<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>MATOA &#187; Newsletters</title>
	<atom:link href="http://matoa.org/category/newsletters/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://matoa.org</link>
	<description>Green Magz</description>
	<lastBuildDate>Mon, 14 May 2012 08:48:35 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=</generator>
		<item>
		<title>Gunung Merapi Meletus</title>
		<link>http://matoa.org/gunung-merapi-meletus/</link>
		<comments>http://matoa.org/gunung-merapi-meletus/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Oct 2010 03:10:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matoa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Newsletters]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://matoa.org/?p=2906</guid>
		<description><![CDATA[Gunung Merapi meletus dengan mengeluarkan awan panas, Selasa (26/10). Letusan terjadi sejak...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://matoa.org/wp-content/uploads/2010/10/800px-Mount_Merapi_Crater.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-2907" title="800px-Mount_Merapi_Crater" src="http://matoa.org/wp-content/uploads/2010/10/800px-Mount_Merapi_Crater.jpg" alt="" width="314" height="185" /></a>Gunung Merapi meletus dengan mengeluarkan awan panas, Selasa (26/10). Letusan terjadi sejak pukul 17.02 WIB. Menurut Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Badan Geologi Surono di Yogyakarta &#8220;Sejak 17.02 WIB hingga 17.34 WIB terjadi empat kali awan panas dan sampai sekarang awan panas terus muncul susul menyusul tidak berhenti,&#8221; <span id="more-2906"></span></p>
<p style="text-align: justify;">munculnya awan panas tersebut menjadi tanda sebagai erupsi Gunung Merapi. Awan panas pertama yang muncul pada pukul 17.02 WIB tersebut mengarah ke barat. Namun awan panas berikutnya tidak dapat terpantau dengan baik karena kondisi cuaca di puncak Merapi cukup gelap dan hujan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sirine bahaya di Kaliurang, Sleman, berbunyi pada pukul 17.57 WIB. Pada pukul 18.05 WIB, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta menarik semua petugas dari pos pengamatan.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Pada 2006, awan panas terjadi selama tujuh menit, namun pada tahun ini awan panas sudah terjadi lebih dari 20 menit,&#8221; kata Surono. Lamanya awan panas tersebut menunjukkan energi yang cukup besar.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada pukul 18.00 WIB terdengar letusan sebanyak tiga kali yang terdengar dari pos Jrakah dan pos Selo yang disusul dengan asap membumbung setinggi 1,5 kilometer mengarah ke selatan. &#8220;Tipe letusan Merapi sudah dipastikan eksplosif,&#8221;.(ULF/Ant)</p>
<p style="text-align: right;"><em>sumber:ANTARA news</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://matoa.org/gunung-merapi-meletus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gempa Mengguncang Mentawai-Padang</title>
		<link>http://matoa.org/gempa-mengguncang-mentawai-padang/</link>
		<comments>http://matoa.org/gempa-mengguncang-mentawai-padang/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Oct 2010 05:21:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matoa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Newsletters]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://matoa.org/?p=2888</guid>
		<description><![CDATA[Senin (25/10/10), tepat pukul 21.42 gempa melanda Mentawai, Sumatera Barat...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://matoa.org/wp-content/uploads/2010/10/PUSAT-GEMPA-SUMATERA.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-2889" title="PUSAT-GEMPA-SUMATERA" src="http://matoa.org/wp-content/uploads/2010/10/PUSAT-GEMPA-SUMATERA.jpg" alt="" width="320" height="225" /></a> Senin (25/10/10), tepat pukul 21.42 gempa melanda Mentawai, Sumatera Barat. Dengan kekuatan 7,2 skala richter. Badan Metereologi, Klimatologi dan Geofisika (BKMG) pada awalnya menyatakan gempa kali ini berpotensi tsunami.</p>
<p style="text-align: justify;">Sumber gempa berpusat di kedalaman 10 Km sebelah barat dayaPagai Selatan Mentawai, Sumbar atau berada di 3,61 LS dan 99,93 BT ternyata sempat membuat panik warga di sekitar pesisir pantai Pulau Sikakap. Air laut sempat mengalami pasang setinggi 1 m, namun hal tersebut kembali ditegaskan oleh BKMG tidak berpotensi tsunami. Sampai saat berita ini diturunkan daerah tersebut masih mengalami gempa susulan dengan kekuatan yang kurang dari gempa pertama dan hingga kini pun belum ada laporan mengenai korban gempa atau kerusakan yang di akibatkan gempa ini. [amd]</p>
<p style="text-align: right;"><em>sumber foto:tribunews.com</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://matoa.org/gempa-mengguncang-mentawai-padang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Banjir Bandang Wasior</title>
		<link>http://matoa.org/banjir-bandang-wasior/</link>
		<comments>http://matoa.org/banjir-bandang-wasior/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 Oct 2010 07:00:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matoa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Newsletters]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://matoa.org/?p=2801</guid>
		<description><![CDATA[4 Oktober 2010 yang lalu Indonesia kembali dirundung duka dengan terjadinya kembali bencana alam yang meluluh lantahkan kota Wasior..]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://matoa.org/wp-content/uploads/2010/10/banjir.jpg"><img class="size-medium wp-image-2802 alignleft" title="banjir" src="http://matoa.org/wp-content/uploads/2010/10/banjir-300x193.jpg" alt="" width="300" height="193" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">4 Oktober 2010 yang lalu Indonesia kembali dirundung duka dengan terjadinya kembali bencana alam yang meluluh lantahkan kota Wasior, Papua Barat banyak koban berjatuhan sekitar 147 orang dinyatakan tewas dan 123 orang masih dinyatakan hilang.<span id="more-2801"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Jakarta, 12 Oktober 2010. Menteri Kehutanan, Zulkifli Hassan menyatakan penyebab banjir yang terjadi di Wasior karena Daerah Tangkapan air (DTA) Manggurai yang berada di atas Wasior yang luasnya 2.056 Ha selama ini sudah menampung air ditambah lagi ketika hujan lebat yang turun selama 6 hari tak mampu lagi menampung air sehingga DTA itu jebol dan menyapu Wasior.</p>
<p style="text-align: justify;">Hal ini jelas bertentangan dengan Manajer Desk Bencana Eksekutif  WALHI, Irhash Ahmady. Menilai bahwa banjir bandang di kota Wasior akibat kerusakan kabupaten Teluk Wondama. Irhash memperkirakan sekitar 30%-40% hutan di kawasan Hutan Suaka Alam Gunung Wondiboi dan kawasan Taman Nasional Laut Teruk Cendrawasih mengalami alih fungsi sehingga kali Angris dan kali Kiot meluap dan membawa bencana bagi Wasior.</p>
<p style="text-align: justify;">Secara  garis besar banjir bandang atau bencana alam lainnya selama ini merupakan perubahan paradigma manusia terhadap hutan saat ini tidak lagi dilihat sebagai entitas kehidupan. Hutan saat ini dilihat sebagai sumber uang, sumber investasi tanpa memandang secara moral sebagai mata rantai kehidupan biotik.</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak bisa hanya menyalahkan pemerintah saja, kita pun harusnya sadar dan memulai untuk mengubah paradigma fungsi hutan secara etis, untuk memulai menanamkan edukasi tentang ekologi hutan secara bijak terhadap seluruh masyarakat dimulai dari dalam keluarga kita. Bencana banjir di wasior, Papua Barat menjadi pelajaran berharga bagi kita.[amd]</p>
<p style="text-align: right;"><em>Sumber:www.rakyatmerdeka.co.id, Walhi</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://matoa.org/banjir-bandang-wasior/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>REDD-Indonesia, Program Pengurangan Emisi</title>
		<link>http://matoa.org/redd-indonesia-program-pengurangan-emisi/</link>
		<comments>http://matoa.org/redd-indonesia-program-pengurangan-emisi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Aug 2010 03:03:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matoa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Newsletters]]></category>
		<category><![CDATA[Perubahan iklim]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://matoa.org/?p=2434</guid>
		<description><![CDATA[Isu perubahan iklim yang  gencar di usung Algore berhasil meyakinkan negara...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://matoa.org/wp-content/uploads/2010/08/REDD-I-logo.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-2435" title="REDD-I logo" src="http://matoa.org/wp-content/uploads/2010/08/REDD-I-logo.jpg" alt="" width="197" height="90" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Isu perubahan iklim yang  gencar di usung Algore berhasil meyakinkan negara-negara di dunia lewat fakta-fakta ilmiah antara aktivitas manusia dengan pemanasan global. Penyebab dari pemanasan global dan perubahan iklim akibat aktivitas manusia ini terutama berasal dari aktivitas industri dan perusakan hutan dan perubahan tata guna lahan. Dalam diskusi politik antar negara (internasional) dalam mengatasi masalah ini, ada pihak penghasil emisi dan pihak penyerap emisi. Negara-negara penyerap karbon yaitu pemilik hutan yang kebanyakan merupakan negara-negara berkembang akan berusaha mencoba menjaga lahannya, dan sebagai kompensasinya negara penghasil emisi yang umumnya negara-negara industri akan membayar apa yang telah mereka keluarkan. Yang menjadi masalahnya yaitu bagaimana menghargai nilai karbon itu. Inilah ide dibalik skema REDD. REDD adalah kependekan dari <em>Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation. </em>Ini berbeda dengan kegiatan konservasi hutan sebelumnya karena dikaitkan langsung dengan insentif finansial untuk konservasi yang bertujuan menyimpan karbon dunia.<span id="more-2434"></span></p>
<p style="text-align: justify;"><strong><span style="text-decoration: underline;">Sekilas REDD</span></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Pencegahan deforestasi (avoided deforestation) menjadi isu utama dalam percaturan politik internasional dalam mengurangi pemanasan global. Isu ini pertama kali muncul pada Conferences of the Parties (COP) ke-11 untuk United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) di Montreal 2005. Papua New Guinea dan Costa Rica yang didukung oleh delapan Pihak yang tergabung dalam Coalition for Rainforest Nations (CfRN) mengajukan proposal tentang insentif untuk pencegahan deforestasi atau dikenal dengan Reducing Emissions from Deforestation in Developing Countries (RED).</p>
<p style="text-align: justify;">RED ini kemudian menjadi agenda COP ke-11. COP ke-11 mengundang para Pihak dan peninjau terakreditasi (accredited observers) seperti NGOs, untuk mengajukan pandangan-pandangannya kepada Subsidiary Body on Scientific and Technical Advice (SBSTA) tentang RED dalam proses selama dua tahun untuk disepakati pada COP ke-13 di Bali. Diharapkan pada COP ke-15 pada Desember 2009 di Copenhagen dapat disepakati mengenai modality, aturan dan prosedur implementasi RED.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Proposal-proposal yang diajukan meliputi:</em></p>
<ol style="text-align: justify;">
<li style="text-align: justify;">hal-hal yang berkaitan dengan saintifik, teknik dan metodologi (scientific, technical and methodological issues);</li>
<li>informasi dan pengalaman-pengalaman mengenai pendekatan kebijakan dan insentif-insetif positif (information and experiences on policy approaches and positive incentives).</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">The Stern Review on Climate Change merupakan salah satu yang menarik perhatian dunia. Laporan yang ditulis oleh Sir Nicholas Stern untuk Ministry of Finance, Inggris itu menggarisbawahi bahwa pencegahan deforestasi harus menjadi bagian dari setiap perjanjian iklim pasca Kyoto dan skema percontohan harus segera dimulai sesegera mungkin. Ada tiga proposal yang diajukan oleh negara-negara para Pihak (Parties) dan NGOs yang memasukan emisi dari deforestasi (RED), deforestasi dan degradasi (REDD) atau deforestasi, degradasi dan enhancement (REDD+).</p>
<p style="text-align: justify;"><strong><span style="text-decoration: underline;">REDD di Indonesia (REDD-I)</span></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Brazil dan Indonesia adalah dua negara teratas dalam hal berkurangnya hutan per tahun masing-masing 1,87 juta ha/tahun. Indonesia menyumbang sekitar 22,86% dari luasan hutan di 10 negara berkembang. Indonesia dikategorikan sebagai negara ketiga emisi terbesar di dunia setelah Amerika Serikat dan Cina, akibat dari kebakaran hutan dan lahan gambut. Jika kebakaran hutan dan gambut dikeluarkan Indonesia berada dalam ranking ke 21. Kajian tentang efek kebakaran hutan dan lahan gambut pada 1997 memperkirakan sekitar 0,81-2,57 Gt karbon dilepaskan ke atmosfir yang menyumbang sekitar 13-40% emisi global tahunan yang berasal dari pembakaran bahan bakar fosil.</p>
<p style="text-align: justify;">Indonesia termasuk negara pendukung REDD, karena skema ini tidak hanya melakukan perlindungan terhadap hutan-hutan yang ada dari deforestasi, tetapi juga memperbaiki hutan yang terdegradasi. Negara lain hanya membatasi skema deforestasi saja (RED) dengan alas an sukar untuk mengukur laju degradasi, dan bagaimana menilai keuntungan dari upaya restorasi hutan.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Manfaat bagi Indonesia</em></p>
<p style="text-align: justify;">Karena deforestasi dan degradasi hutan menghasilkan emisi CO2, Indonesia memiliki manfaat yang potensial dari REDD. Potensi nilai kredit karbon di Indonesia sangat besar. Tetapi perhitungannya sangat bervariasi karena banyaknya ketidakpastian tingkat berkurangnya hutan dan nilai-nilai yang mungkin tercakup dalam emisi karbon. Dengan cara membagi dua rata-rata tahunan laju kehilangan hutan di Indonesia antara 2000 dan 2005, perkiraan nilai karbon kreditnya berkisar antara ,5 sampai ,5 miliar per tahun. Jumlah ini sangat besar jika dibandingkan dengan anggaran belanja negara tahunan dari Departemen Kehutanan. Hal ini memperlihatkan insentif ekonomi untuk menciptakan pendekatan-pendekatan yang lebih baik dan lebih berkelanjutan bagi pemanfaatan sumber daya hutan.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Inisitiatif Indonesia</em></p>
<p style="text-align: justify;">Untuk menghadapi COP ke-13, Indonesia membentuk Indonesian Forest Climate Alliance (IFCA) pada Juli 2007. Aliansi ini merupakan suatu forum komunikasi, koordinasi, dan konsultasi bagi sekelompok ahli yang bergerak di bidang kehutanan dan perubahan iklim di Indonesia, terutama untuk menganalisa praktek skema REDD di Indonesia. Dikoordinatori oleh Departemen Kehutanan, IFCA beranggotakan pemerintah, sektor swasta, masyarakat sipil, lembaga-lembaga saintifik dan mitra internasional. IFCA ini didukung oleh pemerintah Australia, Jerman dan Inggris di bawah koordinasi World Bank. Lembaga-lembaga lainnya yang berkontribusi yaitu dari CIFOR dan ICRAF, The Australian Greenhouse Office, Australian National University, Winrock Internationa, World Resource Institute, URS, Ecosecurities, The Nature Conservancy, WWF, Sekala dan Wetlands International.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Apa Tindak lanjut COP 13 untuk REDDI?</em></p>
<p style="text-align: justify;">Indonesia melalui IFCA telah menetapkan Road Map REDDI yang terbagi ke dalam 3 fase:</p>
<ul style="text-align: justify;">
<li>Fase Persiapan/Readiness (tahun 2007/sebelum COP-13) untuk penyiapan perangkat metodologi/arsitektur dan strategi implementasi REDDI, komunikasi/koordinasi/konsultasi stakeholders, termasuk penentuan kriteria untuk pemilihan lokasi pilot activities,</li>
</ul>
<ul style="text-align: justify;">
<li>Fase Pilot/transisi (2008-2012): menguji metodologi dan strategi, dan transisi dari non-market (fund-based) ke mekanisme pasar (market mechanism), dan</li>
</ul>
<ul style="text-align: justify;">
<li>Fase Implementasi penuh (dari 2012 atau lebih awal tergantung perkembangan negosiasi dan kesiapan Indonesia, dengan tata cara (rules and procedures) berdasarkan keputusan COP dan ketentuan di Indonesia.</li>
</ul>
<p style="text-align: justify;">Departemen Kehutanan berharap bahwa proyek percontohan (demonstration activities) dapat dilaksanakan antara tahun 2008 dan 2012, untuk mendapatkan proses pembelajaran sebelum REDD dilaksanakan sebelum perjanjian pasca Kyoto dilakukan. Proyek-proyek ini dilakukan dalam skala nasional, provinsi, kabupaten dan lokal.</p>
<p style="text-align: justify;"><em> Sumber: http://redd-indonesia.org/redd/</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://matoa.org/redd-indonesia-program-pengurangan-emisi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sensus Burung Air dan Wetlands Day 2009</title>
		<link>http://matoa.org/sensus-burung-air-dan-wetlands-day-2009/</link>
		<comments>http://matoa.org/sensus-burung-air-dan-wetlands-day-2009/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Feb 2009 02:15:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matoa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Newsletters]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://matoa.org/?p=249</guid>
		<description><![CDATA[“ Jakarta Green Monster Present : Water Bird Cencus 2009”]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a title="Burung-burung di Muara Angke" href="http://matoa.org/wp-content/uploads/2009/02/angke121.jpg"><img src="http://matoa.org/wp-content/uploads/2009/02/angke121.jpg" alt="Burung-burung di Muara Angke" width="439" height="327" /></a></p>
<p><strong>Jakarta</strong> &#8211; Sudah lama tidak mengamati burung dan bermain ke Suaka Margasatwa Muara Angke [SM.Muara Angke]. Tak kusia-siakan ajakan dari Ferry Hasudungan yang bekerja di Wetlands International untuk ikutan sensus burung air di SM.Muara Angke. Dan berangkatlah Sabtu tanggal 31 Januari lalu. Sekaligus memperingati Wetlands Day yang jatuh pada tanggal 2 Februari.</p>
<p>Di tengah rintik gerimis dan awan mendung. Aku dan Ferry dari Bogor  naik bis ke Cawang, dan melanjutkan dengan P6 arah Grogol. Sesampaikanya di Grogol, kami nain angkot warna merah No. 01 jurusan Grogol – Angke, ongkosnya Rp. 3000,- per orang.</p>
<p>Berhenti di Depan Pizza Hut Angke, kami langsung menuju pintu gerbang perumahan Pantai Indah Kapuk. Sempat berhenti sekitar lima menit di jembatan Angke, melihat keruhnya Kali Angke dan sampah-sampah plastik yang mengambang. Ada yang menarik, dari semak belukar, ada yang bergoyang-goyang. Ternyata, seekor burung berwarna abu-abu, kecil. Sepertinya Merbah cerukcuk.<span id="more-249"></span></p>
<p>Kami tak berlama-lama di jembatan Angke. Masih sekitar 500 meter lagi menuju pintu masuk SM.Muara Angke. Berjalan menyusuri trotoar yang becek dan bertanah merah, Menepi di antara rumput-rumput yang berembun. Besaing dengan kendaraan yang kencang melintas di jalanan.</p>
<p>“ Jakarta Green Monster Present : Water Bird Cencus 2009”  tertulis di banner, tepat di pintu masuk SM.Muara Angke. Di depan Pos Muara Angke, di teras aula pertemuan, sudah menunggu panitia Bird Cencus, dan Ady Kristanto staf FFI yang mengkoordinir kegiatan.</p>
<p>Jam menunjukkan 08.25. Peserta baru diberangkatkan menuju titik pengamatan. Ada yang menyusuri Kali Angke, dengan perahu karet. Terus kelompok lain meuju Hutan Lindung Angke. Aku dan Ferry dapat jatah pengamatan di Muara Angke, menyusuri <em>board walk</em>, papan jalur pengamatan sepanjang 800 meter. Wow! Ini pertama kalinya aku menyusuri <em>board walk</em>. Terakhir datang ke Muara Angke, papannya sudah pada hancur. Takut terjerembab.</p>
<p>Selain papan pijakan, di SM. Angke sudah ada <em>bird hide</em> yaitu tempat bersembunyi saat mengamati burung. Tapi sangat jauh berbeda dengan yang pernah kulihat di Cagar Alam Titchwell, Inggris. Berbentuk bangunan kayu, hanya muat untuk beberapa orang saja. Dengan satu pintu dan lubang pengamatan, seperti di loket stasiun kereta api, cukup untuk menyimpan binokuler saja.Betul-betul tersembunyi, dan burungnya tidak terganggu oleh manusia yang mengamati. Dindingnya ditempel poster, gambar-gambar burung yang bisa diamati di sekitar danau di Titchwell. Memudahkan pengamat amatir, seperti saya.</p>
<p><em>Bird hide</em> yang ada di Muara Angke, banyak digunakan untuk tempat beristirahat. Kisi-kisi dindingnya terlalu lebar. Luas ruangannya bisa memuat 20 orang. Siapa saja bisa lalu lalang mengganggu pengamatan burung. Tidak ada privasi. Bisa jadi, burungnya bisa melihat ke arah manusia.</p>
<p>Kurang lebih 1,5 jam menyusuri Board Walk.  Sekitar 20 jenis burung air yang dijumpai dan dicatat peserta. Ada Pecuk padi hitam, Pecuk padi kecil, Pecuk padi asia, Bambangan merah, Bambangan hitam, Blekok sawah, Kokokan laut, Kowak malam kelabu, Kuntul besar, Kuntul kerbau, Kuntul kecil, Cangak abu, Cangak merah, Cangak laut, Itik benjut, Tikusan alis putih, Kareo padi, Mandar batu, Trinil pantai, Dara laut sp. Kami juga sempat di cegat gerombolan Monyet ekor panjang di antara daun Nipah. Ngeri deh! Ada monyet yang menyeringai, memperlihatkan giginya, merasa terancam.</p>
<p>Tepat jam 11.30 peserta melaporkan hasil pengamatannya di aula pertemuan. Peserta sensus burung air ini mahasiswa  dari Universitas Indonesia, Universitas Nasional, Universitas Islam Negeri, Universitas Negeri Jakarta dan Universitas As-syafi’iyah.</p>
<p>Nah! Ada yang mau mengamati dan ikut kegiatan di  SM.Muara Angke selama Februari ini?  Ajak pasangan Anda ke Muara Angke, sebagai wujud kecintaan pada lingkungan dan Muara Angke, lahan basah yang terisisa di utara Jakarta. Tanggal 14 Februari 2009, ada bersih sampah di sana. Temanya “From Angke With Love” . Berminat membantu menjadi panitia atau mendaftar sebagai peserta?  Silahkan hubungi Ichay, HP : 02194425951, email : cartenzians@yahoo.co.id [Irma Dana]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://matoa.org/sensus-burung-air-dan-wetlands-day-2009/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Manfaatkan Kembali Floppy Diskmu!!!</title>
		<link>http://matoa.org/manfaatkan-kembali-floppy-diskmu/</link>
		<comments>http://matoa.org/manfaatkan-kembali-floppy-diskmu/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 29 Aug 2008 08:51:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matoa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Newsletters]]></category>
		<category><![CDATA[Tips]]></category>
		<category><![CDATA[reuse]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://matoa.org/?p=181</guid>
		<description><![CDATA[<p>Era <span style="font-style: italic">floppy disk</span> telah berlalu, berganti dengan <span style="font-style: italic">compact disk, flashdisk, external harddisk,</span> dan lain &#8211; lain. Lalu apa yang dapat &#8230;</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Era <span style="font-style: italic">floppy disk</span> telah berlalu, berganti dengan <span style="font-style: italic">compact disk, flashdisk, external harddisk,</span> dan lain &#8211; lain. Lalu apa yang dapat kita lakukan terhadap <span style="font-style: italic">floppy disk</span> kita? Dibuang? Oh jangan, masih banyak hal yang dapat dibuat dari <span style="font-style: italic">floppy disk</span> tersebut.</p>
<p>Di bawah ini beberapa <span style="font-style: italic">stuffs</span> yang dapat dibuat dengan memanfaatkan kembali <span style="font-style: italic">floppy disk</span> tersebut, antara lain :</p>
<p style="font-weight: bold">1. Notepad</p>
<p><a title="1.jpg" href="http://matoa.org/wp-content/uploads/2008/08/12.jpg"><img style="width: 206px; height: 160px;" src="http://matoa.org/wp-content/uploads/2008/08/12.jpg" alt="1.jpg" /></a> <a title="2.jpg" href="http://matoa.org/wp-content/uploads/2008/08/21.jpg"><img style="width: 203px; height: 161px;" src="http://matoa.org/wp-content/uploads/2008/08/21.jpg" alt="2.jpg" /> </a><a title="3.jpg" href="http://matoa.org/wp-content/uploads/2008/08/31.jpg"><img style="width: 207px; height: 157px;" src="http://matoa.org/wp-content/uploads/2008/08/31.jpg" alt="3.jpg" /> </a></p>
<p style="font-weight: bold"><span id="more-181"></span>2. Tempat Alat Tulis</p>
<p style="font-weight: bold"><a title="4.jpg" href="http://matoa.org/wp-content/uploads/2008/08/41.jpg"><img style="width: 204px; height: 154px;" src="http://matoa.org/wp-content/uploads/2008/08/41.jpg" alt="4.jpg" /> </a><a title="5.jpg" href="http://matoa.org/wp-content/uploads/2008/08/51.jpg"><img style="width: 204px; height: 154px;" src="http://matoa.org/wp-content/uploads/2008/08/51.jpg" alt="5.jpg" /> </a></p>
<p style="font-weight: bold"><a title="6.jpg" href="http://matoa.org/wp-content/uploads/2008/08/61.jpg"><img style="width: 207px; height: 156px;" src="http://matoa.org/wp-content/uploads/2008/08/61.jpg" alt="6.jpg" /></a></p>
<p style="font-weight: bold">3. Kartu Ucapan</p>
<p style="font-weight: bold"><a title="7.jpg" href="http://matoa.org/wp-content/uploads/2008/08/71.jpg"><img style="width: 208px; height: 157px;" src="http://matoa.org/wp-content/uploads/2008/08/71.jpg" alt="7.jpg" /></a> <a title="8.jpg" href="http://matoa.org/wp-content/uploads/2008/08/81.jpg"><img style="width: 210px; height: 158px;" src="http://matoa.org/wp-content/uploads/2008/08/81.jpg" alt="8.jpg" /></a></p>
<p style="font-weight: bold"><a title="9.jpg" href="http://matoa.org/wp-content/uploads/2008/08/91.jpg"><img style="width: 208px; height: 158px;" src="http://matoa.org/wp-content/uploads/2008/08/91.jpg" alt="9.jpg" /></a> <a title="11.jpg" href="http://matoa.org/wp-content/uploads/2008/08/111.jpg"><img style="width: 207px; height: 159px;" src="http://matoa.org/wp-content/uploads/2008/08/111.jpg" alt="11.jpg" /></a></p>
<p style="font-weight: bold"><a title="10.jpg" href="http://matoa.org/wp-content/uploads/2008/08/101.jpg"><img style="width: 208px; height: 160px;" src="http://matoa.org/wp-content/uploads/2008/08/101.jpg" alt="10.jpg" /></a></p>
<p style="font-weight: bold"><span style="font-weight: normal">Selain ketiga barang tersebut, kami yakin kawan &#8211; kawan dianugerahi  kreatifitas yang dapat dikembangkan untuk memanfaatkan kembali </span><span style="font-style: italic; font-weight: normal">floppy disk.</span></p>
<p>Semoga bermanfaat dan selamat mencoba.</p>
<p style="font-weight: bold">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://matoa.org/manfaatkan-kembali-floppy-diskmu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

