<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>MATOA &#187; Info Lingkungan</title>
	<atom:link href="http://matoa.org/category/info-lingkungan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://matoa.org</link>
	<description>Green Magz</description>
	<lastBuildDate>Mon, 14 May 2012 08:48:35 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=</generator>
		<item>
		<title>Listrik dan Karbon Dioksida Digunakan untuk Menghasilkan Alternatif Bahan Bakar</title>
		<link>http://matoa.org/listrik-dan-karbon-dioksida-digunakan-untuk-menghasilkan-alternatif-bahan-bakar/</link>
		<comments>http://matoa.org/listrik-dan-karbon-dioksida-digunakan-untuk-menghasilkan-alternatif-bahan-bakar/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 May 2012 07:33:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matoa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[alternatif bahan bakar]]></category>
		<category><![CDATA[Alternatif Energi]]></category>
		<category><![CDATA[alternatif sumber bahan bakar]]></category>
		<category><![CDATA[bahan bakar]]></category>
		<category><![CDATA[karbondioksida]]></category>
		<category><![CDATA[listrik]]></category>
		<category><![CDATA[listrik dan karbondioksida hasilkan bahan bakar]]></category>
		<category><![CDATA[sumber bahan bakar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://matoa.org/?p=7574</guid>
		<description><![CDATA[Peneliti dari UCLA Henry Samueli School of Engineering and Applied Science pertama kali demonstrasikan metode konversi karbon diokisda menjadi bahan bakar cair isobutanol menggunakan listrik.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://matoa.org/wp-content/uploads/2012/05/listrik.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-7575" title="listrik" src="http://matoa.org/wp-content/uploads/2012/05/listrik.jpg" alt="" width="200" height="267" /></a>Penggunaan bahan bakar minyak (BBM) sudah mulai dibatasi. Kita membutuhkan alternatif energi untuk menggantikan BBM tersebut. Peneliti dari <em>UCLA Henry Samueli School of Engineering and Applied Science</em> merupakan pertama kali yang mendemonstrasikan metode mengkonversi karbon diokisda menjadi bahan bakar cair isobutanol menggunakan listrik.<span id="more-7574"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Dalam penelitian yang diterbitkan pada 30 Maret di jurnal <em>science</em>, James Liao, <em>UCLA Ralph M. Parsons Foundation Chair in Chemical Engineering</em>, dan laporan timnya mengenai metode untuk penyimpanan energi listrik sebagai energi kimia dalam alkohol yang lebih tinggi, sehingga bisa digunakan sebagai bahan bakar cair transportasi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Arus menyimpan listrik menggunakan bateri ion litium dengan kepadatan yang rendah, namun jika disimpan pada bentuk bahan bakar cair, densitasnya bisa menjadi lebih tinggi,” kata Liao “Sebagai tambahan, kami memiliki potensi untuk menggunakan listrik sebagai bahan bakar transportasi tanpa membutuhkan perubahan infrastruktur arus,”</p>
<p style="text-align: justify;">Liao dan timnya me-rekayasa genetika <em>lithoautotrophic microorganism</em> yang dikenal sebagai <em>Ralstonia eutropha H16</em> untuk menghasilkan isobutanol dan 3-methyl-1-butanol dalam bioreaktor-elektro menggunakan karbon dioksida sebagai satu-satunya sumber karbon dan listrik sebagai satu-satunya input energi.</p>
<p style="text-align: justify;">Fotosintesis merupakan konversi energi cahaya menjadi energi kimia dan menyimpannya menjadi gula. Terdapat dua bagian dalam fotosintesis (reaksi terang dan reaksi gelap). Reaksi terang mengkonversi energi cahaya menjadi energi kimia dan harus terjadi di tempat yang terang. Sedangkan reaksi gelap, yang mengkonversi karbon dioksida menjadi gula, tidak membutuhkan cahaya untuk terjadi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Kami telah mampu memisahkan reaksi terang dari reaksi gelap dan daripada menggunakan fotosintesis biologis, kami menggunakan panel solar untuk mengkonversi cahaya matahari menjadi energi listrik, dan menjadi zat kimia <em>intermediate</em>, dan menggunakannya untuk memberi tenaga kepada fiksasi karbon dioksida untuk menghasilkan bahan bakar tersebut,” kata Liao “Metode ini lebih efisien dibanding sistem biologis,”</p>
<p style="text-align: justify;">Liao menjelaskan bahwa dengan sistem biologis, tanaman membutuhkan area yang luas. Bagaimanapun, karena metode Liao tidak membutuhkan reaksi terang dan gelap yang terjadi bersamaan, solar panel contohnya, dapat dibangun di padang pasir maupun atap rumah.</p>
<p style="text-align: justify;">Torinya, hidrogen dihasilkan oleh listrik solar yang mampu mengkonversi karbon dioksida dalam merekayasa <em>lithoautrophic microorganisms</em> menjadi bahan bakar cair sintesis dengan densitas energi yang tinggi. Namun kelarutan yang rendah, tingkat transfer massa yang rendah, dan isu keselamatan di sekitar efisiensi membatasi hidrogen dan proses skalabilitas.</p>
<p style="text-align: justify;">“Malahan tim Liao menemukan asam semut sebagai perantara,” kata Liao. “Kami menggunakan listrik untuk menghasilkan asam semut dan menggunakannya untuk memberi tenaga fiksasi karbon dioksida dalam bakteri dalam gelap untuk menghasilkan isobutanol dan alkohol yang lebih tinggi,”</p>
<p style="text-align: justify;">Produksi <em>electrochemical formate</em> dan fiksasi biologis CO<sub>2</sub> dan alkohol sintesis yang lebih tinggi membuka kemungkinan bio-konversi listrik dari CO<sub>2</sub> menjadi beragam zat kimia. Sebagai tambahan, transformasi formate menjadi bahan bakar cair akan memegang peranan penting dalam proses kilang minyak biomassa. Hal ini telah didemonstrasikan, selanjutnya skala akan lebih diperbesar.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Sumber: sciencedaily.com</p>
<p style="text-align: justify;">Sumber gambar: semi-yanto.blogspot.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://matoa.org/listrik-dan-karbon-dioksida-digunakan-untuk-menghasilkan-alternatif-bahan-bakar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Awan Membersihkan Polusi Udara</title>
		<link>http://matoa.org/awan-membersihkan-polusi-udara/</link>
		<comments>http://matoa.org/awan-membersihkan-polusi-udara/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 May 2012 04:35:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matoa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[awan]]></category>
		<category><![CDATA[awan di pagi hari]]></category>
		<category><![CDATA[awan radiasi]]></category>
		<category><![CDATA[awan radiasi membersihkan polusi udara]]></category>
		<category><![CDATA[keuntungan awan radiasi]]></category>
		<category><![CDATA[memnersihkan polusi udara]]></category>
		<category><![CDATA[Polusi udara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://matoa.org/?p=7545</guid>
		<description><![CDATA[Tetesan-tetesan air di dalam awan pagi merupakan ukuran yang tepat untuk mengumpulkan dan mengikat partikel polusi udara yang mengapung di udara.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://matoa.org/wp-content/uploads/2012/05/awan-radiasi.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-7546" title="awan radiasi" src="http://matoa.org/wp-content/uploads/2012/05/awan-radiasi.jpg" alt="" width="300" height="193" /></a>Kabut pagi menghilangkan partikel udara yang berbahaya bagi kesehatan pernafasan manusia. Tetesan-tetesan air di dalam awan pagi merupakan ukuran yang tepat untuk mengumpulkan dan mengikat partikel polusi udara yang mengapung di udara. Setelah awan kembali ke tanah, awan membawa partikel polusi udara bersamanya.<span id="more-7545"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Awan pagi yang mampu membuat pemandangan menjadi lebih redup ternyata dapat membersihkan langit yang mengandung banyak polusi.</p>
<p style="text-align: justify;">Menurut ahli kimia atmosfer, Jeffrey Collett, Jr dari <em>Colorado State University </em>di Fort Collins, dalam kasus di mana banyak menemukan awan yang mengikat polusi udara dan tetesan-tetesan awan didepositkan ke tanah, polutan-polutan tersebut ikut serta dalam tetesan-tetesan ke dalam tanah.</p>
<p style="text-align: justify;">Beragam awan muncul di wilayah tertentu. Namun, jenis awan yang bertanggung jawab terhadap pembersihan polusi udara disebut awan radiasi. Awan radiasi biasanya terjadi pada pagi hari. Awan radiasi terbentuk ketika atmosfer dalam keadaan stabil dan langit bersih dan tanah cenderung memancarkan panas ke langgit.</p>
<p style="text-align: justify;">Awan radiasi mampu menciptakan partikel udara yang baru, namun juga membersihkan udara dengan menyerap partikel polusi udara.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada malam hari, panas dari tanah memancar ke luar angkasa, meninggalkan udara dingin di atas tanah. Setelah udara mencapai suhu spesifik, pembentukan tetesan-tetesan air mengelilingi partikel polusi dan menciptakan awan radiasi. Ketika matahari terbit, tetesan-tetesan air terevaporasi, membersihkan partikel-partikel dari udara, dan meninggalkan kotor dan debu di tanah.</p>
<p style="text-align: justify;">Collet mengatakan, awan-awan tersebut menghilangkan partikel-partikel udara yang bermasalah terutama penderita sakit pernafasan. Jumlah polusi udara yang mampu dibersihkan awan radiasi tergantung dari ukuran partikel polusi dan ukuran tetesan air yang ada di dalam awan.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Sumber: sciencedaily.com</p>
<p style="text-align: justify;">Sumber gambar: chitambo.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://matoa.org/awan-membersihkan-polusi-udara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cara Cacing Tanah Menyuburkan Tanah</title>
		<link>http://matoa.org/cara-cacing-tanah-menyuburkan-tanah/</link>
		<comments>http://matoa.org/cara-cacing-tanah-menyuburkan-tanah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 May 2012 07:45:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matoa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[cacing]]></category>
		<category><![CDATA[cacing menyuburkan tanah]]></category>
		<category><![CDATA[cacing tanah]]></category>
		<category><![CDATA[kesuburan tanah]]></category>
		<category><![CDATA[manfaat cacing tanah]]></category>
		<category><![CDATA[tanah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://matoa.org/?p=7538</guid>
		<description><![CDATA[cacing tanah memiliki manfaat yang sangat besar bagi tanah.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://matoa.org/wp-content/uploads/2012/05/cacing-tanah1.gif"><img class="alignleft  wp-image-7539" title="cacing tanah" src="http://matoa.org/wp-content/uploads/2012/05/cacing-tanah1.gif" alt="" width="320" height="240" /></a>Siapa yang tidak mengenal cacing tanah. Hewan kecil melata yang banyak ditemukan di tanah ini sering dianggap menjijikan. Namun, di balik tubuhnya yang kecil dan banyak mengeluarkan lendir, cacing tanah memiliki manfaat yang sangat besar bagi tanah.<span id="more-7538"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Salah satu manfaat yang sangat besar bagi lingkungan dan pertanian adalah menyuburkan tanah dengan memperbaiki struktur tanah menjadi lebih gembur, meningkatkan penyimpanan air tanah, dan menyediakan bahan-bahan organik di tanah.</p>
<p style="text-align: justify;">Penggemburan tanah yang dilakukan cacing melalui lubang-lubang (jalan) yang dibuat oleh cacing. Cacing tanah membuat lubang dengan mendesak atau memakan butiran-butiran kecil tanah, sehingga memperbaiki aerasi dan drainase dalam tanah. Dengan adanya lubang-lubang tersebut, tanah menjadi lebih gembur.</p>
<p style="text-align: justify;">Selain membuat tanah menjadi lebih gembur, lubang jalan yang dibuat cacing bermanfaat juga untuk.konservasi air tanah. Menurut seorang ahli tanah, cacing tanah mampu menggali tanah hingga kedalaman 1 meter. Hal tersebut sangat bermanfaat dalam penyerapan air. Penyerapan air dalam jumlah banyak akan memperkecil banjir dan erosi yang terjadi ketika hujan besar melanda.</p>
<p style="text-align: justify;">Cacing mengkonsumsi tanah dan bahan-bahan organik lainnya sehingga menghasilkan produk buangan (kotoran). Kotoran cacing bermanfaat bagi kesuburan tanah karena mengandung unsur hara N, P, dan K, sehingga memperkaya kandungan mineral dalam tanah. Kotoran cacing tersebut berupa bentuk nutrisi yang mudah dimanfaatkan tanaman. Namun, produksi alami kotoran cacing tanah bergantung pada spesies, musim, dan kondisi populasi yang sehat.</p>
<p style="text-align: justify;">Selain itu, cacing mampu membantu mengomposkan sampah organik rumah tangga (<a title="Vermikompos: Pengomposan dengan Bantuan Cacing" href="http://matoa.org/vermikompos-pengomposan-dengan-bantuan-cacing/">klik di sini</a>).</p>
<p style="text-align: justify;">Ternyata di balik bentuknya yang sederhana cacing tanah memiliki andil besar dalam konservasi tanah dan air. Jadi, jika menemukan cacing tanah langsung diletakan di tanah agar cacing dapat hidup dan langsung bermanfaat bagi tanah.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Salam sahabat hijau</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Sumber: <a href="http://modernjumb.blogspot.com/">modernjumb.blogspot.com</a></p>
<p style="text-align: justify;">Sumber: iptek.net.id</p>
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://matoa.org/cara-cacing-tanah-menyuburkan-tanah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gambut dan Fungsinya bagi Lingkungan</title>
		<link>http://matoa.org/gambut-dan-fungsinya-bagi-lingkungan/</link>
		<comments>http://matoa.org/gambut-dan-fungsinya-bagi-lingkungan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Apr 2012 08:03:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matoa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[emisi karbon]]></category>
		<category><![CDATA[fungsi gambut]]></category>
		<category><![CDATA[fungsi gambut bagi lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Lahan Gambut]]></category>
		<category><![CDATA[lahan gambut dan fungsinya]]></category>
		<category><![CDATA[penambat karbon]]></category>
		<category><![CDATA[pentingnya gambut bagi lingkungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://matoa.org/?p=7494</guid>
		<description><![CDATA[Semakin tebal gambut, semakin penting fungsinya dalam memberikan perlindungan terhadap lingkungan.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://matoa.org/wp-content/uploads/2012/04/gambut1.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-7495" title="gambut" src="http://matoa.org/wp-content/uploads/2012/04/gambut1.jpg" alt="" width="330" height="260" /></a>Lahan gambut memiliki karakteristik kimia dan fisik yang unik. Karakteristik tersebut berhubungan dengan kontribusi gambut dalam menjaga kestabilan lingkungan.<span id="more-7494"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Lahan yang meliputi 3% dari luas daratan di seluruh dunia ini mampu menyimpan 550 Gigaton C atau setara dengan 30% karbon tanah, 75% dari seluruh karbon di atmosfer. Lahan gambut menyimpan karbon pada biomassa tanaman, serasah di bawah hutan gambut, lapisan gambut dan lapisan tanah mineral di bawah gambut. Penyimpanan-penyimpanan tersebut menyebabkan lahan gambut dan biomassa tanaman menyimpan karbon dalam jumlah tertinggi.</p>
<p style="text-align: justify;">Hutan rawa gambut Indonesia rata-rata menyimpan sekitar 2.650 ton karbon per hektar, jika diakumulasi total karbon yang ditampung sekitar 46 giga ton. Pada biomassa di atas tanah karbon yang dimiliki adalah 120 – 150 ton karbon/ha, ditambah yang terkandung di bawah tanah sekitar 2.500 ton karbon/ ha.</p>
<p style="text-align: justify;">Gas Rumah Kaca (GRK) utama yang keluar dari lahan gambut adalah CO<sub>2</sub>, CH<sub>4</sub>, dan NO<sub>2</sub>. Konversi hutan dan pengelolaan lahan gambut, merubah fungsi lahan gambut dari penambat karbon menjadi sumber emisi GRK. Emisi metana cukup signifikan pada lahan hutan gambut yang tergenang atau yang muka air tanahnya dangkal (&lt; 40 cm).</p>
<p style="text-align: justify;">Fungsi lingkungan lahan gambut terganggu akibat beberapa aktivitas manusia seperti penebangan hutan gambut, pembakaran hutan gambut, dan drainase untuk berbagai tujuan.</p>
<p style="text-align: justify;">Biomassa tanaman pada hutan lahan basah menyimpan sekitar 200 ton C per hektar. Karbon yang tersimpan akan hilang dengan cepat apabila hutan ditebang. Penebangan yang diikuti dengan pembakaran mempercepat proses emisi dari biomassa hutan gambut.</p>
<p style="text-align: justify;">Biomassa tanaman hutan gambut yang terbakar mengakibatkan lapisan gambut bagian atas berada dalam kondisi kering. Lapisan gambut ini akan rentan terbakar jika muka air tanah lebih dalam dari 30 cm. Kekeringan yang ekstrim dapat menyebabkan kebakaran yang dapat mencapai ketebalan 50 cm. Sehingga, bara api pada lahan gambut dapat bertahan hingga berminggu-minggu. Diperkirakan kedalaman lahan gambut yang terbakar dalam keadaan normal pada pembukaan lahan sekitar 15 cm. Jika dikalkulasikan lapisan gambut akan teremisi sebanyak 275 ton CO<sub>2</sub> per hektar.</p>
<p style="text-align: justify;">Ekosistem gambut merupakan penyangga hidrologi dan cadangan karbon yang sangat penting bagi lingkungan hidup. Sayangnya, belum banyak yang mengetahui pentingnya kelestarian lahan gambut. Terbukti semakin menyusutnya kawasan gambut di Indonesia, tercatat luas lahan gambut pada tahun 1952 sekitar 51.360 ha, sedangkan di tahun 1992 menyusut menjadi 9.600 ha (Sarwani dan Widjaja-Adhi, 1994).</p>
<p style="text-align: justify;">Semakin tebal gambut, semakin penting fungsinya dalam memberikan perlindungan terhadap lingkungan. Terutama fungsinya dalam memitigasi perubahan iklim dan mengurangi pemanasan global.</p>
<p style="text-align: justify;">Bayangkan dunia ini jika keberadaan lahan gambut semakin sedikit, apakah kita bisa bertahan dari perubahan iklim dan pemanasan global?</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Sumber: Lahan Gambut: Potensi untuk Pertanian dan Aspek Lingkungan. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 2008 dan bkprn.org</p>
<p style="text-align: justify;">Sumber gambar: bkprn.org</p>
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://matoa.org/gambut-dan-fungsinya-bagi-lingkungan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lestari Lahan Gambut, Lestari Air</title>
		<link>http://matoa.org/lestari-lahan-gambut-lestari-air/</link>
		<comments>http://matoa.org/lestari-lahan-gambut-lestari-air/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Apr 2012 07:54:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matoa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[fungsi gambut]]></category>
		<category><![CDATA[gambut]]></category>
		<category><![CDATA[konservasi air]]></category>
		<category><![CDATA[konservasi gambut]]></category>
		<category><![CDATA[Lahan Gambut]]></category>
		<category><![CDATA[lestari gambut lestari air]]></category>
		<category><![CDATA[lestarikan lahan gambut]]></category>
		<category><![CDATA[pelestarian lahan gambut]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://matoa.org/?p=7490</guid>
		<description><![CDATA[Lahan gambut mampu menyerap air hingga 13 kali bobotnya. ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://matoa.org/wp-content/uploads/2012/04/gambut.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-7491" title="gambut" src="http://matoa.org/wp-content/uploads/2012/04/gambut.jpg" alt="" width="330" height="260" /></a>Tidak banyak yang tahu “mengapa upaya konservasi harus dilakukan di lahan gambut?”. Sekilas lahan gambut merupakan daerah rawa-rawa yang selalu tergenang air dan tidak bisa dijadikan sebagai lahan pertanian.<span id="more-7490"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Lahan gambut adalah lahan yang memiliki lapisan tanah kaya bahan organik C (karbon &gt; 18%) dengan ketebalan 50 cm atau lebih. Bahan organik tersebut didapat dari sisa-sisa tanaman yang belum melapuk sempurna karena kondisi lingkungan yang jenuh air dan miskin hara. Timbunan terus bertambah karena proses dekomposisi terhambat oleh kondisi anaerob dan/atau kondisi lingkungan lainnya yang menyebabkan rendahnya tingkat perkembangan biota pengurai.</p>
<p style="text-align: justify;">Tanah gambut umumnya memiliki kesuburan yang rendah (pH rendah), ketersediaan unsure hara makro dan mikro yang rendah, mengandung asam-asam organic yang beracun, dan memiliki Kapasitas Tukar Kation (KTK) yang tinggi namun Kejenuhan Basa (KB) yang rendah. Gambut di Indonesia tergolong jenis gambut mesotrofik (gambut yang agak subur karena memiliki kandungan mineral dan basa-basa sedang) dan oligotrofik (gambut yang tidak subur karena miskin mineral dan basa-basa).</p>
<p style="text-align: justify;">Lahan gambut memiliki banyak manfaat, di antaranya adalah mencegah banjir di musim hujan, mencegah kekeringan di musim kemarau, dan habitat bagi kehidupan berbagai satwa. Kadar air tanah gambut berkisar antara 100 – 1.300% dari berat kering. Sehingga gambut mampu menyerap air hingga 13 kali bobotnya. Namun, jika kandungan airnya menurun secara berlebihan akan mengakibatkan kondisi kering tak balik. Jika terjadi kondisi yang demikian, lahan gambut akan sulit menyerap air kembali.</p>
<p style="text-align: justify;">Gambut memiliki daya penyaluran air secara horizontal (mendatar) yang cepat sehingga memacu pencucian unsur-unsur hara ke saluran drainase. Sebaliknya, gambut memiliki daya penyaluran air vertikal (ke atas) yang sangat lambat. Hal tersebut mengakibatkan lapisan atas gambut sering mengalami kekeringan, walau lapisan bawahnya basah.</p>
<p style="text-align: justify;">Gambut yang telah mengalami kekeringan, bobotnya akan sangat ringan sehingga mudah hanyut terbawa air hujan, strukturnya mudah lepas seperti pasir, mudah terbakar, dan sulit ditanami kembali.</p>
<p style="text-align: justify;">Kebakaran di lahan gambut sangat sulit dipadamkan karena dapat menembus ke bawah permukaan tanah. Pada permukaan, bara api yang dikira sudah padam, masih tersimpan di dalam tanah dan menjalar ke tempat-tempat sekitar lahan gambut. Jika demikian, bara api yang telah merambat tersebut akan sulit dipadamkan, bisa dipadamkan dengan air hujan yang lebat.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Sumber: Lahan Gambut: Potensi untuk Pertanian dan Aspek Lingkungan. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 2008 dan indo-peat.net</p>
<p style="text-align: justify;">Sumber gambar: bkprn.org</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://matoa.org/lestari-lahan-gambut-lestari-air/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pohon dan Rumput: Lebih Efektif Menjebak Karbon dan Bioenergi</title>
		<link>http://matoa.org/pohon-dan-rumput-lebih-efektif-menjebak-karbon-dan-bioenergi/</link>
		<comments>http://matoa.org/pohon-dan-rumput-lebih-efektif-menjebak-karbon-dan-bioenergi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Apr 2012 10:11:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matoa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[emisi karbon]]></category>
		<category><![CDATA[menjebak karbon lebih efektif]]></category>
		<category><![CDATA[penjebak karbon paling efektif]]></category>
		<category><![CDATA[pohon]]></category>
		<category><![CDATA[pohon dan rumput menjebak karbon lebih efektif]]></category>
		<category><![CDATA[rumput]]></category>
		<category><![CDATA[rumput dan pohon]]></category>
		<category><![CDATA[stok karbon]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://matoa.org/?p=7484</guid>
		<description><![CDATA[Pohon dan rumput keduanya dapat digunakan untuk menghasilkan energi terbarukan dan menjebak karbon dalam tanah pada jangka waktu yang panjang.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://matoa.org/wp-content/uploads/2012/04/rumput.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-7485" title="rumput" src="http://matoa.org/wp-content/uploads/2012/04/rumput.jpg" alt="" width="384" height="256" /></a>Penelitian yang menghabiskan £ 1,1 juta menginvestigasi bagaimana belukar pohon dan rumput keduanya dapat digunakan untuk menghasilkan energi terbarukan dan menjebak karbon dalam tanah pada jangka waktu yang panjang.<span id="more-7484"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Penelitian yang dipimpin oleh Profesor Gail Taylor. Pakar tanaman dan lingkungan dari <em>University of Southampton</em>, sebuah tim ilmuwan dari Inggris akan melacak jalan karbon yang ditangkap oleh tanaman dan rumput melalui proses fotosintesis, mengalir melalui tanaman ke tanah yang dihuni oleh mikroorganisme sebelum terkunci menjadi bahan organik dalam tanah di mana tanaman tersebut tumbuh.</p>
<p style="text-align: justify;">Tim tersebut juga akan membandingkan proses tersebut dengan tanaman pangan seperti gandum dan akan menguji gagasan bahwa tanaman “bioenergy” lebih baik dalam merangsang retensi karbon tanah jangka panjang.</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak seperti tanaman pangan yang dipanen setelah beberapa bulan, pohon dan rumput dapat menghabiskan beberapa dekade untuk tumbuh sebelum dipanen dan melepaskan karbon dioksida yang terjebak, membuat proses tersebut lebih efektif.</p>
<p style="text-align: justify;">“Para ilmuwan kini percaya bahwa karbon diokisda merupakan gas rumah kaca yang penting dan penyebab mayor perubahan iklim, sehingga sangat penting jika bisa mengembangkan cara-cara menghilangkan karbon dioksida dari atmosfer,” kata Prof. Gail Taylor dari <em>The University’s School of Biological Sciences.</em></p>
<p style="text-align: justify;">“Menggunakan pohon dan rumput merupakan cara yang efisien dan efektif untuk mengurangi kadar CO<sub>2</sub> dari atmosfer, sementara menyediakan sumber energi dan pengaturan emisi karbon dioksida dari bahan bakar fosil. Penelitian kami telah menunjukkan bahwa hasil produk bioenergi berpotensi mengurangi emisi karbon beberapa juta ton di Inggris pada dekade yang akan datang,”</p>
<p style="text-align: justify;">Peta “<em>Carbon Opportunity</em>” akan dikembangkan untuk mengidentifikasi area optimum pada negara-negara yang mana hasil pertanian bioenergi dapat dikembangkan secara efektif. Hasil pertanian tersebut kemudian dapat dibakar bersama batu bara di pembangkit listrik untuk menghasilkan listrik, menghasilkan emisi karbon dioksida lebih sedikit dibanding dari bahan bakar fosil, atau yang digunakan dalam sistem pemanasan.</p>
<p style="text-align: justify;">“Di masa depan, hasil pertanian bioenergi bisa dijadikan bahan bakar cair seperti bioetanol, untuk menghindari konflik antara makanan dan bahan bakar ketika hasil pertanian digunakan untuk tujuan ini,” tambah Prof. Taylor</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Sumber: sciencedaily.com</p>
<p style="text-align: justify;">Sumber gambar: terasimaji.blogspot.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://matoa.org/pohon-dan-rumput-lebih-efektif-menjebak-karbon-dan-bioenergi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sumber-Sumber Metana</title>
		<link>http://matoa.org/sumber-sumber-metana/</link>
		<comments>http://matoa.org/sumber-sumber-metana/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Apr 2012 09:00:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matoa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[efek metana]]></category>
		<category><![CDATA[efek metana bagi lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[metana]]></category>
		<category><![CDATA[pemanasan global]]></category>
		<category><![CDATA[peternakan dan metana]]></category>
		<category><![CDATA[sumber metana]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://matoa.org/?p=7464</guid>
		<description><![CDATA[Gas metana berbahaya bagi lingkungan karena 23 kali lebih berbahaya dari gas karbon dioksida...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://matoa.org/wp-content/uploads/2012/04/46629048_methane_gas2_466in.gif"><img class="alignleft  wp-image-7468" title="_46629048_methane_gas2_466in" src="http://matoa.org/wp-content/uploads/2012/04/46629048_methane_gas2_466in.gif" alt="" width="326" height="196" /></a>Salah satu penyumbang polusi dan meningkatnya efek pemanasan global di dunia adalah metana. Metana merupakan gas yang terbentuk karena adanya ikatan kovalen antara empat H dengan satu atom C. Gas yang merupakan alkana ini bersifat mudah mengalami pembakaran sempurna dengan oksigen dan menghasilkan gas karbon dioksida (CO<sub>2</sub>) dan uap air (H<sub>2</sub>O).<span id="more-7464"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Metana merupakan alkana yang mudah ditemukan di kotoran hewan (sapi, kambing, domba, babi, dan unggas). Gas metana berbahaya bagi lingkungan karena 23 kali lebih berbahaya dari gas karbon dioksida. Sehingga, jika dibiarkan bebas atau jumlahnya bertambah, efek gas metana akan sangat besar terhadap pemanasan global.</p>
<p style="text-align: justify;">Selain dari kotoran hewan, gas metana terkandung dalam gas elpiji, lahan gambut, Danau Baikal (terletak di bagian barat Siberia) dengan luas daerah seluas Perancis dan Jerman yang beku oleh es abadi mengandung 70 miliar ton metana hidrat, serta daerah antartika mengandung sekitar 70 miliar ton hidrat.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam laporan PBB (FAO) mencatat industri peternakan menghasilkan emisi gas rumah kaca paling tinggi (18%). Jumlah ini lebih tinggi dibanding dengan emisi GRK yang dihasilkan transportasi (13%). Hal ini kemudian yang membuat banyak kalangan menghentikan konsumsi daging.</p>
<p style="text-align: justify;">Berdasarkan penelitian yang dilakukan, untuk memelihara sampai menghasilkan sepotong daging sapi, domba, atau babi sama besar dengan energi yang dibutuhkan untuk menyalakan lampu 100 watt selama 3 minggu. Satu kilogram daging sapi menyumbang 36,4 kg karbon dioksida, sehingga emisi seekor sapi selama setahun sama dengan mengendarai kendaraan selama 70.000 km.</p>
<p style="text-align: justify;">Selain cukup berpengaruh dalam pemanasan global, gas metana berpengaruh juga dalam perkembangan energi alternatif. Gas metana bersifat mudah terbakar jika bercampur dengan oksigen. jika diolah dengan tepat dan benar, gas metana mampu menjadi alternatif energi pengganti gas alam.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat ini sudah banyak dilakukan penelitian dalam mengimplementasikan kotoran hewan untuk dijadikan biogas. Namun, implementasi <em>real </em>dalam masyarakat belum berkembang cukup jauh. Sehingga, ketergantungan akan energi belum bisa dikurangi secara signifikan.</p>
<p style="text-align: justify;">Saatnya kita mulai mencermati hal-hal kecil yang bisa dilakukan untuk menghambat pemanasan global pada bumi.</p>
<p style="text-align: justify;">Sumber: jejaringkimia.blogspot.com dan alpensteel.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://matoa.org/sumber-sumber-metana/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Polusi di Indonesia dan Efeknya</title>
		<link>http://matoa.org/polusi-di-indonesia-dan-efeknya/</link>
		<comments>http://matoa.org/polusi-di-indonesia-dan-efeknya/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Apr 2012 04:12:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matoa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[kota berpolusi]]></category>
		<category><![CDATA[kota dengan polusi tertinggi]]></category>
		<category><![CDATA[kota polusi tertinggi]]></category>
		<category><![CDATA[medan]]></category>
		<category><![CDATA[polusi]]></category>
		<category><![CDATA[polusi di indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[polusi di kota-kota indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[polusi tertinggi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://matoa.org/?p=7439</guid>
		<description><![CDATA[Tingkat pencemaran di Indonesia sudah mencapai tahap yang mengkhawatirkan. Terbukti dengan Indonesia pemilik udara terpolusi tertinggi ketiga di dunia...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_7440" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://matoa.org/wp-content/uploads/2012/04/polusi-kota-Medan.jpg"><img class="size-full wp-image-7440" title="polusi kota Medan" src="http://matoa.org/wp-content/uploads/2012/04/polusi-kota-Medan.jpg" alt="" width="300" height="206" /></a><p class="wp-caption-text">Kota Medan</p></div>
<p style="text-align: justify;">Meningkatnya jumlah kendaraan, pabrik, penduduk, dan fasilitas yang menunjang aktivitas manusia membuat tingkat polusi udara di dunia semakin meningkat, tak terkecuali di Indonesia. Tingkat pencemaran di Indonesia sudah mencapai tahap yang mengkhawatirkan. Terbukti dengan Indonesia pemilik udara terpolusi tertinggi ketiga di dunia. Selain itu, menurut <em>World Bank</em>, ibu kota Negara, Jakarta menjadi salah satu kota dengan kadar polutan tertinggi setelah Beijing, New Delhi, dan Mexico City.<span id="more-7439"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Tingkat polusi udara diukur dari kadar partikel dalam udara yang disebut PM10. Batas maksimal PM10 yang direkomendasikan WHO adalah kurang dari 20 mikrogram/ m<sup>3</sup>.</p>
<p style="text-align: justify;">Data WHO memasukkan 5 kota besar di Indonesia dalam pemantauan tingkat polusi udara. Hasil menunjukkan kota Medan merupakan kota dengan tingkat polusi tertinggi di Indonesia dengan kadar PM10 sebesar 111 mikrogram/m<sup>3 </sup>melampaui Surabaya (69 mikrogram/m<sup>3</sup>), Bandung, Jakarta (43 mikrogram/m<sup>3</sup>), dan Pekanbaru (11 mikrogram/m<sup>3</sup>).</p>
<p style="text-align: justify;">Polusi yang tinggi berefek negatif terhadap kesehatan, seperti anemia. Efek negatif bagi anak-anak adalah mengalami gangguan kemampuan berpikir, daya tangkap lambat, dan tingkat IQ rendah. Pada masa pertumbuhan fisik akan berdampak pada gangguan pertumbuhan dan pendengaran. Sedangkan bagi orang dewasa, dampak polusi dapat mempengaruhi sistem reproduksi atau kesuburan, mengganggu fungsi jantung, ginjal, dan menyebabkan penyakit stroke, serta kanker. Setiap tahun, polusi udara menyebabkan 2 juta orang meninggal di seluruh dunia.</p>
<p style="text-align: justify;">Efek negatif pencemaran udara juga berlaku bagi tumbuhan. Tanaman yang tumbuh di daerah dengan tingkat pencemaran udara seperti SO<sub>2</sub> dan NO<sub>2</sub> bereaksi dengan air hujan membentuk asam dan menurunkan hujan asam. Efek air hujan dapat mempengaruhi kualitas air permukaan, merusak tanaman, melarutkan logam-logam berat dan bersifat korosif sehingga merusak material dan bangunan.</p>
<p style="text-align: justify;">Bagi lingkungan, polusi yang semakin meningkat akan berakibat buruk bagi lingkungan. Di antaranya adalah meningkatkan efek rumah kaca yang disebabkan CO<sub>2</sub>, CFC, Metana Ozon, N<sub>2</sub>O dan merusak lapisan ozon yang berfungsi melindungi bumi dari paparan radiasi sinar matahari.</p>
<p style="text-align: justify;">Anda bisa melakukan hal kecil dalam mengurangi efek polusi udara. Anda bisa menaiki transportasi umum ke kantor, menanam pohon sebanyak-banyaknya, dan hemat menggunakan listrik dan energi.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Sumber: green.kompasiana.com, lampungpost.com, matoa.org</p>
<p style="text-align: justify;">Sumber gambar: perambah.wordpress.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://matoa.org/polusi-di-indonesia-dan-efeknya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penelitian Menunjukkan Jejak Karbon yang Disebabkan Sistem Irigasi Cina</title>
		<link>http://matoa.org/penelitian-menunjukkan-jejak-karbon-yang-disebabkan-sistem-irigasi-cina/</link>
		<comments>http://matoa.org/penelitian-menunjukkan-jejak-karbon-yang-disebabkan-sistem-irigasi-cina/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Apr 2012 03:28:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matoa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Cina]]></category>
		<category><![CDATA[efek irigasi]]></category>
		<category><![CDATA[efek negatif pertanian]]></category>
		<category><![CDATA[efek pertanian]]></category>
		<category><![CDATA[irigasi]]></category>
		<category><![CDATA[irigasi pertanian]]></category>
		<category><![CDATA[pertanian]]></category>
		<category><![CDATA[pertanian cina]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://matoa.org/?p=7429</guid>
		<description><![CDATA[Sistem irigasi air tanah Cina bertanggung jawab terhadap polusi atmosfer dengan lebih dari 30 juta ton karbon dioksida per tahun. Hasil ini berdasarkan penelitian dari University of East Anglia.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://matoa.org/wp-content/uploads/2012/04/pertanian-cina.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-7430" title="pertanian cina" src="http://matoa.org/wp-content/uploads/2012/04/pertanian-cina.jpg" alt="" width="275" height="206" /></a>Sistem irigasi air tanah Cina bertanggung jawab terhadap polusi atmosfer dengan lebih dari 30 juta ton karbon dioksida per tahun. Hasil ini berdasarkan penelitian dari <em>University of East Anglia.<span id="more-7429"></span></em></p>
<p style="text-align: justify;">Air tanah digunakan untuk irigasi produk pertanian di Cina dan telah berkembang dari 10 milyar m<sup>3</sup> di tahun 1950 menjadi lebih dari 100 milyar m<sup>3</sup> (saat ini).</p>
<p style="text-align: justify;">Penelitian yang diterbitkan di <em>Environmental Research Letters</em>, memperkirakan bahwa sistem pompa yang didukung jaringan irigasi yang besar sekali menghasilkan 33,1 mega tone karbon dioksida per tahun.</p>
<p style="text-align: justify;">Cina merupakan emiter gas rumah kaca (GRK) terbesar di dunia, dengan sekitar 17 persen emisi yang dari pertanian. Pertanian teririgasi di Cina menghasilkan 70 % butir padi di negaranya. Namun, pertanian tersebut menghabiskan sekitar 500 liter air untuk menumbuh-kembangkan gandum untuk satu papan kecil roti.</p>
<p style="text-align: justify;">Polusi disebabkan oleh jumlah energi yang sangat besar yang dibutuhkan untuk memompa air dari tanah (di beberapa area kedalaman rata-rata 70 m). Penelitian ini merupakan yang pertama menghitung berapa banyak polusi diciptakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Penelitian ini merupakan kolaborasi antara <em>University’s School of International Development, the UEA Water Security Research Centre and the UEA-based Tyndall Centre for Climate Change Research, </em>dengan<em> the Centre for Chinese Agricultural Policy, the Chinese Academy of Agricultural Sciences and Cranfield University.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Tim peneliti menggunakan survey data yang luas yang dikumpulkan dari 366 desa di 11 provinsi. Mereka <em>up-scaled</em> hasil-hasil ini untuk menghitung emisi yang diciptakan oleh jalur pompa air tanah Cina yang bersisa 20 provinsi.</p>
<p style="text-align: justify;">Hasil perhitungan lebih dari 0,5% total emisi Cina. Sebagai perbandingan, perhitungan ini hampir sama dengan total jumlah karbon dioksida yang diemisikan Selandia Baru dalam satu tahun.</p>
<p style="text-align: justify;">Prof. Declan Conway, dari <em>UEA’s school of international Development and the Tyndall Centre</em> mengatakan: “Umumnya, ada jarak yang mengejutkan pada penelitian pengetahuan mengenai energi yang dibutuhkan untuk penggunaan air. Irigasi fundamental untuk keamanan pangan di Cina karena Cina merupakan irrigator terbesar kedua di dunia. Sangat vital untuk mengerti sumber emisi GRK di penggunaan air dalam pertanian untuk merancang dan melaksanakan kebijakan-kebijakan berkelanjutan untuk masa depan,”</p>
<p style="text-align: justify;">Prof. Jinxia Wang dari <em>The Centre for Chinese Agricultural Policy</em> mengatakan: “Peningkatan akses teknologi pemompaan, energi yang murah dan kemampuan untuk mengontrol ketersediaan air telah membawa pengembangan pemompaan air tanah yang besar melewati bagian besar Asia, khususnya di Cina dan India. Skala kecil operasi pompa membuat regulasi dan pengontrolan sangat sulit.”</p>
<p style="text-align: justify;">Sabrina Rothausen dari UEA menambahkan: “Kelangkaan air di Cina telah membuat kebijakan untuk meningkatkan konservasi air, sehingga sangat krusial untuk mengidentifikasi  perdagangan energi-air dan potensi keuntungan bersama. Hasil kami menyarankan bahwa pendekatan kebijakan terintegrasi sangat bisa mempromosikan penyimpanan air dan energi,”</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan pertumbuhan populasi, perubahan iklim, dan transisi sosio-ekonomi, laporan memprediksikan masalan akan lebih buruk, kecuali aksi kebijakan air di Cina lebih ditingkatkan.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Sumber: sciencedaily.com</p>
<p style="text-align: justify;">Sumber foto: marketoracle.co.uk<em></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://matoa.org/penelitian-menunjukkan-jejak-karbon-yang-disebabkan-sistem-irigasi-cina/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Styrofoam Ramah Lingkungan</title>
		<link>http://matoa.org/styrofoam-ramah-lingkungan/</link>
		<comments>http://matoa.org/styrofoam-ramah-lingkungan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Apr 2012 07:14:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matoa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[oxium]]></category>
		<category><![CDATA[oxodegradable polystyrene]]></category>
		<category><![CDATA[styrofoam]]></category>
		<category><![CDATA[styrofoam ramah lingkungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://matoa.org/?p=7347</guid>
		<description><![CDATA[Saat ini Styrofoam terbaru lebih ramah lingkungan karena dapat terurai dalam waktu 4 tahun...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://matoa.org/wp-content/uploads/2012/04/styrofoam.jpg"><img class="alignleft  wp-image-7348" title="styrofoam" src="http://matoa.org/wp-content/uploads/2012/04/styrofoam.jpg" alt="" width="234" height="234" /></a>Styrofoam atau yang biasa digunakan sebagai pembungkus makanan atau busa untuk menghindari benturan pada barang elektronik memang tidak ramah lingkungan. Kelemahan Styrofoam yang banyak diketahui masyarakat adalah sifatnya yang sangat sulit terurai (butuh waktu kira-kira 1000 tahun). Bahan Styrofoam tidak bisa didaur ulang dan diproduksi menggunakan HFC (<em>hydrofluorocarbon</em>) yang dapat menyebabkan kerusakan ozon, serta dapat merugikan kesehatan.<span id="more-7347"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Styrofoam dengan kelemahan-kelemahan yang tidak bisa ditoleransi tersebut merupakan Styrofoam dulu. Saat ini Styrofoam terbaru lebih ramah lingkungan karena dapat terurai dalam waktu 4 tahun. Styrofoam yang disebut Oxodegradable Polystyrene ini merupakan Styrofoam yang diberi tambahan bahan oxium. Sehingga lebih cepat terurai dalam kurin waktu 4 tahun.</p>
<p style="text-align: justify;">Oxium merupakan zat aditif yang ditambahkan ke dalam polystyrene sehingga mempercepat terjadinya degradasi. Proses degradasi menyebabkan penurunan kekuatan tarik sehingga Styrofoam menjadi rapuh, retak, dan menjadi bubuk. Fase terakhir dari proses degradasi akan menghasilkan karbon dioksida, air, dan biomassa yang kemabali ke alam.</p>
<p style="text-align: justify;">Styrofoam jenis ini terbuat dari bahan organik, atom-atom penyusunnya sama dengan beras atau gula (hidrokarbon). Namun, karena mata rantai yang panjang butuh waktu panjang untuk terurai dan bisa dimakan mikroba.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Oxodegradable polystyrene </em>merupakan bahan yang aman digunakan sebagai kemasan masyarakat dan sudah diuji oleh BPOM. Sehingga sudah tidak ada keraguan untuk menggunakan Styrofoam jenis ini.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Calibri, sans-serif;"><br />
</span></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Sumber: berbagai sumber</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Sumber gambar: </em>benzhahaha.blogspot.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://matoa.org/styrofoam-ramah-lingkungan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

