<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>MATOA &#187; Inspirasi</title>
	<atom:link href="http://matoa.org/category/inspirasi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://matoa.org</link>
	<description>Just another WordPress weblog</description>
	<lastBuildDate>Fri, 10 Sep 2010 03:00:26 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Sedekah Pohon &#8211; Beramal dan Menyelamatkan Lingkungan</title>
		<link>http://matoa.org/sedekah-pohon-beramal-dan-menyelamatkan-lingkungan/</link>
		<comments>http://matoa.org/sedekah-pohon-beramal-dan-menyelamatkan-lingkungan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Sep 2010 04:08:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matoa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://matoa.org/?p=2525</guid>
		<description><![CDATA[Bulan Ramadhan adalah bulan bagi kita umat Islam mengumpulkan sebanyak-banyaknya pahala...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://matoa.org/wp-content/uploads/2010/09/tanam-pohon.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-2526" title="tanam-pohon" src="http://matoa.org/wp-content/uploads/2010/09/tanam-pohon.jpg" alt="" width="243" height="235" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Bulan Ramadhan adalah bulan bagi kita umat Islam mengumpulkan sebanyak-banyaknya pahala. Selain dengan beribadah kita juga diwajibkan untuk memperbanyak sedekah. Adapun pengertian sedekah adalah suatu pemberian yang diberikan seseorang kepada orang lain secara spontan dan sukarela tanpa dibatasi oleh waktu dan jumlah tertentu juga semata-mata sebagai bentuk  kebajikan yang mengharapkan pahala dan ridho Tuhan YME.<span id="more-2525"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Sedekah bisa dengan cara bermacam-macam dari hal yang bersifat materil sampai non materil. Hal ini dikarenakan sedekah memiliki arti yang sangat luas, siapa saja bisa bersedekah baik muda-mudi ataupun orang dewasa.</p>
<p style="text-align: justify;">Baru-baru ini salah satu lembaga penyalur sedekah terkenal di Indonesia tengah giat mepromosikan satu program bertemakan penghijauan yang dipadu padankan dengan kegiatan beramal. “Sedekah Pohon”, Ini adalah cara yang efektif dalam mengurangi dampak global warming juga dalam hal pemberdayaan masyarakat kurang mampu  disekitar kita.</p>
<p style="text-align: justify;">Pohon yang dipilih untuk disedekahkan adalah pohon yang bersifat ekonomis, seperti pohon buah atau pohon kayu lainnya yang hasilnya dapat diberdayakan oleh masyarakat kurang mampu.</p>
<p style="text-align: justify;">Kita pun bisa mengelola sendiri kegiatan sedekah pohon, berikut beberapa contoh kegiatan yang bisa dilaksanakan :</p>
<p style="text-align: justify;">1. Sedekah Pohon Di Pesantren.</p>
<p style="text-align: justify;">Target pemberdayaan yang ingin dituju melalui program ini adalah guru, pengajar, dan para santri dari pesantren yang bersangkutan. Salah satu skema yang dapat diterapkan adalah dengan menanam  pohon-pohon tersebut, akan dikelola oleh para guru, pengajar serta para santri, sehingga akhirnya dapat memberdayakan mereka.</p>
<p>2. Sedekah Pohon OLeh Kelompok Hobby.</p>
<p style="text-align: justify;">Kepedulian kelompok-kelompok hobi rupanya tidak  hanya sebatas pada ruang lingkup hobi yang digelutinya saja.kelompok-kelompok hobi juga juga bisa turut ikut andil sebagai bentuk kepedulian terhadap isu-isu kemanusiaan dan sosial yang memenargetkan pada pemberdayaan masyarakat kurang mampu. Program sedekah pohon ini salah satunya dapat dicapai melalui upaya kerjasama antara lembaga dan komunitas penghobi ini dalam melakukan aktivitas sosial bersama.</p>
<p>3. Sedekah Pohon Oleh Para Eksekutif Profesional</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa koorporasi di Indonesiaa telah dengan  sadar menjalankan program Corporate Social Responsibility (CSR). Umumnya, koorporasi-koorporasi tersebut memiliki wilayah target CSR-nya masing-masing. Menjalin kerjasama dengan mereka untuk menanam pohon di lahan-lahan yang berpotensi di wilayah target CSR tersebut adalah ide yang menarik.</p>
<p>4. Sedekah Pohon Untuk Pelajar</p>
<p style="text-align: justify;">Saat ini, banyak sekolah di tingkat menengah maupun lanjut yang memiliki program sosial bagi masyarakat kurang mampu. Peluang kerjasama dengan sekolah-sekolahi ni pun bisa dijajaki untuk program sedekah pohon.</p>
<p>Tidak sulit bukan, mari kita beramai-ramai bersedekah pohon![amd]</p>
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://matoa.org/sedekah-pohon-beramal-dan-menyelamatkan-lingkungan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>TEMPLAST Sampah-Inovasi Ramah Lingkungan</title>
		<link>http://matoa.org/templast-sampah-inovasi-ramah-lingkungan/</link>
		<comments>http://matoa.org/templast-sampah-inovasi-ramah-lingkungan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Jul 2010 08:30:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matoa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://matoa.org/?p=2315</guid>
		<description><![CDATA[Satu lagi inovasi ramah lingkungan yang sederhana ciptaan anak negeri, Bharoto Yekti pencipta TEMPLAST SAMPAH...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://matoa.org/wp-content/uploads/2010/07/templast-sampah.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-2316" title="templast sampah" src="http://matoa.org/wp-content/uploads/2010/07/templast-sampah.jpg" alt="" width="314" height="227" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Templast sampah merupakan karya inovasi anak Indonesia bernama Bharoto Yekti yang memenangkan ajang kontes pada salah satu perusahaan rokok terkenal di Indonesia tahun 2009.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Templast sampah merupakan teknologi yang memanfaatkan kantong bekas belanjaan sebagai kantong sampah dan merupakan  salah satu cara untuk mengurangi jumlah polusi sampah plastik, tetapi selama ini tempat sampah yang ada hanya dapat memanfaatkan 1 ukuran kantong plastik belanjaan.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan hadirnya produk inovatif seperti Templast Sampah, masalah kantong belanja yang tidak terpakai menemukan solusinya. Cukup dengan mengaitkan kantong belanja pada 4 ukuran ring yang ada, semua kantong belanja anda tidak akan terbuang sia-sia  namun bisa digunakan kembali sebagai tempat sampah yang berguna..</p>
<p>Cara ini dapat membantu mengurangi global warming sesuai dengan konsep <em>reduce, reuse </em>dan<em> recycle</em>.</p>
<p>REDUCE: dengan menyimpan semua ukuran kantong plastik bekas belanjaan berarti kita mengurangi jumlah sampah kantong plastik.</p>
<p>REUSE: dengan menggunakan kantong belanjaan bekas sebagai kantong sampah berarti kita memanfaatkan kembali kantong plastik bekas.</p>
<p><em>Sumber: &#8220;Inovasi Anak Negeri&#8221;-Kick Andy- </em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://matoa.org/templast-sampah-inovasi-ramah-lingkungan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Komunitas Wiken Tanpa Ke Mall</title>
		<link>http://matoa.org/komunitas-wiken-tanpa-ke-mall/</link>
		<comments>http://matoa.org/komunitas-wiken-tanpa-ke-mall/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Jun 2009 02:00:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Irma Dana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dari Sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Rekomendasi]]></category>
		<category><![CDATA[Ragunan]]></category>
		<category><![CDATA[Wiken Tanpa Ke Mall]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://matoa.org/?p=1455</guid>
		<description><![CDATA["Siapa pun boleh ikut. Orang kota kadang mengalami kejenuhan, liburan harus ke mall terus, mahal juga beli makannya. “]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://matoa.org/wp-content/uploads/2009/06/WTM_01.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-1456" title="WTM_01" src="http://matoa.org/wp-content/uploads/2009/06/WTM_01.jpg" alt="WTM_01" width="307" height="206" /></a>Ragunan, di hari libur penuh dengan pengunjung yang hendak piknik. Apalagi menjelang akhir tahun ajaran sekolah. Di setiap ruang terbuka Ragunan, nampak anak-anak kecil berseragam taman kanak-kanak [TK] memadati lapangan rumput. Ya, Ragunan juga dijadikan ruang perpisahan atau pembagian buku rapot anak-anak TK di Jabodetabek.</p>
<p>Tak hanya anak-anak TK yang meramaikan Ragunan pada Sabtu, 13 Juni 2009  kemarin. Ada  komunitas pencinta liburan alternatif,  yang menamakan dirinya komunitas Wiken Tanpa Ke Mall [WTM] yang bermain di Ragunan. Nama yang unik dan menggelitik rasa ingin tahu.</p>
<p>Komunitas ini diprakarsai oleh Iwan Esjepe dan Indah Esjepe, pasangan suami istri yang sama-sama menyukai kegiatan alam bebas dan peduli dengan Indonesia.  Dibawah rimbunnya pohon,  sambil duduk di atas tikar bekas banner, Indah Esjepe berbagi cerita tentang WTM ini.</p>
<p>“Awalnya sering ngumpul bareng. Seperti waktu 17 Agustus, kami buat Kemah Merah Putih. Terus, waktu Nopember ada Kemah Pelangi. Kegiatan ini  dibuat  tanpa membedakan SARA. Siapa pun boleh ikut. Orang kota kadang mengalami kejenuhan,  liburan harus ke mall terus, mahal juga beli makannya. “</p>
<p>Kaos kuning, bertuliskan “Jangan Ragu Raguna<a href="http://matoa.org/wp-content/uploads/2009/06/WTM_11.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-1457" title="WTM_11" src="http://matoa.org/wp-content/uploads/2009/06/WTM_11.jpg" alt="WTM_11" width="326" height="219" /></a>n”  dikenakan seluruh peserta WTM sangat pas dengan cuaca  hari itu. Matahari menebarkan sinarnya di Ragunan.   &#8220;Jangan Ragu Ragunan&#8221;  adalah  kegiatan perdana  WTM.</p>
<p>Aditiyayoga, seorang graphic desain,  hari itu didaulat menjadi ketua pelaksana kegiatan. Ia  menjelaskan alasan kenapa Ragunan yang dipilih.</p>
<p>“Ya, dulu orang beranggapan Ragunan itu buruk banget. Ternyata sekarang  fasilitasnya sangat  mendukung.  Ragunan sudah beradab lah…Sudah ada halte-halte, jadi kalo ke ujanan bisa berteduh. Ruang terbukanya juga sudah banyak. Ya, Ragunan memberikan kemudahan, sangat diluar perkiraan selama ini,” jelas Aditiya.</p>
<p>Lantas kemana saja rute  WTM I di Ragunan ini?<br />
Peserta datang sendiri-sendiri menuju Ragunan dan berkumpul di pintu utama, dekat halte Trans Jakarta. Kira-kira jam 07.30 mereka berangkat menuju pos pertama. Yaitu kandang ular.<br />
“Di sini, ada SIOUX, komunitas pencinta ular yang membantu menjelaskan perihal ular. Selama ini ular dianggap menakutkan, padahal ular juga menjadi penyeimbang alam, terutama untuk hama tikus,”  jelas pria berambut gondrong ini.</p>
<p>Dari kandang ular, peserta WTM, melanjutkan perjalanannya ke kandang burung.  Ada permainan ular tangga ukuran 4 x 4 meter yang dimainkan peserta di sana.  Plus beberapa quiz yang jawabannya bisa ditemukan di kandang burung. Selepas dari kandang burung, peserta yang dibagi menjadi 10 kelompok ini,  diajak melihat orangutan di rumah Ulrike von Mengden. Dari rumah orangutan,  peserta WTM membuat mainan tradisional dari daun kelapa, yaitu keris. Dan bermain  galah asin, untuk semua tim. Seru!</p>
<p>Lalu apalagi yang dilakukan pesertanya? Di pos terakhir, tepatnya di lapangan sebelah Pus<a href="http://matoa.org/wp-content/uploads/2009/06/WTM_8.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-1465" title="WTM_8" src="http://matoa.org/wp-content/uploads/2009/06/WTM_8.jpg" alt="WTM_8" width="307" height="206" /></a>at Primata Schmutzer,  masing-masing kelompok melukis tong sampah.   Tong-tong sampah dari drum sudah disipakan panitia, berjejer di lapangan rumput. Juga kaleng-kaleng cat berwarna biru, merah dan kuning  serta kuas.</p>
<p>Setiap kelompok dengan asyiknya, melukis tong sampah bekas drum yang sudah diberi cat dasar berwarna putih.  Ada jugaa yang mengganti  cat dasarnya  dengan warna kuning, baru membuat sketsa gambar binatang.  Kelompok lain ada yang  langsung menyapukan kuasnya ke atas tong sampah. Sekelompok anak-anak kecil yang ditemani oleh pendampingnya, Rangga , terlihat tak sabar  dan ribut ingin segera menyapukan kuasnya ke atas tong sampah.</p>
<p>Kaleng-kaleng cat pun segera dibuka dan dicampur dengan warna-warna yang tersedia. Tetesan cat tumpah ke atas rumput. Sayang,  tidak disediakan alas untuk kaleng-kaleng cat itu, sehingga mengotori rumput di Ragunan.</p>
<p>Jalan-jalan ala Wiken Tanpa Ke Mall, relatif murah biayanya. Keliling di Ragunan, kemarin, biayanya Rp. 75.000,-/orang. Dewasa dan anak-anak sama harganya.  Mereka dapat kaos, snack pagi dan makan siang.  Banyak hal yang bermanfaat bisa dibawa pulang peserta.  Ya, sesuai dengan tujuan Wiken Tanpa Ke Mall, bahwa liburan tidak harus ke mall, tapi harus ada nilai pendidikannya. Seperti permainan tradisional  dan melukis  tong sampah  tadi. Hasilnya mereka sumbangkan ke Ragunan.</p>
<p>Lantas kemana acara Wiken Tanpa Ke Mall berikutnya?  Kata Aditia masih rahasia, mungkin saja ke musium. Kalau tidak mau ketinggalan acara  Wiken Tanpa Ke Mall, coba klik :      http://wikentanpakemall.multiply.com. Kemana liburan weekend Anda kali ini? Ingat! Tidak harus ke mall!!!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://matoa.org/komunitas-wiken-tanpa-ke-mall/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bu Titi dan Perpustakaan Pelita Desa</title>
		<link>http://matoa.org/bu-titi-dan-perpustakaan-pelita-desa/</link>
		<comments>http://matoa.org/bu-titi-dan-perpustakaan-pelita-desa/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Jun 2009 05:00:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Irma Dana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dari Sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Kejora]]></category>
		<category><![CDATA[Pelita Desa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://matoa.org/?p=1428</guid>
		<description><![CDATA[“ Perpustakaan  adalah jendela dunia. Waktu kecil, mainan gak ada. Adanya perpustakaan, itu pun sangat minim. Sewanya…ya… 10 centlah."]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://matoa.org/wp-content/uploads/2009/06/Pelita-Desa2.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-1440" title="Pelita Desa" src="http://matoa.org/wp-content/uploads/2009/06/Pelita-Desa2.jpg" alt="Pelita Desa" width="260" height="194" /></a>Pertama kali mengunjungi perpustakaan Pelita Desa di Sindangbarang Loji, Bogor,  ada Siti di meja resepsionis sedang mencatat. Tak lama kemudian, muncul anak-anak kecil memasuki ruangan perpustakaan. Setelah dipersilahkan duduk oleh Siti, akhirnya bertemu dengan Lukman dan Agus. Kedua lelaki ini, setiap hari Sabtu, dengan sukarela membantu perpustakaan Pelita Desa.</p>
<p>Ternyata, Lukman adalah teman saya saat SMP, sekarang kerja di LIPI. Setelah basa-basi ngobrol dengan Lukman dan Agus, saya diajak ke lantai dua perpustkaan. Ada beberapa meja dan kursi belajar. Juga papan tulis. Sementara anak-anak perempuan yang tadi datang sedang asyik menggambar dan membaca buku.  Di lantai dua, ada sebuah ruangan yang terkunci.<br />
“ ini ruang kerja Bu Titi, biasanya kalau datang, Bu Titi  kerja di sini,” jelas Lukman.</p>
<p>Puas melihat-lihat di lantai dua,  kami turun ke ruang perpustakaan. Di lantai satu ini, berdiri rak-rak buku. Mata pun mengintip setiap rak, secara sepintas. Ada buku cerita anak-anak, novel remaja, dan  buku-buku hasil penelitian Prof. Dr. Setijati Sastrapradja alias Bu  Titi panggilan akrabnya.</p>
<p><a href="http://matoa.org/wp-content/uploads/2009/06/Pelita-Desa12.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-1441" title="Pelita Desa1" src="http://matoa.org/wp-content/uploads/2009/06/Pelita-Desa12.jpg" alt="Pelita Desa1" width="311" height="204" /></a>Ya! Bu Titi dan perpustakaan Pelita Desa  sangat erat hubungannya. Keduanya tak  bisa dipisahkan. Setelah beberapa kali bertemu dengannya, saya putuskan untuk berkunjung ke Pelita Desa. Perpustakaan umum  yang dibuka sejak tahun 2003, saat Didin  S. Sastrapradja, suaminya ulang tahun ke -70, setiap Sabtu ramai dikunjungi anak-anak sekitar Desa Loji, Bogor.  Buku-buku yang ada di Pelita Desa  ada yang dibeli oleh Bu Titi, juga sumbangan dari  orang lain.</p>
<p>“ Perpustakaan  adalah jendela dunia. Waktu kecil, mainan gak ada. Adanya perpustakaan, itu pun sangat minim. Sewanya…ya… 10 centlah. Sering tukeran sama teman. Jadi bayarnya cuma satu. Tapi bisa baca buku gantian,”  Bu Titi bercerita tentang  kegemarannya membaca buku saat kecil dulu.</p>
<p>Sejak masih bekerja di LIPI, Bu Titi selalu menyisihkan uang untuk perpustakaan Pelita Desa.  Sekarang, perpustakaan yang Ia dirikan ini sudah menjadi milik desa. Sayangnya, untuk perawatan buku dan kesejahteraan karyawannya belum bisa sepenuhnya dibantu desa. Bantuan yang diberikan untuk Pelita Desa baru sebatas buku-buku pelajaran saja.</p>
<p><a href="http://matoa.org/wp-content/uploads/2009/06/Pelita-Desa-2.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-1434" title="Pelita Desa 2" src="http://matoa.org/wp-content/uploads/2009/06/Pelita-Desa-2.jpg" alt="Pelita Desa 2" width="309" height="231" /></a>Menariknya lagi, anak-anak yang sering datang ke Pelita Desa  dan berprestasi di akhir tahun pelajaran akan mendapatkan hadiah dari Bu Titi, berupa celengan dan uang. Tapi, sebelumnya si anak juga harus mengisi celengan yang disediakan oleh Bu Titi. Apabila celengannya penuh, dan anak itu berprestasi, Bu Titi akan memberikan hadiah uang yang sama jumlahnya dengan yang ada di celengan.</p>
<p>Sayangnya, aturan  main dari Bu Titi seringkali dirusak oleh kebutuhan rumah tangga orangtua anak-anak itu.</p>
<p>“ pernah suatu kali Irma….ada ibu dari anak itu, datang ke Ibu. Dia mau minta uang dari celengan anaknya untuk beli magic jar. Ya sudah, kalau satu orang sudah begitu….yang lain ngikut,” cerita Bu Titi.</p>
<p>Saat ini Bu Titi sudah pensiun dari LIPI. Tapi kecintaan dan kepeduliannya terhadap anak-anak dan dunia membaca patut diacungi jempol. Disela-sela kesibukannya mengajar mahasiswa S2 dan merawat Pak Didin, Bu Titi masih terus menulis cerita untuk bulletin KEJORA yang saat ini diterbitkan oleh MATOA. Cerita dalam KEJORA sangat menarik dan  mengajak anak-anak untuk cinta  pada  tanah air serta kekayaan alam Indonesia.</p>
<p>Kalau Anda ingin memberikan  bacaan yang menarik bagi anak-anak Anda di rumah, taman bacaan, panti asuhan, jangan ragu untuk berlanggaanan KEJORA. Silahkan kirim email ke kejora@matoa.org. Dengan berlangganan KEJORA, Anda ikut mencerdaskan anak-anak Indonesia.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://matoa.org/bu-titi-dan-perpustakaan-pelita-desa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Unbreak My Earth di Trisakti</title>
		<link>http://matoa.org/unbreak-my-earth-di-trisakti/</link>
		<comments>http://matoa.org/unbreak-my-earth-di-trisakti/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Jun 2009 04:27:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Irma Dana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita MATOA]]></category>
		<category><![CDATA[Info Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Tekhnik Lingkungan Trisakti]]></category>
		<category><![CDATA[Universitas Trisakti]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://matoa.org/?p=1418</guid>
		<description><![CDATA[“Tahun ini kan lagi booming tentang pemanasan global, jadi dikaitkan aja, biar catchty,” jelas Nikela Delfi, Ketua Pelaksana Kegiatan Unbreak My Earth 2009.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://matoa.org/wp-content/uploads/2009/06/dscn1697.jpg"><img class="size-full wp-image-1420 alignright" title="dscn1697" src="http://matoa.org/wp-content/uploads/2009/06/dscn1697.jpg" alt="dscn1697" width="320" height="238" /></a>Unbreak My Earth, tulisan itu  terpampang di dinding gelanggang mahasiswa Universitas Trisakti, Grogol, Jakarta. Bukan sekedar slogan, itulah tema Hari Lingkungan Hidup yang diadakan oleh  Jurusan Tehnik Lingkungan Universitas Trisakti.  Tahun ini sudah kedelapan kalinya mereka menggelar acara serupa di Kampus A, Universitas Trisakti.</p>
<p>Gelanggang mahasiswa yang didominasi warna krem, cukup meriah dengan hiasan yang bertemakan lingkungan. Mulai dari pintu masuk  gelanggang, lantainya penuh dengan  lembaran-lembaran kertas bertuliskan ajakan untuk peduli lingkungan. Saat melewati meja penerima tamu, nampak foto-foto hasil lomba digantung dengan penjepit kertas dan memaksa pengunjung untuk meliriknya.</p>
<p>Kenapa temanya Unbreak My Earth?</p>
<p>“Tahun ini kan lagi booming tentang pemanasan global, jadi dikaitkan aja, biar <em>catchy</em>,” jelas Nikela Delfi, Ketua  Pelaksana Kegiatan Unbreak My Earth 2009.</p>
<p>Selain pameran pada tanggal 5 Juni 2009 lalu, beberapa hari sebelumnya  ada lomba modern dance, lomba majalah dinding bagi SMA dan lomografi yaitu memotret dengan kamera lomo. Dan penanaman pohon di  Situ Gintung. Penanaman pohon dilakukan sebagai wujud kepedulian terhadap bencana yang menimpa Situ Gintung.</p>
<p>Sementara dipojokkan gelanggang ada tong sampah besar untuk membuah sampah yang berbeda jenis, sehingga memudahkan untuk di daur ulang. Mulai dari sampah plastik, sampah kertas dan sampah makanan. Setiap yang membuang sampah ke dalam tong tersebut, panitia memberikan sebuah pulpen.</p>
<p>Bersamaan dengan pameran di gelanggang <a href="http://matoa.org/wp-content/uploads/2009/06/dscn1700.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-1419" title="dscn1700" src="http://matoa.org/wp-content/uploads/2009/06/dscn1700.jpg" alt="dscn1700" width="313" height="234" /></a>mahasiswa, di pelataran parkir ada uji emisi  gratis untuk kendaraan umum dan mahasiswa Trisakti. Uji emisi ini kerjasama dengan Nawilis.  Sedangakan, pada malam harinya, ada pementasan band dari mahasiswa Tehnik Lingkungan.</p>
<p>MATOA  mengisi salah satu stand  pameran di Kampus A, Universitas Trisakti.  Selain itu,  ada National Geographic, Dana Mitra Lingkungan dan Kopiko.  Stand MATOA  sempat heboh saat istirahat makan siang. Banyak mahasiswi Trisakti memborong souvenir ramah lingkungan di stand MATOA.  Anda tertarik dengan souvenir MATOA, seperti Pin, tas belanja dan kaos? Jangan ragu kirim email ke info@matoa.org untuk memesannya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://matoa.org/unbreak-my-earth-di-trisakti/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ketepeng Obat Penyakit Kulit</title>
		<link>http://matoa.org/ketepeng-obat-penyakit-kulit/</link>
		<comments>http://matoa.org/ketepeng-obat-penyakit-kulit/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 28 Apr 2009 05:43:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Irma Dana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Tips]]></category>
		<category><![CDATA[Ketepeng Cina]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://matoa.org/?p=1333</guid>
		<description><![CDATA[Ketepeng cina (Cassia alata) atau disebut juga Ketepeng Kebo di Jawa dan Ketepeng badak begitu orang Sunda menyebutnya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Penyakit kulit seperti panu dan kurap tentunya tak asing lagi bag<a href="http://matoa.org/wp-content/uploads/2009/04/ketepeng.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-1334" title="ketepeng" src="http://matoa.org/wp-content/uploads/2009/04/ketepeng.jpg" alt="ketepeng" width="280" height="275" /></a>i kita. Sekarang banyak obat beredar dipasaran untuk menyembuhkannya. Sebetulnya, panu dan kurap tadi bisa juga disembuhkan dengan semacam tanama perdu yang bisa ditanam di halaman rumah, karena pohonnya rindang.</p>
<p>Ketepeng cina (<em>Cassia alata</em>) atau disebut juga Ketepeng Kebo di Jawa dan Ketepeng badak begitu orang Sunda menyebutnya. Jenis perdu yang besar dan banyak ditemukan tumbuh secara di tempat-tempat lembab.</p>
<p>Ukuran daunnya besar-besar dengan bentuk bulat telur yang letaknya berhadap-hadapan satu sama lain dan terurai lewat ranting daun (bersirip genap). Bunga ketepeng cina mempunyai mahkota yang pada bagian bawahnya berwarna kuning dan ujung kuncup pada tandan berwarna coklat muda. Buahnya berupa buah polong yang bersayap dan pipih berwarna hitam. Ketepeng Cina tumbuh subur pada dataran rendah sampai ketinggian 1400 meter diatas permukaan laut.<br />
Lalu apa kegunaan ketepeng selain mengobati panu dan kurap?  Daun ketepeng juga sangat mujarab mengobati sembelit, sariawan , dan cacing keremi. Mau tahu cara meramunya? Silahkan ikuti petunjuk di bawah ini:</p>
<p>Bagian yang dipakai dari ketepeng adalah daun.</p>
<p>•	Pengobatan untuk penyakit kulir panu, kurap. Ambil satu genggam daun ketepeng cina yang masih segar. Tambahkan sedikit tawas atau satu  sendok makan kapur sirih. Setelah itu, semua bahan direbus, dilumatkan sampai menjadi bubur. Ramuan yang sudah jadi digosokkan dengan kuat pada kulit yang sakit. Coba lakukan dua kali setiap harinya.</p>
<p>•	Untuk mengatasi sembelit (susah buang air besar). Cukup ambil tujuh lembar daun muda ketepeng cina segar. Rebuslah daun dengan dua gelas air hingga mendidih sampai godokkan menjadi satu gelas. Setelah dingin, godokkan ketepeng cina diminum sekaligus.</p>
<p>•	Bagi penderita sariawan. Ambil empat lembar daun ketepeng cina segar, tambahkan garam secukupnya. Cuci bersih daunnya, lalu kunyah dengan garam  secukupnya (seperti mengunyah sirih) selama beberapa menit. Kemudian airnya ditelan dan ampasnya dibuang.</p>
<p>•	Cacing Keremi sering menyerang anak-anak. Coba ambil tujuh lembar daun ketepeng cina segar. Tambahkan asam secukupnya untuk menghilangkan bau.  Masukkan dua sendok teh bubuk akar kelembak.  Semua bahan direbus dengan dua gelas air hingga     mendidih sampai menjadi satu gelas. Godokkan ketepeng disaring dan diminum selagi hangat.</p>
<p><strong>Komposisi :</strong><br />
Sifat kimiawai dan efek farmakologis dari ketepeng cina adalah: pedas, hangat, insecticidal, menghilangkan gatal-gatal, pencahar, obat cacing, obat kelainan kulit yang disebabkan oleh parasit kulit.</p>
<p><strong>Kandungan kimia ketepeng cina : </strong>Rein aloe-emodina, rein aloe-emodina-diantron, rein, aloe emodina, asam krisofanat, (<em>dihidroksimetilanthraquinone</em>), tannin.</p>
<p><strong>Nama loka Ketepeng cina:</strong><br />
Seven golden candlestik (Inggris), Ketepeng kebo (Jawa); Ketepeng cina (Indonesia), Ketepeng badak (Sunda); Acon-aconan (Madura), Sajamera (Halmahera),; Kupang-kupang (Ternate), Tabankun (Tidore); Daun kupang, daun kurap, gelenggang, uru&#8217;kap (Sumatera).</p>
<p>Sumber: <a rel="nofollow" href="http://www.iptek.net.id">www.iptek.net.id</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://matoa.org/ketepeng-obat-penyakit-kulit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Anti Kesejahteraan Masyarakat</title>
		<link>http://matoa.org/pembangunan-dan-kesejahteraan-masyarakat/</link>
		<comments>http://matoa.org/pembangunan-dan-kesejahteraan-masyarakat/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 24 Apr 2009 01:30:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Irma Dana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Add new tag]]></category>
		<category><![CDATA[Sawit]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://matoa.org/?p=1298</guid>
		<description><![CDATA[Membuka perkebunan kelapa sawit dengan iming-iming untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://matoa.org/wp-content/uploads/2009/04/sawit-di-gambut.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-1299" title="sawit-di-gambut" src="http://matoa.org/wp-content/uploads/2009/04/sawit-di-gambut.jpg" alt="sawit-di-gambut" width="320" height="213" /></a>Bertepatan dengan Hari Bumi, tanggal 22 April 2009  di Hotel Salak, Bogor diadakan seminar Festival Orang Rawa Gambut Se-Indonesia.</p>
<p>Konsorsium Pendukung Sistem Hutan Kerakyatan [KpSHK]  sebagai tuan rumah festival. Sesi pertama seminar menghadirkan Dr. A.Sonny Keraf, Menteri Negara Lingkungan Hidup [1999-2001]. Fitran Ardiansyah, Direktur Program Iklim dan Energi, WWF Indonesia dan Muhammad Djauhari, Koordinator KpSHK.</p>
<p>Gending sunda mengiringi tiga orang penari dengan kostum berwarna kuning, hijau bercampur merah muda dipenuhi dengan manik-manik. Ketiga penari dari Sanggar Mayang Arum, berlenggak-lenggok membawakan tarian Ronggeng Nyentrik membuka seminar sesi pertama.</p>
<p>Dr. A. Sonny Keraf menjadi pembicara pertama. Dia baru saja pulang dari daerah  untuk pelaksanaan pemilu legislatif. Awalnya hendak menolak untuk menjadi pembicara pada seminar rawa gambut ini.</p>
<p>“ Topiknya awam buat saya, dari TOR ada keprihatian dengan rawa gambutdan masyarakat adat. Ijinkan saya berbicara makro- melihatnya lebih makro”, komentar Sonny Keraf.</p>
<p>Ia juga menyampaikan beberapa hipotesa mengenai pembangunan di negeri ini.</p>
<p>“Jangan-jangan pembangungan kita di Indonesia, anti kesejahteraan rakyat, karena kebijakan pembangunan yang ditempuh. Saya kuatir pada akhirnya memiskinkan masyarakat setempat secara lebih luas.”</p>
<p>Lalu,  Ia menceritakan kasus yang tidak ada kaitannya dengan rawa gambut sama sekali. Tentang pembangunan Semen Gresik, di Pati,  Jawa Tengah. Rencana pembangunan Semen Gresik ini ditentang oleh masyarakat asli, suku Samin di Gunung Kendeng.</p>
<p>“Mereka menolak. Saya pun dalam posisi menolak, yang menarik, dilontarkanlah oleh gubernur dan pihak lain, saya anti kesejahteraan untuk masyarakat setempat.”</p>
<p>Rencana pembangunan Semen Gresik ini akan menghancurkan irigasi. Sepuluh tahun ke depan pertanian akan hancur.  Pembangunan Semen Gresik justru akan menghancurkan masyarakat, karena tidak menghiraukan nilai-nilai setempat.Dengan jelas  Sonny Keraf  berbicara di depan peserta seminar.</p>
<p>“ Saya tidak anti kesejahteraan masyarakat. Untuk meningkatkan ekonomi masyarakat tidak harus industri, bisa juga pertanian dan menjaga ekosistem di situ.”</p>
<p>Sonny Keraf kuatir ini akan terjadi pada lahan gambut. Membuka perkebunan kelapa sawit dengan iming-iming untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.</p>
<p>“Sawitisasi akan menghancurkan ekosistem, yang bukan asli tanaman masyarakat setempat. Menghancurkan modal sosial ekonomi.”</p>
<p>Ia menambahkan bahwa pembangunan seperti itu tidak <em>people center development</em>. Biasanya dipaksanakan dari atas. Contohnya Semen Gresik tadi.</p>
<p>Akhirnya, Dr. A. Sonny Keraf menegaskan bahwa sebaiknya pembangunan itu seharusnya <em>community development base </em>yaitu berangkat dari masyarakat . Bisa dengan mengembangkan tanaman asli setempat, tidak harus sawit. Tidak dipaksakan dari atas, Maka tiga pilar pembangunan bisa tercapai dan ekosistem pasti terjaga. Semen Gresik hanya salah satu kasus yang dipaksakan dari atas.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://matoa.org/pembangunan-dan-kesejahteraan-masyarakat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bubur Koran Jadi Keranjang Cantik</title>
		<link>http://matoa.org/bubur-koran-jadi-keranjang-cantik/</link>
		<comments>http://matoa.org/bubur-koran-jadi-keranjang-cantik/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Apr 2009 13:49:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Irma Dana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Rekomendasi]]></category>
		<category><![CDATA[limbah koran]]></category>
		<category><![CDATA[pepulih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://matoa.org/?p=1098</guid>
		<description><![CDATA[“Limbah koran dimasukkan ke dalam lem kanji, diperes terus dicetak,” jelas Maria Purwanto SH, M.Si dari Pepulih, saat ditanya proses pembuatannya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://matoa.org/wp-content/uploads/2009/04/limbah-koran2.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-1099" title="limbah-koran2" src="http://matoa.org/wp-content/uploads/2009/04/limbah-koran2.jpg" alt="limbah-koran2" width="330" height="247" /></a>Jika melihat tumpukan koran di rumah semakin banyak, sebaiknya jangan dibuang dulu. Pernah terpikir untuk membuat barang atau sesuatu yang berguna dari Koran?</p>
<p>Ya!  Kertas koran, selain untuk dibaca dan membungkus barang, juga bisa menjadi keranjang dan taplak meja yang cantik.</p>
<p>“Limbah koran dimasukkan ke dalam lem kanji, diperes terus dicetak,” jelas Maria Purwanto SH, M.Si dari Pepulih, saat ditanya proses pembuatan keranjang dari limbah koran yang terpampang di stand PEPULIH  di Departemen Perindustrian 3 April 2009 lalu.</p>
<p>Caranya mudah dan sederhana.</p>
<p>Bahan-bahan:</p>
<p>Kertas koran, tepung kanji, lem kayu  dicampur air.</p>
<p>Peralatan:</p>
<p>Ember, kompor, panci, adukan, cutter, amplas no. 100</p>
<p>Pertama membuat lem kanji terlebih dahulu. Lalu siapkan kertas koran yang dipilih dengan potongan yang sesuai dengan diameter yang diinginkan. Perlu Anda ketahui, 1 cm=1 lembar koran. Masukkan kertas koran yang dipilin ke dalam tepung kanji. Pilinan diperas dan dililitkan menutupi cetakan.</p>
<p>Setelah itu dijemur langsung di bawah sinar matahari. Agar pengeringannya sempurna dapat menggunakan oven panggang.</p>
<p>Walaupun sederhana cara membuatnya, perlu diperhatikan campuran air untuk merendamnya, supaya kertas bisa mengeras dengan sempurna.</p>
<p>Untuk lebih jelasnya mengenai pengolahan limbah koran menjadi keranjang yang cantik, silahkan Anda menghubungi:</p>
<p>PEPULIH (Pemerhati Peduli Lingkungan Hidup)</p>
<p>Membudayakan wawasan Lingkungan</p>
<p>Kementrian Negara Lingkungan Hidup Gedung – C</p>
<p>Jl. D.I Panjaiatan Kav. 24</p>
<p>Jakarta Timur</p>
<p>Tlp. 021 – 7002 8980  Fax. 021 – 830 2095</p>
<p>e-mail: maria.purwanto@yahoo.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://matoa.org/bubur-koran-jadi-keranjang-cantik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jerami Mendong Pengganti Rotan</title>
		<link>http://matoa.org/jerami-mendong-pengganti-rotan/</link>
		<comments>http://matoa.org/jerami-mendong-pengganti-rotan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Apr 2009 01:00:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Irma Dana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita MATOA]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[handicraft]]></category>
		<category><![CDATA[mendong]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://matoa.org/?p=1045</guid>
		<description><![CDATA[Semuannya menggunakan bahan baku dari batang mendong, sejenis padi. Penggunaan bahan baku alternatif ini digunakan untuk mengatasi kelangkaan rotan.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://matoa.org/wp-content/uploads/2009/04/mendong-handicraft.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-1047" title="mendong-handicraft" src="http://matoa.org/wp-content/uploads/2009/04/mendong-handicraft.jpg" alt="mendong-handicraft" width="267" height="284" /></a>Banyak kerajinan tangan atau perlengkapan rumah tangga berbahan baku eceng gondok, pelepah pisang, rotan dan, kertas koran. Begitu memasuki ruang pameran di Departemen Perindustrian, tanggal 3 April lalu. Aneka peralatan rumah tangga terpampang indah dibuat dari bahan baku alternatif tadi.</p>
<p>Kami sempat mampir ke stand Ryo Handicraft milik Lilik Murtini. Di sana ada keranjang cuci, keset, kap lampu,  tas perempuan  dan, banyak lagi. Semua terlihat cantik dan rapih. Semuannya menggunakan bahan baku dari batang mendong, sejenis padi. Penggunaan bahan baku alternatif ini digunakan untuk mengatasi kelangkaan rotan yang  banyak di ekspor keluar negeri.</p>
<p>“ kami buat ini dari mendong, sejenis padi, tapi tidak berbulu. Kering sendiri, terus dipilin baru ditarik mesin,” Bu Lilik menjelaskan proses menyiapkan batang mendong sebelum dibuat peralatan rumah.</p>
<p>Bu Lilik gundah, karena hasil kerajinan tangan Indonesia kalah bersaing dengan Cina.</p>
<p>“ Kita kalah dengan Cina, mereka di subsidi pemerintah mulai dari bahan baku sampai pemasaran. Indonesia kalah harga, kalau kualitas, menang Indonesia. Pemerintah jangan jual atau ekspor barang mentah. Kita susah dapet barang, yang reject aja dapetnya. Rotan juga jangan dijual mentah. Dulu pernah di stop ekspor rotan, sekarang di buka lagi sama menterinya.”</p>
<p>Keluhan itu memang keluar dari mulut Lilik Murtini. Tapi dirasakan oleh semua pengrajin Indonesia yang bahan bakunya tergantung sama rotan. Buktinya, walaupun bahan bakunya bukan dari rotan, hasilnya tetap bagus dan cantik.</p>
<p>Info selanjutnya, Anda bisa menghubungi :<br />
Ryo Handicraft<br />
Jl. Tepus Kaki 27<br />
Malang 65141<br />
Tlp : 0341 – 494117/0811 361 698<br />
E-mail : ryohandicrafts@hotmail.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://matoa.org/jerami-mendong-pengganti-rotan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menanam dengan Media Hydroponics</title>
		<link>http://matoa.org/menanam-dengan-media-hydroponics/</link>
		<comments>http://matoa.org/menanam-dengan-media-hydroponics/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 Apr 2009 04:17:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Irma Dana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita MATOA]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[bahan baku alternatif]]></category>
		<category><![CDATA[Hydroponics]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://matoa.org/?p=1032</guid>
		<description><![CDATA[Hydroponics bisa digunakan untuk merangkai bunga potong atau plastik, kelihatan lebih segar dan tahan lama.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://matoa.org/wp-content/uploads/2009/04/hydroponics.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-1033" title="hydroponics" src="http://matoa.org/wp-content/uploads/2009/04/hydroponics.jpg" alt="hydroponics" width="293" height="380" /></a>Pernah terpikir ingin menanam bunga di dalam rumah tanpa harus menggunakan media tanah ? Mungkin bisa dicoba dengan menggunakan <em>Hydroponics.</em> Saat melihat butiran bak kelereng, tersusun rapih dalam vas bunga berwarna merah, hijau, oranye dan, biru. Sangat cantik apabila terlihat dari ruangan tamu rumah. Bersih, tidak ada tanah sedikit pun. Hydroponics bisa digunakan untuk merangkai bunga potong atau plastik, kelihatan lebih segar dan tahan lama.</p>
<p>“ Ini bisa hidup ya pak tanamannya? Bagaimana caranya Pak? “ pertanyaan terus diajukan sama penjaga stand  Adela Kreasi, di Pameran Produk Kerajinan Bahan Baku Alternatif, di Departemen Perindustrian, 3 April 2009 lalu.</p>
<p>Akhirnya, penjaga stand memberikan lembaran kertas yang menjelaskan tentang hydroponic. Ini bahan penemuan terbaru yang diambil dari ilmu dibidang perkebunan. Sebagai bahan penyerapan yang dapat menyimpan 400 kcl dari berat air dan bahannya mengandung unsur beberapa kadar gizi.</p>
<p><strong>Bagaimana cara pengembangannya?</strong><br />
Satu bungkus plastik, kira-kira satu sendok makan dicampur dengan satu liter air. Biarkan berkembang selama empat jam dan sesekali diaduk supaya warnanya rata dan  membaur. Kalau warnanya masih terlalu gelap, buanglah air dan tambahkan air kembali sesuai dengan warna  yang kita inginkan.</p>
<p>Setelah itu, butir kristal bisa dibilas dengan air bersih supaya kristal-kristalnya tampak lebih bercahaya. Lalu tumpahkan butiran kristal ke dalam Loyang saringan, biarkan selama satu jam, biarkan airnya menghilang. Butir-butir kristal yang sudah bersih siap untuk digunakan ke salam vas bunga.</p>
<p><strong>Pemindahan tanaman dari tanah ke hydroponics</strong><br />
Tanaman dari tanah, angkat perlahan-lahan, jangan sampai ada akarnya yang rusak. Lalu cuci akar tanaman dengan air bersih, jangan ada tanah yang menempel.  Periksa dulu akar tanaman yang putus atau rusak sebelum memulai penanaman. Vas bunga diisi dengan seperempat gelas butiran batu tanaman. Pastikan akarnya di tengah-tenah vas bunga. Tanaman diletakkan di tengah-tengah vas, lalu diisi lagi setengahnya samapai sekeliling akarnya tidak kelihatan.  Selanjutnya, siram tanaman selama seminggu berturut-turut. Setelah tanamannya tumbuh dengan baik, cukup siram 1- 2 bulan saja.</p>
<p><strong>Tips untuk menjaga tanaman hydroponic Anda</strong></p>
<ol>
<li> Jangan terlalu banyak air, akarnya menjadi cepat busuk</li>
<li>Apabila pertumbuhan tanaman sangat lambat, coba pindahkan  posisinya dan, jangan terkena paparan sinar matahari langsung. Hal ini bisa mengakibatkan tumbuhnya lumut,</li>
<li>Kalau sampai berlumut, angkat tanaman dan cuci bersih akarnya. Lalu siram butiran kristal dengan air panas, sampai lumut yang menempel bersih.</li>
<li>Jika warna butiran kristal sudah memudar dan berubah warna, berikan bahan penawar beberapa tetes saja.</li>
</ol>
<p>Selanjutnya bisa hubungi:  Adela Kreasi, Jl. Karakatau IV/226, Sukmajaya – Depok Timur Depan. Tlp. 021 – 778 322 64 / 0818 132 409</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://matoa.org/menanam-dengan-media-hydroponics/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
