-pohon" src="http://matoa.org/wp-content/uploads/2009/05/katak-pohon.jpg" alt="katak-pohon" width="335" height="251" /></a>Katak pohon biasanya berwarna kecoklatan. Menjelang malam biasanya akan terlihat diantara pepohonan atau tiba-tiba loncat dan  menempel di dinding kamar mandi. Beruntung, tanggal 14 Mei 2009 kemaren, PEKA Indonesia mengadakan seminar kecil dengan judul “ Sekelumit Cerita Katak Pohon” oleh Mirza D. Kusrini.</p>
<p>Topik dalam seminar ini berdasarkan penelitian mahasiswa Mirza D. Kusrini di Institut Pertanian Bogor [IPB]. Bahwa Indonesia, memiliki 408 jenis amphibi dan 102 jenis katak pohon. Lantas siapa saja katak pohon? Yaitu katak yang menghabiskan sebagian besar hidupnya di pohon.  Dengan ciri-ciri memiliki disk pada jari tangan dan kaki yang berkembang dengan baik. Memiliki selaput jari.</p>
<p>“Jadi cirinya ada pentolan atau selaput jarinya. Katak pohon lucu bentuknya. Loncat-loncat, matanya belo jadi popular di ekspor juga,”  Jelas Bu Miki begitu panggilan akrabnya.</p>
<p>Katak pohon yang banyak diekspor biasanya diambil dari Papua. Quotanya bisa mencapai 10.000 ribu ekor pertahun. Saat ini ada 60 jenis katak pohon yang bisa diekspor. Salah satu eksportinya ada di Parung.</p>
<p>Mirza D. Kusrini juga  menjelaskan, jenis-jenis katak pohon di Jawa, antara lain: Javan Tree Frog, Green Flying-Grog, Gold Striped Tree Frog, Wine-Coloured Tree Forg, Jacobson Tree Frog, Striped Tree Frog, File-eared Tree Frog dan Katak pohon mutiara belum ada nama Inggrisnya.</p>
<p>Banyak hal menarik yang dijelaskan Mirza D. Kusrini tentang katak pohon. Seperti anakan dari Gold Striped Tree Forg, dimana katak pohon ini tidak bermetamorphosis alias tidak mempunyai berudu.</p>
<p>“ Begitu netes langsung jadi katak kecil. Jadi tidak semua yang diajarkan di SD bener semua.” Tegas Mirza.</p>
<p>Seminar hanya dihadiri  10 orang saja, tapi cerita tentang katak semakin menarik. Apalagi cerita saat katak pohon akan kawin. Biasanya katak jantan akan bernyanyi mencari perhatian betina. Begitu betina sudah menentukan pilihan, dia memegang peranan. Terjadilah komunikasi visual.</p>
<p>“Betinanya akan menggendong jantan, loncat-loncat, bisa sangat jauh sekali. Mencari tempat yang nyaman untuk mengeluarkan telurnya.  Bisa 5 – 12 jam lamanya, katak pembuahannya diluar. “ Bu Mirza terus bercerita.</p>
<p>Selama ini orang berpikir  katak harus bertelor di dalam air. Ternyata tidak, di arboretum  IPB, katak pohon itu bertelur di antara daun-daun, biasanya telur-telurnya akan jatuh ke dalam parit. Jadi cukup aman untuk telur katak pohon yang memang membutuhkan air.</p>
<p>Ada dua tipe sarang katak pohon, ada yang bertelur di daun dan ada yang bertelur di tanah. Sekali bertelur biasanya hamper 30 butir. Tidak semuanya menetes, mungkin setengahnya saja.</p>
<p>Katak pohon sangat tergantung dengan musim. Kampus IPB termasuk beriklim bagus untuk katak pohon. Jadi bisa diketahui kapan musim kawin. Sementara di Bedogol, Lido hampir setiap saat bertelur, tidak tergantung musim dan banyak sungai. Intinya tergantung dengan curah hujan.</p>
<p>Dan nyatanya katak pohon tidak selalu berwarna kecoklatan, ada juga yang berwarna hijau dan kekuningan. Apalagi di Amerika Selatan,warnanya cantik-cantik.</p>
<p>“warnanya tuh cantik, menyala, menandakan katak itu beracun. Dan memang kataknya beracun,” tambah Bu Mirza.</p>
<p>Ingin tahu lebih banyak tentang katak pohon? Silahkan gabung di mailinglistnya: forum_herpetologi_indonesia@yahoogroups.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://matoa.org/sekelumit-cerita-tentang-katak-pohon/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lahan Gambut Naik Daun</title>
		<link>http://matoa.org/lahan-gambut-naik-daun/</link>
		<comments>http://matoa.org/lahan-gambut-naik-daun/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Apr 2009 07:09:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Irma Dana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dari Sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Info Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Lahan Gambut]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://matoa.org/?p=1324</guid>
		<description><![CDATA[Greenpeace tidak anti sawit, tapi Greenpeace anti pembabatan lahan gambut. Apa yang Greenpeace lakukan hanya mengangkat fakta-fakta yang masyarakat tidak tahu.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Lahan gambut dulu tidak diperhatikan, sekarang lahan gambut menj<a href="http://matoa.org/wp-content/uploads/2009/04/festival_orang-gambut_foto.jpg"><img class="size-full wp-image-1325 alignright" title="festival_orang-gambut_foto" src="http://matoa.org/wp-content/uploads/2009/04/festival_orang-gambut_foto.jpg" alt="festival_orang-gambut_foto" width="318" height="251" /></a>adi idola banyak kalangan, dari pemerintah, LSM hingga pengusaha. Catatan Greenpeace, total gambut di Indonesia ada 42 juta hektar alias 10 persen dari total gambut dunia.</p>
<p>Bustar Maitar, Senior Forest Campaigner Greenpeace juga menjelaskan bahwa lahan gambut di Indonesia mempunya fungsi ekologis bagi 800 jenis, 71 family dan 237 genus. Lahan gambut merupakan habitatnya orangutan juga pemijahan ikan, dan udang. Gambut juga penting untuk penyeimbang iklim.</p>
<p>“Penghancur utama gambut adalah ekspansi sawit dan HTI,”  ucap Bustar di depan peserta Seminar Festival Orang Rawa-Gambut Se-Indonesia, 22 April 2009 lalu di Hotel Salak, Bogor.</p>
<p>Lantas apa sih kerugian apabila lahan gambut hancur?<br />
Indonesia akan mengekspor asap tahunan ke wilayah Asia Tenggara, terutama Singapura dan Malaysia. Selain itu melepas emisi.</p>
<p>“Greenpeace ingin menahan kenaikan iklim sampai 2 derajat Celsius, kalau sampai naik 2 derajat berarti kehancuran,” tegas Bustar mengenai  penghancuran lahan gambut ini.</p>
<p>Selain mengungkapkan kerugian serta Nampak yang kritis apabila hutan gambut beralih fungsi menjadi perkebunan sawit dan HTI. Greenpeace mengemukakan tuntuannya  agar dilakukan:</p>
<p>1.	Penghentian sementara konversi hutan di Indonesia<br />
2.	Perlindungan total untuk kawasan gambut di Indonesia<br />
3.	Deforestasi NOL di tahun 2020</p>
<p>Bustar juga menambahkan, bahwa banyak sekali konflik kebijaksanaan  dan banyak kepentingan yang harus diakomodir oleh pemerintah. Karena itu,  Greenpeace mengajukan moratorium dan  penghentian sementara konversi hutan tadi.</p>
<p>“Greenpeace tidak anti sawit, tapi Greenpeace anti pembabatan lahan gambut. Apa yang Greenpeace lakukan hanya mengangkat fakta-fakta yang masyarakat tidak tahu.”</p>
<p>Intinya, lahan gambut sekarang berubah, selama ini dianggap kawasan tidak bernilai, rendah alias tidak ada nilai moneter maupun sosial. Naik daunnya lahan gambut karena isu perubahan iklim. Disampaikan Farah Sofa, dari Kemitraan Pada penutupan seminar.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://matoa.org/lahan-gambut-naik-daun/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengamati Orang Utan</title>
		<link>http://matoa.org/mengamati-orang-utan/</link>
		<comments>http://matoa.org/mengamati-orang-utan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 24 Apr 2009 00:00:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>budi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dari Sahabat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://matoa.org/?p=1235</guid>
		<description><![CDATA[Setiap orang utan jantan memiliki wilayah jelajah tertentu,  tidak ada dua ekor orang utan jantan terlihat di areal yang sama]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&lt;<a href="http://matoa.org/2009/04/perjalanan-panjang-dari-hawai-dan-kara-karaan/" target="_blank" class="broken_link">cerita awal</a>&gt; <a href="http://matoa.org/2009/04/suaka-alam-tanjung-puting/" class="broken_link">&lt;cerita sebelumnya&gt;</a></p>
<div id="attachment_1310" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://matoa.org/wp-content/uploads/2009/04/ou.jpg"><img class="size-full wp-image-1310" title="ou" src="http://matoa.org/wp-content/uploads/2009/04/ou.jpg" alt="© Alain Compost" width="300" height="200" /></a><p class="wp-caption-text">© Alain Compost</p></div>
<p>Hutan di Tanjung Puting temasuk hutan tropis basah, yang di antaranya berupa hutan kerangas. Pagi-pagi setelah kami sarapan, kami bergegas menyelusuri jalan setapak memasuki hutan untuk melihat orang utan di kehidupan liarnya. Permukaan tanahnya basah, penuh dedaunan kering. Di beberapa tempat terpaksa dipasang papan-papan untuk menghindarkan kaki tenggelam dalam lumpur bercampur serasah itu. Kami juga harus menghindari batang-batang rotan berduri yang menggelantung di jalanan. Setelah berjalan beberapa lama, kami sampai di tempat agak terbuka. Bohap, penunjuk jalan kami, memberitahu bahwa di sinilah orang-orang utan liar bisa kami lihat. Dengan sabar kami menunggu setiap gerak yang terjadi di atas pepohonan tinggi yang tumbuh di situ.</p>
<p class="MsoNormal"><span>Mata kami semua tertuju kepada satu titik tempat seekor orang utan besar yang sedang berayun. Tidak lama kemudian kami melihat seekor orang utan yang menggendong anaknya. Menurut Bohap, penunjuk jalan kami, setiap orang utan jantan memiliki wilayah jelajah tertentu. Secara ini tidak ada dua ekor orang utan jantan terlihat di areal yang sama. Di pohon di depan kami tampak seekor orang utan jantan dan seekor betina yang menggendong anaknya. Bagi saya tidak jelas, apalagi dari kejauhan, beda antara yang jantan dan yang betina. Lalu Bohap menunjukkan ranting-ranting dan dedaunan yang teronggok di salah satu dahan. Onggokan batang dan daun itu adalah sarang mereka. Entah benar entah tidak informasi itu, yang jelas kami semua terpesona oleh keterangan Bohap.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Ketika matahari sudah condong ke barat, kami pun bergegas menuju kamp kembali. Segera saja saya ingat akan nasi dan sarden kalengan yang siap menyambut kami. Sangat tidak menarik. Saya ingin segera mencapai kamp. Baju saya basah, karena udara sangat lembab. Saya juga merasakan gatal-gatal di kaki, paha dan betis saya. Sesampai saya di kamp, segera saya buka sepatu dan kaus kaki saya. Hampir saja saya menjerit melihat beberapa lintah jatuh bersama kaus kaki saya. Saya melompat ke kamar. Saya tanggalkan celana panjang saya, karena saya takut ada lintah yang merambat ke atas. Betul juga. Paha dan betis saya mengeluarkan darah cair gara-gara lintah yang lapar. Saya berteriak minta tembakau ke Effendi Sumardja untuk menghentikan aliran darah itu. Effendi tertawa terbahak-bahak seraya berkata bahwa yang menggigit saya pasti lintah jantan. Ada-ada saja.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>&lt;bersambung&gt;</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://matoa.org/mengamati-orang-utan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Suaka Alam Tanjung Puting</title>
		<link>http://matoa.org/suaka-alam-tanjung-puting/</link>
		<comments>http://matoa.org/suaka-alam-tanjung-puting/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 23 Apr 2009 00:00:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>budi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dari Sahabat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://matoa.org/?p=1232</guid>
		<description><![CDATA[Kami tunduk pada aturan, meskipun di antara kami ada pak Loekito, pimpinan tertinggi dari seluruh persuakaalaman Indonesia.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&lt;<a href="http://matoa.org/2009/04/perjalanan-panjang-dari-hawai-dan-kara-karaan/" class="broken_link">cerita awal</a>&gt; &lt;<a href="http://matoa.org/2009/04/pertama-di-kalimantan/" class="broken_link">cerita sebelumnya</a>&gt;</p>
<p><!--StartFragment--></p>
<div class="Section1">
<p class="MsoNormal"><span><a href="http://matoa.org/wp-content/uploads/2009/04/tanjungputing.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-1291" title="tanjungputing" src="http://matoa.org/wp-content/uploads/2009/04/tanjungputing.jpg" alt="tanjungputing" width="301" height="198" /></a>Lain lagi ketika saya mengunjungi Suaka Alam Tanjung Puting di Kalimantan Tengah. Saya diajak ke sana oleh Direktur PPA (Pusat Pengawetan Alam), pak Loekito Darjadi. Di Suaka Alam itu tinggal Berute Galdikas, seorang Amerika ahli orang utan. Sudah lama saya ingin mengunjungi Tanjung Puting, yang tercantum di peta dunia pelestarian alam. Jadi tanpa keraguan sedikitpun saya iyakan ajakan pak Loekito. Kami naik kapal terbang perusahaan De Raya dari Semarang ke Pangkalan Boen. Pak Effendi Soemardja, salah seorang staf pak Loekito, terbang bersama kami. Meskipun jarak antara Semarang dan Pangkalan Boen tidak jauh, rasanya kami terbang lama sekali. Bunyi mesin kapal terbang itu sangat berisik, sehingga kami tidak bisa bercakap-cakap walaupun duduk berdekatan. Ciapan anak-anak ayam yang diangkut bersama kami ke Balikpapan menambah riuhnya bunyi mesin yang mengganggu pendengaran kami. Agaknya anak-anak ayam ini merasa ketidaknyamanan seperti yang kami alami.</span></p>
</div>
<div class="Section2">
<p class="MsoNormal"><span>Sesampai kami di Pangkalan Boen, sebuah jip telah menunggu kami untuk membawa kami ke kantor Kehutanan setempat dan Suaka Alam Tanjung Puting. Sebuah jembatan kayu kecil menghubungkan pelataran tempat Berute dan para asistennya bermukim dan jalan tempat jip diparkir. Begitu kami meniti jembatan kayu itu, begitu kami disambut oleh orang-orang utan yang dipelihara Berute sebelum dilepaskannya kembali ke hutan alami. Nama yang diberikan kepada orang-orang utan itu adalah nama-nama orang terkenal Jakarta yang pernah mengunjungi Tanjung Puting. Kami semua tertawa mendengar Berute memanggil orang utan itu satu per satu dengan nama-nama yang kami kenal. Bukan tidak mungkin setelah kunjungan kami, nama Loekito Darjadi akan diabadikan Berute di salah satu orang utan peliharaannya. Suatu cara unik untuk menghormati mereka yang terkenal. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Kami menginap di salah satu rumah dekat rumah Berute. Tiap hari yang kami makan tidak lebih dari ikan sarden kalengan dan nasi. Tiga kali sehari makan sarden tentu saja sangat membosankan. Tetapi tidak ada seorang pun yang berani mengeluh. Saya melihat banyak ikan gabus berseliweran di parit di sisi rumah Berute. Alangkah nikmatnya bila ikan gabus goreng segar terhidang di hadapan kami sebagai pengganti ikan sarden itu. Tetapi, ikan gabus goreng itu tentunya hanya ada dalam lamunan, karena di suaka alam semua hewan dan tumbuhan dilindungi. Kami tunduk pada aturan, meskipun di antara kami ada pak Loekito, pimpinan tertinggi dari seluruh persuakaalaman Indonesia. </span></p>
<p class="MsoNormal"><a href="http://matoa.org/2009/04/mengamati-orang-utan/" class="broken_link"><span>&lt;bersambung&gt;</span></a></p>
<p>Catatan redaksi :</p>
<p>Tulisan ini merupakan bagian catatan perjalanan Setijati D Sastrapradja dari buku Bintang Beralih, sebagai sumber inspirasi sepanjang masa.</p></div>
<p><!--EndFragment--></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://matoa.org/suaka-alam-tanjung-puting/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pertama di Kalimantan</title>
		<link>http://matoa.org/pertama-di-kalimantan/</link>
		<comments>http://matoa.org/pertama-di-kalimantan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 Apr 2009 00:00:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>budi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dari Sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Balikpapan]]></category>
		<category><![CDATA[kalimantan]]></category>
		<category><![CDATA[Kuswata]]></category>
		<category><![CDATA[Mulawarman]]></category>
		<category><![CDATA[Samarinda]]></category>
		<category><![CDATA[Setiajati]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://matoa.org/?p=1226</guid>
		<description><![CDATA[Kisah pertama kali menginjak bumi Kalimantan]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&lt;<a href="http://matoa.org/2009/04/perjalanan-panjang-dari-hawai-dan-kara-karaan/" target="_blank" class="broken_link">cerita awal</a>&gt; <a href="http://matoa.org/2009/04/menjaga-martabat-lembaga-pemerintah/" class="broken_link">&lt;cerita sebelumnya&gt;</a></p>
<p><!--StartFragment--></p>
<div class="Section1">
<p class="MsoNormal">
<div id="attachment_1279" class="wp-caption alignleft" style="width: 260px"><img class="size-full wp-image-1279" title="pesawat" src="http://matoa.org/wp-content/uploads/2009/04/pesawat.jpg" alt="© TN Kayan Mentarang" width="250" height="250" /><p class="wp-caption-text">© TN Kayan Mentarang</p></div>
<p>Kalimantan memberikan kenangan tersendiri. Bagi kami yang bekerja di bidang biologi, Kalimantan Timur merupakan salah satu tempat tujuan untuk mengumpulkan contoh-contoh. Itulah sebabnya ketika Kuswata mengajak saya berkunjung ke Universitas Mulawarman, tanpa berpikir dua kali saya mengiyakannya. Balikpapan adalah kota pertama tempat saya menginjakkan kaki di Kalimantan Timur. Untuk ke Samarinda, tempat kampus Universitas Mulawarman, Kuswata mengatakan bahwa kita hanya dapat mencapainya dari Balikpapan dengan perahu ketinting, menyusuri sungai Mahakam. Saya tidak bisa membayangkan apa ketinting itu dan berapa lama kami harus berperahu. Sementara kami mengambil barang-barang bawaan kami, ada seseorang yang mendekati Kuswata dan menawarinya terbang ke Samarinda dengan pesawat empat penumpang.</p>
<p class="MsoNormal">
<div id="attachment_1281" class="wp-caption alignleft" style="width: 260px"><img class="size-full wp-image-1281" title="ketinting2" src="http://matoa.org/wp-content/uploads/2009/04/ketinting2.jpg" alt="© TN Kayan Mentarang" width="250" height="250" /><p class="wp-caption-text">© TN Kayan Mentarang</p></div>
<p>Tawar-menawar harga pun berlangsung dan berakhir dengan kami berdua bersama pilot dan co-pilotnya terbang ke Samarinda. Masalah timbul ketika waktu mendarat datang. Rupa-rupanya baik pilot mau pun co-pilot belum mengenal medan di Samarinda. Rasanya lama menunggu pembicaraan antara pilot dengan entah siapa yang memandu pilot untuk mendarat. Begitu pilot melihat menara mesjid, kapal terbang menyusuri celah di antara rumah-rumah penduduk dan berakhir dengan pendaratan di lapangan terbuka.</p></div>
<p class="MsoNormal">
<p>Masalah lain segera saja menyusul. Kuswata mengeluarkan barang-barang kami dari badan kapal terbang. Tidak tampak kendaraan umum yang bisa kami tumpangi ke kota, kecuali sebuah mobil pemadam kebakaran. Tidak mungkinlah bagi kami menggotong barang-barang kami keluar lapangan, karena selain berat, juga kami tidak bisa memperkirakan berapa jarak yang harus kami tempuh sebelum kami sampai ke jalan umum. Kuswata tidak kekurangan akal. Dia mencoba mencari supir pemadam kebakaran dengan harapan bahwa pak Supir mau memberikan kita tumpangan ke jalan besar. Supir itu tidak pernah diketemukannya. Kuswata tetap optimis dan yakin kami akan sampai ke kampus tanpa harus berjalan kaki. Benar juga dugaannya. Kami melihat sebuah jip berplat merah datang, entah mengantar atau menjemput seseorang. Secepat kilat Kuswata mendekati jip tersebut. Hasilnya dia tertawa lebar sambil mengangkat barang-barang kami ke jip. Singkat kata kami diantar sampai ke rumah pak Rektor, pak Sambas. Jip itu adalah jip Universitas Mulawarman.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><a href="http://matoa.org/2009/04/suaka-alam-tanjung-puting/" class="broken_link"><span>&lt;bersambung&gt;</span></a></p>
<p>Catatan redaksi :</p>
<p>Tulisan ini merupakan bagian catatan perjalanan Setijati D Sastrapradja dari buku Bintang Beralih, sebagai sumber inspirasi sepanjang masa.</p>
<p><!--EndFragment--></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://matoa.org/pertama-di-kalimantan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menjaga Martabat Lembaga Pemerintah</title>
		<link>http://matoa.org/menjaga-martabat-lembaga-pemerintah/</link>
		<comments>http://matoa.org/menjaga-martabat-lembaga-pemerintah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Apr 2009 00:00:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>budi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dari Sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Leuser]]></category>
		<category><![CDATA[sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Setijati D. Sastrapradja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://matoa.org/?p=1221</guid>
		<description><![CDATA[Akhirnya usulan saya diterima dan mereka harus meninggalkan tempat enam bulan sesudah pemberitahuan resmi dari pemerintah ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://matoa.org/2009/04/perjalanan-panjang-dari-hawai-dan-kara-karaan/" class="broken_link"></a></p>
<div id="attachment_1250" class="wp-caption aligncenter" style="width: 450px"><a><img class="size-full wp-image-1250" title="leuser" src="http://matoa.org/wp-content/uploads/2009/04/leuser.jpg" alt="© www.gunung-leuser-trek.net" width="440" height="329" /></a><p class="wp-caption-text">© www.gunung-leuser-trek.net</p></div>
<p><a href="http://matoa.org/2009/04/perjalanan-panjang-dari-hawai-dan-kara-karaan/" class="broken_link">&lt;cerita awal&gt;</a> <a href="http://matoa.org/2009/04/di-hutan-dataran-rendah-way-kambas/" class="broken_link">&lt;cerita sebelumnya&gt;</a></p>
<p><!--StartFragment--></p>
<div class="Section1">
<p class="MsoNormal">Sudah sejak jaman Belanda pelestarian kawasan alami untuk melindungi jenis-jenis tumbuhan atau hewan menjadi perhatian pemerintah. Sumatera Utara memiliki kawasan pelestarian yang sangat luas, yang merupakan sebagian dari Leuser. Banyak orang-orang asing yang berminat untuk tinggal di sana dan meneliti berbagai tumbuhan dan hewan liar, karena keadaan di situ masih relatif utuh. Mereka harus memperoleh ijin tinggal sebagai peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Tangan kanan LIPI dalam pemberian ijin penelitian ini adalah Lembaga Biologi Nasional, yang pada waktu itu saya pimpin.</p>
</div>
<p class="MsoNormal"><span>Sepasang suami isteri muda dari Eropa menetap beberapa lama di kawasan pelestarian itu setelah memperoleh ijin dari LIPI dan Kehutanan. Pihak Kehutanan bahkan memberi hak kepada mereka untuk mengelola pondok tamunya. Sayang, pemberian hak itu diinterpretasikan mereka sebagai pemberian kekuasaan penuh sebagaimana halnya seorang penguasa kawasan. Dengan pengertian seperti itu, semua peneliti yang datang ke kawasan harus memperoleh ijin mereka, meskipun LIPI atau pihak Kehutanan telah melengkapi mereka dengan ijin yang diperlukan. Saya tidak mengetahui hal ini sampai salah satu staf lembaga yang harus bekerja di sana ditolak mereka dengan alasan mereka tidak diberitahu sebelumnya. Saya menjadi naik pitam membaca surat penolakan mereka dan langsung mengusulkan kepada pemerintah agar ijin tinggal mereka dicabut. Tentu saja mereka juga tidak tinggal diam. Mereka memperoleh dukungan dari beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat yang mengatakan bahwa penelitian mereka sangat dibutuhkan Indonesia. Tidak kurang dari Menteri Negara Lingkungan Hidup memanggil saya untuk memberi penjelasan atas surat usulan saya. Saya tetap pada pendirian saya, karena saya pikir martabat lembaga pemerintah yang saya pertaruhkan. Akhirnya usulan saya diterima dan mereka harus meninggalkan tempat enam bulan sesudah pemberitahuan resmi dari pemerintah. Saya merasa lega karena kewibawaan lembaga pemerintah dapat saya pertahankan, meskipun nama saya di lingkup internasional menjadi tidak baik. </span></p>
<p class="MsoNormal">
<p><a href="http://matoa.org/2009/04/pertama-di-kalimantan/" class="broken_link">&lt;bersambung&gt;</a></p>
<p>Catatan redaksi :</p>
<p>Tulisan ini merupakan bagian catatan perjalanan Setijati D Sastrapradja dari buku Bintang Beralih, sebagai sumber inspirasi sepanjang masa.</p>
<p><!--EndFragment--></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://matoa.org/menjaga-martabat-lembaga-pemerintah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
