<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>MATOA &#187; Perubahan iklim</title>
	<atom:link href="http://matoa.org/category/perubahan-iklim/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://matoa.org</link>
	<description>Green Magz</description>
	<lastBuildDate>Mon, 06 Feb 2012 08:54:43 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Usaha Memperlambat Perubahan Iklim</title>
		<link>http://matoa.org/usaha-memperlambat-perubahan-iklim/</link>
		<comments>http://matoa.org/usaha-memperlambat-perubahan-iklim/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Jan 2012 06:36:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matoa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perubahan iklim]]></category>
		<category><![CDATA[memperlambat pemanasan global]]></category>
		<category><![CDATA[memperlambat perubahan ilim]]></category>
		<category><![CDATA[negara beres]]></category>
		<category><![CDATA[negara bersalju]]></category>
		<category><![CDATA[negara bersalju dan beres]]></category>
		<category><![CDATA[pemansan global]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://matoa.org/?p=6904</guid>
		<description><![CDATA[Penelitian terbaru yang dilakukan ilmuwan NASA, jika diimplementasikan bisa jadi memperlambat pemanasan global, meningkatkan kesehatan, dan produksi pertanian.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://matoa.org/usaha-memperlambat-perubahan-iklim/gunung-salju/" rel="attachment wp-att-6905"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-6905" title="gunung salju" src="http://matoa.org/wp-content/uploads/2012/01/gunung-salju-200x200.jpg" alt="" width="200" height="200" /></a>Penelitian terbaru yang dilakukan ilmuwan NASA menyoroti hal penting pengukuran pengendalian polusi udara yang jika diimplementasikan bisa jadi memperlambat pemanasan global, meningkatkan kesehatan, dan produksi pertanian.<span id="more-6904"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Penelitian ini yang dilakukan Drew Shindell dari <em>NASA Goddard Institute for Space Studies (GISS)</em> di New York, menemukan bahwa memfokuskan pengukuran-pengukuran ini mungkin memperlambat pemanasan global 0,9 <sup>o</sup>F (0,5 <sup>O</sup>C) di tahun 2050, meningkatkan produksi pertanian hingga 135 juta ton per musim dan mencegah ratusan ribu kematian prematur setiap tahun. Sementara semua wilayah di dunia akan mendapatkan keuntungan, negara Asia dan Timur Tengah akan mendapatkan keuntungan kesehatan dan pertanian terbesar dari pengurangan emisi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Kami telah menunjukan bahwa implementasi praktik spesifik pengurangan emisi yang terpilih untuk memaksimalkan keuntungan iklim juga memiliki kepentingan ‘win-win’ bagi kesehatan manusia dan pertanian,” ujar Shindell.</p>
<p style="text-align: justify;">Penelitian ini dipublikasikan di jurnal <em>Science</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Shindell dan tim internasional lainnya mempertimbangkan sekitar 400 pengkuran kontrol berdasarkan teknologi yang dievaluasi oleh <em>International Institute for Applied Systems Analysis</em> di Luxenburg, Austria. Penelitian tersebut fokus terhadap 14 pengukuran dengan keuntungan iklim terbesar. Ke-empat belas tersebut akan mengekang pelepasan karbon hitam atau metana, polutan yang memperburuk perubahan iklim dan kerusakan manusia atau kesehatan tanaman baik secara langsung maupun yang disebabkan pembentukan ozon.</p>
<p style="text-align: justify;">Karbon hitam, produk pembakaran bahan bakar fosil atau biomasa seperti kayu atau kotoran hewan, mampu memperburuk pernafasan dan penyakit kardiovaskular. Partikel yang kecil juga menyerap radiasi dari sinar matahari yang menyebabkan atmosfer menghangat dan pergeseran pola hujan. Di samping itu, zat-zat tersebut memperhitam es dan salju, mengurangi reflektivitas mereka, dan mempercepat pemanasan global.</p>
<p style="text-align: justify;">Metana merupakan zat kimia yang tak berwarna dan mudah terbakar yang banyak terdapat di gas alam dan berpotensi sebagai gas rumah kaca. Ozon merupakan komponen penting kabut asap dan juga gas rumah kaca, kerusakan hasil pertanian dan kesehatan manusia.</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara karbon dioksida merupakan penggerak utama pemanasan global jangka panjang, membatasi karbon hitam dan metana merupakan aksi yang melengkapi yang akan berpengaruh lebih cepat karena dua polutan ini beredar keluar atmosfer lebih cepat.</p>
<p style="text-align: justify;">Shindell dan timnya menyimpulkan bahwa pengontrolan ini akan menyediakan proteksi terbesar melawan pemanasan global ke Rusia, Tajikistan, dan Kyrgyztan, negara-negara dengan salju yang berarea luas atau penutup es. Iran, Pakistan, dan Yordania akan mengalami peningkatan tinggi pada produksi pertanian. Asia Selatan dan wilayah Sahel di Afrika akan melihat perubahan paling penting pola hujan.</p>
<p style="text-align: justify;">Negara-negara Asia Selatan seperti India, Bangladesh, dan Nepal akan melihat pengurangan terbesar kematian prematur. Penelitian tersebut memperkirakan secara global 700.000 hingga 4,7 juta kematian prematur dapat dihentikam setiap tahun.</p>
<p style="text-align: justify;">Karbon hitam dan metana memiliki banyak sumber. Mengurangi emisi akan membutuhkan masyarakat untuk membuat peningkatan infrastruktur. Untuk metana, strategi penting ilmuwan mempertimbangkan penangkapan gas yang dikeluarkan fasilitas tambang batu bara dan minyak, dan gas alam, sambil mengurangi kebocoran saluran pipa jarak jauh, mencegah emisi dari pembuangan sampah, memperbarui pengolahan air limbah, aerasi sawah lebih banyak, dan membatasi emisi dari pupuk lahan.</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk karbon hitam, strategi yang dianalisa termasuk pemasangan penyaring pada kendaraan diesel, memelihara emisi tinggi kendaraan, memperbarui kompor, dan <em>boiler</em> dengan jenis pembakaran bersih, menggunakan <em>kiln</em> yang lebih efisien untuk produksi batu bata, memperbarui oven dan melarang pembakaran hasil pertanian.</p>
<p style="text-align: justify;">Ilmuwan tersebut menggunakan model komputer yang dikembangkan di GISS dan <em>The Max Planck Institute for Meteorology in Hmaburg</em>, Jerman, sebagai model dari efek pengurangan emisi. Model tersebut menunjukan keuntungan yang luas pengurangan metana karena metana didistribusikan di atmosfer. Karbon hitam jatuh dari atmosfer setelah beberapa hari, sehingga keuntunggan-keuntungan lebih kuat di beberapa wilayah, khususnya daerah yang banyak salju dan esnya.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Sumber: sciencedaily.com</p>
<p style="text-align: justify;">Sumber foto: blog.thesietch.org</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://matoa.org/usaha-memperlambat-perubahan-iklim/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Prediksi Penelitian: Keanekaragaman hayati Hilang karena Pemanasan Global dan Predasi</title>
		<link>http://matoa.org/prediksi-penelitian-keanekaragaman-hayati-hilang-karena-pemanasan-global-dan-predasi/</link>
		<comments>http://matoa.org/prediksi-penelitian-keanekaragaman-hayati-hilang-karena-pemanasan-global-dan-predasi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Jan 2012 07:28:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matoa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perubahan iklim]]></category>
		<category><![CDATA[akibat perubahan iklim]]></category>
		<category><![CDATA[iklim]]></category>
		<category><![CDATA[Keanekaragaman hayati]]></category>
		<category><![CDATA[keanekaragaman hayati musnah]]></category>
		<category><![CDATA[kerang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://matoa.org/?p=6813</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa keanekaragaman hayati punah dikarenakan perubahan iklim...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://matoa.org/prediksi-penelitian-keanekaragaman-hayati-hilang-karena-pemanasan-global-dan-predasi/kerang-2/" rel="attachment wp-att-6814"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-6814" title="kerang" src="http://matoa.org/wp-content/uploads/2012/01/kerang-200x200.jpg" alt="" width="200" height="200" /></a>Beberapa keanekaragaman hayati punah dikarenakan perubahan iklim yang menghasilkan kombinasi peningkatan suhu dan pemusnahan – dan mungkin akan lebih berbahaya dari yang diprediksikam, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh <em>University of British Columbia Zoologist Christopher Harley</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Harley mensurvei batas suhu rendah dan tinggi <em>barnacles</em> dan <em>mussels</em> dari pesisir pantai dingin bagian barat Pulau Vancouver hingga pantai hangat Pulau San Juan, di mana suhu air meningkat dari yang relatif dingin di tahun 1950an ke lebih hangat di tahun 2009 dan 2010.</p>
<p style="text-align: justify;">Menurut Christopher Harley, komunitas <em>intertidal</em> berbatu merupakan tempat ideal untuk penelitian efek pemanasan iklim. “Banyak organisme <em>intertidal</em> seperti <em>mussels</em> hidup dengan batas toleransi, sehingga efeknya dapat dipelajari dengan mudah”.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada tempat yang lebih dingin, <em>mussels </em>dan <em>rocky shore barnacles</em> mampu hidup di daerah tinggi pantai, di luar jangkauan predator mereka. Namun, karena suhu meningkat, <em>barnacles </em>dan <em>mussels</em> dipaksa untuk hidup pada daerah pantai yang lebih rendah, menempatkan mereka di tempat yang sama dengan predator bintang laut.</p>
<p style="text-align: justify;">Suhu tinggi sehari-hari selama musim kemarau telah meningkat hampir 3,5 derajat Celcius pada 60 tahun terakhir, menyebabkan batas atas habitat <em>barnacles </em>dan <em>mussels</em> mundur 50 cm di bawah pantai. Namun, efek predator pada batas rendah, telah tinggal secara konstan.</p>
<p style="text-align: justify;">“Beberapa jenis<em> mussels </em>punah secara lokal di tiga tempat yang disurvey” kata Harley.</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara itu, ketika tekanan dari predator bintang laut berkurang, spesies korban mampu berada di tempat yang lebih panas (tempat yang normalnya tidak ada spesies ini), dan akhirnya populasi spesies meningkat.</p>
<p style="text-align: justify;">Pemanasan tidak hanya berefek langsung pada spesies individual. Berdasarkan penelitian ini perubahan iklim dapat berinteraksi dengan spesies dan menghasilkan perubahan yang tak diharapkan di mana spesies hidup, struktur komunitas, dan keanekaragaman hayati.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Sumber: sciencedaily.com</p>
<p style="text-align: justify;">Sumber gambar: gurungeblog.wordpress.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://matoa.org/prediksi-penelitian-keanekaragaman-hayati-hilang-karena-pemanasan-global-dan-predasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Awan: Bukan Penyebab Perubahan Iklim</title>
		<link>http://matoa.org/awan-bukan-penyebab-perubahan-iklim/</link>
		<comments>http://matoa.org/awan-bukan-penyebab-perubahan-iklim/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Sep 2011 07:16:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matoa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perubahan iklim]]></category>
		<category><![CDATA[awan]]></category>
		<category><![CDATA[awan bukan penyebab perubahan iklim]]></category>
		<category><![CDATA[iklim]]></category>
		<category><![CDATA[penyebab perubahan iklim]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://matoa.org/?p=6054</guid>
		<description><![CDATA[Awan mampu menangkap panas dengan baik, namun awan bukan penyebab perubahan iklim...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://matoa.org/awan-bukan-penyebab-perubahan-iklim/awan/" rel="attachment wp-att-6055"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-6055" title="awan" src="http://matoa.org/wp-content/uploads/2011/09/awan-200x200.jpg" alt="" width="200" height="200" /></a>Menurut professor dari Texas A&amp;M University, awan hanya memperkuat perubahan iklim, bukan akar penyebab perubahan iklim.</p>
<p><span id="more-6054"></span>Profesor Texas A&amp;M University, Andrew Dessler merupakan salah satu ilmuwan yang ahli dalam variasi iklim, mengatakan data beberapa dekade yang mendukung tendensi dan pandangan yang lama dipegang bahwa awan terutama berperan sebagai “umpan balik” yang memperkuat pemanasan dari aktivitas manusia.</p>
<p>Profesor yang telah mempelajari El Nino dan La Nina selama lebih dari sepuluh tahun ini menemukan bahwa awan berperan sangat kecil dalam mengawali variasi-variasi iklim ini, dengan tendensi ilmu iklim dan bertentangan langsung dengan beberapa klaim yang lalu.</p>
<p>Pemanasan karena peningkatan emisi gas rumah kaca akan menyebabkan penjebakan panas lebih banyak yang akan menghasilkan pemanasan. Proses ini dikenal sebagai “arus balik awan” dan diprediksikan bertanggung jawab terhadap porsi peningkatan pemanasan abad selanjutnya.</p>
<p>Suhu lebih hangat berarti awan menjebak panas lebih banyak, sehingga akan menimbulkan suhu yang lebih panas.</p>
<p>Beberapa ilmuwan iklim terkemuka baru-baru ini berpendapat bahwa awan bertindak untuk menstabilkan iklim, berarti mencegah gas rumah kaca untuk menyebabkan pemanasan yang lebih signifikan.</p>
<p>Yang perlu diperhatikan adalah awan tidak menggantikan manusia sebagai penyebab pemanasan yang sekarang melanda bumi.</p>
<p>Ia menambahkan, lebih dari seabad, awan berperan penting dalam memperkuat perubahan iklim. Dengan adanya hasil analisis ini, secara jelas awan bukanlah penyebab perubahan iklim dan tidak mampu mencegah pemanasan global.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sumber: sciencedaily</p>
<p>Sumber gambar: matoa.org</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://matoa.org/awan-bukan-penyebab-perubahan-iklim/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perubahan Iklim dan Relokasi Spesies</title>
		<link>http://matoa.org/perubahan-iklim-dan-relokasi-spesies/</link>
		<comments>http://matoa.org/perubahan-iklim-dan-relokasi-spesies/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Aug 2011 06:59:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matoa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perubahan iklim]]></category>
		<category><![CDATA[biodiversity]]></category>
		<category><![CDATA[pengaruh perubahan iklim]]></category>
		<category><![CDATA[pengaruh perubahan iklim terhadap hewan dan tumbuhan]]></category>
		<category><![CDATA[relokasi]]></category>
		<category><![CDATA[relokasi spesies]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://matoa.org/?p=5918</guid>
		<description><![CDATA[Perubahan iklim tak hanya berpengaruh terhadap kehidupan manusia, namun berpengaruh juga terhadap flora dan fauna. Relokasi dibutuhkan untuk mempertahankan kesetimbangan ekosistem ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://matoa.org/perubahan-iklim-dan-relokasi-spesies/elangjawa/" rel="attachment wp-att-5919"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-5919" title="elangjawa" src="http://matoa.org/wp-content/uploads/2011/08/elangjawa-200x200.jpg" alt="" width="200" height="200" /></a>Menurut peneliti CSIRO, University of Queensland, Dr. Eve McDonald Madden, perubahan iklim lebih cepat dibandingkan spesies  beradaptasi atau berpencar. Para pengelola keanekaragaman hayati menginginkan pilihan adaptasi yang tersedia untuk membantu melestarikan keanekaragaman hayati di dunia.</p>
<p><span id="more-5918"></span>Pengendalian relokasi, dapat juga membantu kolonisasi spesies tanaman atau hewan yang mengikuti perpindahan dari area tersebut, atau tak dapat dipertahankan karena perubahan iklim. Perpindahan spesies dilakukan ke area yang kondisi iklimnya cocok dan sebelumnya belum ada spesies tanaman dan hewan yang dipindahkan ke area tersebut.</p>
<p>Rangka kerja pengambilan keputusan yang telah dikembangkan, menunjukan waktu paling tepat untuk memindahkan spesies tergantung dari beberapa faktor, seperti: jumlah populasi, kehilangan jumlah populasi yang diduga melalui relokasi, dan jumlah yang diharapkan yang dapat didukung area relokasi.</p>
<p>Perpindahan tersebut juga tergantung pada prediksi yang baik mengenai pengaruh perpindahan iklim pada spesies tertentu dan kesesuaian area yang dapat spesies huni (masalah sulit yang sering ditemui spesies langka dikarenakan informasi yang sedikit mengenai wilayah pindah).</p>
<p>Menurut peneliti CSIRO, Dr. Tara Martin, pengawasan dan pembelajaran mengenai seberapa potensialnya perubahan iklim mempengaruhi fungsi tanaman dan satwa di ekosistem asli mereka akan berperan penting dalam memastikan sukses – tidaknya rencana pengaturan relokasi. Pengelolaan penyesuaian yang aktif penting saat memastikan seperti apa perubahan iklim yang terjadi di habitat sebenarnya.</p>
<p>Tanpa relokasi spesies, kita akan kehilangan kehidupan liar yang paling penting bagi ekosistem bumi. Namun, dibutuhkan juga  ekosistem yang layak untuk perpindahan spesies – spesies tersebut.</p>
<p>Relokasi terkendali bukan solusi cepat. Relokasi terkendali akan digunakan pada beberapa keadaan spesifik untuk spesies yang sangat dijaga kelestariannya. Namun, bukan juga penyelamatan untuk semua keanekaragaman hayati yang menghadapi perubahan iklim.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sumber: sciencedaily.com</p>
<p>Sumber foto: <a href="http:// matoa.org" class="broken_link">matoa.org</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://matoa.org/perubahan-iklim-dan-relokasi-spesies/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hubungan Iklim dengan Orbit Bumi</title>
		<link>http://matoa.org/hubungan-iklim-dengan-orbit-bumi/</link>
		<comments>http://matoa.org/hubungan-iklim-dengan-orbit-bumi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 29 Jul 2011 08:16:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matoa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perubahan iklim]]></category>
		<category><![CDATA[bumi]]></category>
		<category><![CDATA[kaitan siklus orbit bumi dengan perubahan iklim]]></category>
		<category><![CDATA[orbit bumi]]></category>
		<category><![CDATA[penyebab perubahan iklim]]></category>
		<category><![CDATA[siklus orbit bumi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://matoa.org/?p=5692</guid>
		<description><![CDATA[Selama ini perubahan iklim selalu dikaitkan dengan GRK. Tapi tahukah Anda siklus orbit bumi turut mempengaruhi perubahan iklim, bagaimana mekanismenya?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Apa penyebab pemanasan global? Umumnya kita menjawab karena gas rumah kaca (GRK) yang semakin meningkat kandungannya di bumi. Hingga saat ini, para ilmuwan masih mencari tahu sejauh mana GRK mempengaruhi pemanasan global.</p>
<p><span id="more-5692"></span><a href="http://matoa.org/hubungan-iklim-dengan-orbit-bumi/bumi-2/" rel="attachment wp-att-5693"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-5693" title="bumi" src="http://matoa.org/wp-content/uploads/2011/07/bumi-200x200.jpg" alt="" width="200" height="200" /></a>Ahli geologi dari University of California di Santa Barbara AS, Lorraine Lisiecki melakukan penelitian terhadap sedimen-sedimen lautan dari 57 lokasi di dunia. Ahli geologi menyimpulkan ada kaitan antara iklim dan orbit bumi.</p>
<p><!--more-->Untuk informasi tambahan, orbit bumi mengelilingi matahari selalu berubah setiap 100.000 tahun dari bentuknya, dari bentuk bulat (<em>eccentricity</em>) hingga lebih lonjong selama interval tersebut. Sedangkan kemiringan bumi terhadap sumbunya akan berubah dalam siklus 41.000 tahun.</p>
<p>Berdasarkan riset pembentukan <em>glacier</em> atau lapisan es di permukaan bumi terjadi setiap 100.000 tahun, siklus yang sama dengan berubahnya bentuk orbit bumi. Lisiecki menemukan fakta bahwa terjadinya perubahan iklim dan eccentricity berkaitan satu sama lain. Fakta tersebut diperkuat dengan data hasil riset Lisiecki.</p>
<p>Selain itu, temuan mengejutkan lainnya adalah siklus pembentukan <em>glacier</em> terbesar terjadi pada saat perubahan yang paling lemah dari bentuk orbit bumi dan juga sebaliknya. Menurut ilmuwan di Universitas California tersebut iklim bumi memiliki kestabilan internal akibat sensitivitas perubahan orbit.</p>
<p>Kesimpulan laporan riset yang diterbitkan di jurnal Nature Geoscience ini adalah perubahan iklim memiliki pola selama lebih dari jutaan tahun dan terkait dengan tiga sistem orbit yang berbeda, yaitu kemiringan terhadap sumbu dan bentuk orbit serta perubahan orientasi pada sumbu rotasi.</p>
<p>Hasil riset tersebut memang melegakan, namun tidak seharusnya manusia bermalas-malasan untuk menjaga bumi dan menunggu selama 100.000 tahun agar lapisan es di kutub dan puncak gunung kembali seperti semula.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sumber: planethijau.com</p>
<p>Sumber foto: matoa.org</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://matoa.org/hubungan-iklim-dengan-orbit-bumi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Fakta Pemanasan Global dan Perubahan Iklim</title>
		<link>http://matoa.org/fakta-pemanasan-global-dan-perubahan-iklim/</link>
		<comments>http://matoa.org/fakta-pemanasan-global-dan-perubahan-iklim/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 Apr 2011 10:32:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matoa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perubahan iklim]]></category>
		<category><![CDATA[akibat perubahan iklim]]></category>
		<category><![CDATA[penyebab perubahan iklim]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://matoa.org/?p=3825</guid>
		<description><![CDATA[Pemanasan global menjadi isu lingkungan yang tak ada habisnya. Apa saja penyebanya, bagaimana terjadi, dan apa yang akan terjadi?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="attachment wp-att-3826" href="http://matoa.org/fakta-pemanasan-global-dan-perubahan-iklim/perubahan-iklim/"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-3826" title="perubahan iklim" src="http://matoa.org/wp-content/uploads/2011/04/perubahan-iklim-200x200.jpg" alt="" width="200" height="200" /></a>Pemanasan global atau perubahan iklim merupakan hal yang menunjukan tak ada tanda pendinginan. Berikut akan disajikan bagaimana pemanasan global terjadi, apa yang menyebabkannya, dan cara bagaimana pemanasan global akan mengubah planet.</p>
<p><span id="more-3825"></span>Apakah pemanasan global terjadi?</p>
<p>Sebenarnya, bumi sudah memperlihatkan banyak gejala perubahan iklim di seluruh dunia.</p>
<ul>
<li>Suhu rata-rata telah meningkat 1,4 derajat Fahrenheit (0,8 derajat Celcius) di seluruh dunia sejak 1880, kebanyakan terjadi pada dekade terakhir, perhitungan Institut Goddard NASA untuk studi ruang angkasa.</li>
<li>Tingkat pertumbuhan pemanasan. Dua dekade terakhir abad ke-20 merupakan terpanas dalam 400 tahun ditambah kemungkinan terhangat selama beberapa millennium, berdasarkan beberapa studi iklim. Dan  United Nations&#8217; Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) melaporkan bahwa 11 dari 12 tahun terakhir di antara daftar terhangat sejak 1850.</li>
<li>Es kutub utara menghilang secara cepat, dan wilayah tersebut dapat memiliki musim panas-bebas es pertama di tahun 2040 atau mungkin lebih cepat. Beruang kutub dan adat di kutub telah menderita akibat kerusakan es laut.</li>
<li>Glasier dan gunung salju meleleh dengan cepat, Taman Nasional Glasier Montana saat ini hanya memiliki 27 glasier, bayngkan 150 di tahun 1910. Dengan belahan utara, pelelehan tambahan datang seminggu sebelum musim semi dan membeku seminggu kemudian.</li>
</ul>
<p>Apakah manusia menyebabkannya?</p>
<p>Laporan yang berdasarkan penelitian 2500 ilmuwan di lebih 130 negara menyimpulkan manusia telah membawa sepenuhnya atau mungkin sebagian besar pemanasan planet ini. Manusia yang menyebabkan pemanasan global sering dikenal sebagai perubahan iklim antropogenic.</p>
<ul>
<li>Industry, deforestasi, dan polusi udara telah meningkatkan konsentrasi uap air, karbondioksida, metana, oksida nitrat, beberapa gas rumah kaca  di atmosfer yang membantu menahan panas di permukaan bumi.</li>
<li>Manusia menuangkan karbondiokasida ke sekeliling lebih cepat dibandingkan dengan tanaman dan lautan.</li>
<li>Gas-gas yang bertahan di dalam atmosfer selama bertahun-tahun, berarti bahwa walaupun disebut emisi telah dimusnahkan, tetapi tidak secara langsung menyelesaikan pemanasan global.</li>
<li>Beberapa spesialis mengindikasikan bahwa siklus karbon dalam orbit bumi dapat mengubah pancaran planet terhadap cahaya matahari, yang mungkin menjelaskan tren saat ini. Bumi memang mengalami siklus pemanasan dan pendinginan yang kasar setiap ratusan ribu tahun sebagai akibat dari pergeseran orbital, namun perubahan yang disebut telah terjadi selama rentang beberapa abad. Perubahan saat ini telah terjadi dalam seratus tahun atau lebih sedikit.</li>
</ul>
<p>Apa yang akan terjadi?</p>
<p>Tindak lanjut menggambarkan peringatan pemanasan global yang dapat membawa ke dalam skala-besar kekurangan makanan dan air juga memiliki efek bencana pada hewan.</p>
<ul>
<li>Permukaan laut akan meningkat dengan 7 hingga 23 inci (18 hingga 59 cm) di akhir abad. Kenaikan 4 inci (10 cm) akan menyebabkan banjir di perairan laut selatan dan rawa yang besar pada Asia Tenggara.</li>
<li>Glasier di seluruh dunia dapat berkurang, menyebabkan permukaan laut meningkat untuk sementara dan bagian air tawar meluap.</li>
<li>Badai yang besar, kekeringan, gelombang panas, bekerja sama dengan benacana alam dapat menjadi tempat umum di belahan dunia. Pertumbuhan gurun juga dapat memicu kekurangan makanan di banyak daerah.</li>
<li>Lebih dari sejuta spesies menghadapi kepunahan dari pelenyapan habitat, pergantian ekosistem, dan mengasamkan lautan</li>
</ul>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sumber: ezinearticles.com</p>
<p>Sumber foto: umukhulsum.wordpress.com</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://matoa.org/fakta-pemanasan-global-dan-perubahan-iklim/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Efek Pemanasan Global Terhadap Kenaikan Permukaan Air Laut</title>
		<link>http://matoa.org/efek-pemanasan-global-terhadap-kenaikan-permukaan-air-laut/</link>
		<comments>http://matoa.org/efek-pemanasan-global-terhadap-kenaikan-permukaan-air-laut/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Mar 2011 09:14:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matoa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perubahan iklim]]></category>
		<category><![CDATA[kenaikan air laut]]></category>
		<category><![CDATA[pemanasan global. efek pemanasan global]]></category>
		<category><![CDATA[Pengaruh pemanasan global terhadap kenaikan air laut]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://matoa.org/?p=3469</guid>
		<description><![CDATA[Kenaikan pemukaan air laut diakibatkan adanya pemanasan global yang berpengaruh terhadap pelelehan es.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://matoa.org/wp-content/uploads/2011/03/es-abadi.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-3470" title="es abadi" src="http://matoa.org/wp-content/uploads/2011/03/es-abadi.jpg" alt="" width="219" height="230" /></a>Pemanasan global merupakan kenaikan suhu permukaan bumi. Secara global, suhu permukaan bumi telah mengalami kenaikan sekitar 0,74<sup>o</sup>C antara awal dan akhir abad ke-20. Perubahan ini berpengaruh besar terhadap iklim bumi. Salah satunya adalah kenaikan permukaan pada samudra dan lautan.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-3469"></span>Air lautan akan menyebar dan berkontribusi terhadap kenaikan permukaan air laut. Pada pertengahan abad ke-20, penyebaran panas  menyebabkan kenaikan permukaan air laut setinggi 2,5 cm. Berdasarkan pengukuran yang dilakukan sejak 1993-2003 mengindikasikan laju peningkatan rata-rata adalah 3,1mm/tahun. (Bindoff, NL et al., &#8220;Observations: Oceanic Climate Change and Sea Level&#8221;, Climate Change 2007)</p>
<p style="text-align: justify;">Penyebab alami kenaikan permukaan laut adalah pelelehan es di pulau, air tercipta dari cadangan oksigen dan hidrogen di kerak bumi, air dari dalam ruang, dan ketika daratan runtuh karena penyebaran panas. Ketika gunung berapi meletus, air dari bawah daratan bumi dikeluarkan dalam bentuk uap dan mengalir ke samudra. Kejadian seperti ini berkontribusi pada kenaikan permukaan laut, walau tidak berpengaruh banyak. Peruntuhan daratan besar-besaran dapat menjadi penyebab kenaikan permukaan air laut. Peristiwa tsunami yang menyanpu daratan dunia merupakan hasil dari peristiwa alam tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Kenaikan suhu bumi rata-rata menghasilkan peleburan es di seluruh bumi. Glacier dan lapisan es menutupi 10% permukaan bumi. Pada abad ke-20, banyak es meleleh dari yang seharusnya. Contoh yang paling terkenal adalah Gunung Kilimanjoro di Afrika. Pada abad lalu, es dingin berkurang 80% dan sepertinya akan menghilang di dekade berikutnya apabila tingkat kehilangan seperti ini. Efek yang sama terjadi di Alaska, Himalaya, dan Andes. Akibat pelelehan glasir dan permukaan es terjadi kenaikan permukaan air laut setinggi 2,5 cm pada pertengahan abad ke-20.</p>
<p style="text-align: justify;">Efek <em>green house</em> atau rumah kaca menyebabkan kenaikan permukaan air. Menurut para ilmuwan, kenaikan tersebut disebabkan oleh aktivitas manusia. Gas rumah kaca tercipta dan terlepas akibat aktivitas manusia. Lapisan pelindung bumi dari sinar matahari terpengaruh oleh pembakaran BBM (Bahan Bakar Minyak). Banyak sinar matahari disimpan di dalam atmosfer, sehingga bumi menjadi lebih hangat. Akibat dari kenaikan suhu, banyak daratan es di kutub Utara dan Selatan mulai meleleh sehingga permukaan air laut meningkat lebih cepat dari seharusnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam rangka melawan pemanasan global, kita perlu mengerti fungsi planet bumi. Dengan kebijakan lingkungan yang tepat, kita dapat memperlambat efek pemanasan global. Penting bagi kita, meninggalkan bumi yang sehat untuk anak cucu kita.</p>
<p style="text-align: justify;">Salam Sahabat Hijau</p>
<p style="text-align: justify;">Sumber: ezinearticles.com</p>
<p style="text-align: justify;">Sumber foto: arumsekartaji.wordpress.com</p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://matoa.org/efek-pemanasan-global-terhadap-kenaikan-permukaan-air-laut/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perubahan Iklim dan Efeknya</title>
		<link>http://matoa.org/perubahan-iklim-dan-efeknya/</link>
		<comments>http://matoa.org/perubahan-iklim-dan-efeknya/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Feb 2011 23:05:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matoa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perubahan iklim]]></category>
		<category><![CDATA[efek perubahan iklim]]></category>
		<category><![CDATA[iklim]]></category>
		<category><![CDATA[penyebab dan efek perubahan iklim]]></category>
		<category><![CDATA[penyebab perubahan iklim]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://matoa.org/?p=3320</guid>
		<description><![CDATA[Perubahan iklim kian marak, namun apakah kita sudah tahu definisi dan efek yang ditimbulkan perubahan iklim dan penyebabnya?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://matoa.org/wp-content/uploads/2011/02/climate-change.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-3321" title="climate change" src="http://matoa.org/wp-content/uploads/2011/02/climate-change-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>Apa definisi perubahan iklim? Perubahan iklim dapat diartikan sebagai perubahan variabel iklim, khususnya suhu dan hujan yang terjadi secara berangsur-angsur dalam jangka waktu yang lama antara 50 hingga 100 tahun. Selain itu, perubahan iklim disebabkan oleh aktivitas manusia, terutama yang berhubungan dengan konsumsi bahan bakar dan daratan.</p>
<p><span id="more-3320"></span>Aktivitas manusia menyebabkan kenaikan konsentrasi atmosfer. Aktivitas kita menyebabkan perubahan iklim karena pemanasan global. Gas-gas karbondioksida, metana, dan oksida nitrat berbentuk gas sehingga berpengaruh terhadap peningkatan suhu yang dapat meneruskan gelombang pendek yang tak panas menjadi gelombang panjang yang panas. Penyebab utama perubahan iklim adalah pembakaran bahan bakar minyak, pelepasan gas rumah kaca, pabrik, dan kendaraan bermotor.</p>
<p>Perubahan iklim memiliki efek yang besar terhadap kehidupan kita saat ini. Efek yang ditimbulkan dengan adanya perubahan iklim terhadap pertanian adalah menurunnya produktivitas pertanian karena peningkatan kemandulan biji-bijian, penurunan lahan yang dapat menurunkan penyerapan nutrisi dan pemingkatan penyebaran hama dan penyakit. Penstabilan persediaan makanan membutuhkan dana yang tak sedikit. Penstabilan membutuhkan perbaikan fasilitas irigasi dan penambahan kondisi faktor pendukung.</p>
<p>Efek perubahan iklim mempengaruhi umat manusia, kehidupan liar, dan lingkungan sekitar. Dalam bentuk dasarnya, pemanasan global adalah peningkatan suhu permukaan bumi dan atmosfer.</p>
<p>Suhu udara yang lebih panas akan menyebabkan perubahan spesies vegetasi dan ekosistem. Area sekitar gunung akan kehilangan banyak vegetasi asli dan digantikan oleh vegetasi dataran rendah. Lebih jauh lagi, stabilitas dataran di sekitar gunung terganggu dan sulit mempertahankan vegetasi asli.</p>
<p>Perubahan iklim merupakan penyebab melelehnya gletser, angin ribut, sunami, perbedaan tinggi pada iklim, dan perubahan distribusi hujan. Adanya peningkatan suhu udara menyebabkan pembentukan tekanan rendah dan tinggi di beberapa daerah yang menyebabkan pembentukan angin ribut dan kondisi iklim ekstrim.</p>
<p>Efek lain dari pemanasan global adalah penipisan lapisan ozon, tidak ada batas penghalang untuk mencegah panas sinar matahari. Sama halnya dengan peningkatan suhu, adanya perubahan pada kulit sehingga menyebabkan kanker kulit disebabkan oleh sinar ultraviolet. Hal ini menyebabkan pembentukan mutasi yang akan ditransmisikan ke generasi selanjutnya dan menyebabkan kerusakan genetik. Pelelehan es menyebabkan peningkatan permukaan laut perlahan-lahan, jika ini berkelanjutan akan menyebabkan tenggelamnya beberapa pulau dalam beberapa tahun ke depan.</p>
<p>Efek perubahan iklim membuat kita sadar perlunya melakukan sesuatu untuk mencegah efek negatif pemanasan global. Hal yang dapat dilakukan untuk mencegah pemansan global adalah mencari energi alternatif yang lebih ramah lingkungan, daur-ulang, menanam pohon, dan konservasi listrik. Sebelum perubahan iklim berakibat lebih buruk terhadap kehidupan kita, sebaiknya kita mengambil langkah awal mencegah pemanasan global. Sehingga, bumi dapat dijadikan tempat hidup bagi generasi yang akan datang.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sumber: ezinearticles.com</p>
<p>Sumber foto: sudhew.wordpress.com</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://matoa.org/perubahan-iklim-dan-efeknya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Energi Terbarukan (Bagian 2)</title>
		<link>http://matoa.org/energi-terbarukan-bagian-2/</link>
		<comments>http://matoa.org/energi-terbarukan-bagian-2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Feb 2011 12:58:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matoa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Perubahan iklim]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://matoa.org/?p=3292</guid>
		<description><![CDATA[Energi alam terbarikan bermacam-macam dan memiliki potensi yang besar jika mampu dikembangkan secara maksimal.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_3294" class="wp-caption alignleft" style="width: 160px"><a href="http://matoa.org/wp-content/uploads/2011/02/energi2.jpg"><img class="size-thumbnail wp-image-3294 " title="energi2" src="http://matoa.org/wp-content/uploads/2011/02/energi2-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a><p class="wp-caption-text">Gas Alam Terkompresi</p></div>
<p>Pada artikel pertama, telah dijelaskan lima jenis energi terbarukan alam yang dapat digunakan sebagai energi alternatif. Berikut ini akan dipaparkan lima energi alternatif terbarukan yang ramah lingkungan:</p>
<p><span id="more-3292"></span>1. Energi Radiasi</p>
<p>Menurut fisika, radiasi merupakan proses yang menggambarkan energi bergerak melalui media atau ruang yang akhirnya akan diserap benda lain. Proses radiasi ionisasi sering dihubungkan dengan proses radiasi. Beberapa proses seperti senjata nuklir, reaktor nuklir, dan zat radioaktif merupakan contoh proses ionisasi.</p>
<p>Energi radiasi sering dimanfaatkan dalam beberapa bidang seperti kedokteran (diagnosis, pengobatan, penelitian, dan sinar X), komunikasi (radiasi elektromagnetik), dan iptek.</p>
<p>2. Energi Panas Bumi</p>
<p>Energi panas yang tersimpan dalam batuan di bawah permukaan bumi dan fluida yang terkandung di dalamnya disebut energi panas bumi. Sejak 1913, Itali  telah memanfaatkan energi panas bumi untuk pembangkit tenaga listrik. Kini energi panas bumi sebagai pembangkit listrik telah dimanfaatkan di 24 negara, termasuk Indonesia.</p>
<p>Daya panas bumi diekstrak melalui proses alami ke salah satu unit pembangkit listrik tenaga panas bumi. Energi ini unggul karena biaya yang digunakan efektif, handal, dan ramah lingkungan.</p>
<p>3. Biomassa</p>
<p>Umumnya biomassa merupakan bagian materi tumbuhan yang digunakan untuk produksi serat, bahan kimia, atau panas. Dalam industri produksi energi, biomassa merujuk pada materi biologi, hidup atau mati yang mampu dimanfaatkan sebagai bahan bakar atau  untuk produksi industri.</p>
<p>Biasanya bahan berserat ini diukur dengan berat kering 0,5 %. Sebagai informasi, pasokan listrik di Amerika Serikat berasal dari pembangkit listrik biomassa. Biomassa merupakan sumber energi alternatif  berasal dari tumbuhan yang ramah lingkungan.</p>
<p>4. Gas Alam Terkompresi (CNG)</p>
<p>Gas alam bertekanan atau Compressed Natural Gas (CNG)  dikenal sebagai bahan bakar gas. Bahan bakar ini tak menghasilkan polusi yang besar kerena menghasilkan gas emisi yang ramah lingkungan. CNG diproses dari metana (CH4) yang diekstrak dari gas alam.</p>
<p>Mesin otto dan diesel dapat menggunakan CNG. CNG tak bisa disamakan dengan LNG dan LPG, CNG merupakan gas terkompresi sedangkan LNG adalah gas cair. Lain halnya dengan LPG, gas ini merupakan campuran terkompresi dari propana dan butana.</p>
<p>5. Daya Nuklir</p>
<p>Energi yang dihasilkan sumber energi alternatif ini  sangat besar. Reaksi nuklir berhubungan dengan daya nuklir. Energi yang dihasilkan dapat digunakan untuk pembangkitan panas, populasi, dan pembangkit listrik.</p>
<p>Kelima sumber energi di atas merupakan energi alam terbarukan yang ramah lingkungan. Energi-energi tersebut berpotensi jika mampu dimanfaatkan secara maksimal.</p>
<p>Sumber: dari berbagai sumber</p>
<p>Sumber foto: migasnet07-hadyan8064.blogspot.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://matoa.org/energi-terbarukan-bagian-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lilypad, Kota Terapung Masa Depan</title>
		<link>http://matoa.org/lilypad-kota-terapung-masa-depan/</link>
		<comments>http://matoa.org/lilypad-kota-terapung-masa-depan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Feb 2011 07:31:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matoa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perubahan iklim]]></category>
		<category><![CDATA[Kota Masa Depan]]></category>
		<category><![CDATA[kota terapung masa depan. rumah masa depan]]></category>
		<category><![CDATA[Lilypad. Kota Apung]]></category>
		<category><![CDATA[Llilypad]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://matoa.org/?p=3250</guid>
		<description><![CDATA[Lylipad atau kota terapung merupakan rancangan Vincent Callebaut, seorang arsitek asal Belgia. Ia menunjukkan protipe kota ecopolis dengan segala kemudahannya. Seperti ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_3251" class="wp-caption alignleft" style="width: 160px"><a href="http://matoa.org/wp-content/uploads/2011/02/lilypad.jpg"><img class="size-thumbnail wp-image-3251" title="lilypad" src="http://matoa.org/wp-content/uploads/2011/02/lilypad-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a><p class="wp-caption-text">Lilypad di lihat dari atas</p></div>
<p>Pemanasan global kian mengancam keberlangsungan hidup mahluk di bumi. Berbagai peralatan dan kebutuhan perlengkapan kian diperbaharui untuk mengantisipasi adanya perubahan iklim di dunia. Seperti, mobil bertenaga udara tanpa polusi, mesin pencuci pakaian yang menggunakan air dan energi kurang dari 2%, dan <em>ecolaptop</em>, notebook bercover bambu dan berelemen plastik tanpa cat dan <em>electroplating</em>.</p>
<p><span id="more-3250"></span>Menurut ramalan GIEC (<em>Intergovernmental Group on the Evolution of the Climate</em>), permukaan air laut meningkat 20-90 cm pada abad ini. Para ilmuwan dunia memperkirakan kenaikan suhu 1<sup>o</sup>C akan meningkatkan permukaan air laut sebesar 1 meter. Akibat peningkatan tersebut, beberapa daratan di dunia akan tenggelam seperti 0,05% di Uruguay, 1% di Mesir, dan 6%di Belanda. Penenggelaman daratan tersebut akan berpengaruh pada pencemaran keasinan air laut dan merusak ekosistem air laut.</p>
<p>Seorang arsitek asal Belgia, Vincent Callebaut menawarkan terobosan baru untuk menghadapi masalah ini. Ia menciptakan kota terapung yang merupakan prototipe kota amfibi dengan komposisi setengah daratan dan akuatik. Kota terapung ini dapat digerakkan menuju pesisir pantai atau digerakkan bebas mengikuti arus laut.</p>
<p>Kota yang disebut Lilypad ini mampu menampung 50.000 penduduk dan mampu menghidupi dirinya sendiri. Disebut lilypad karena struktur mengapungnya terinspirasi oleh daun lili yang diperbesar 250 kali. Kulitnya yang tebal terbuat dari serat polyester yang dilapisi oleh titanium oksida, seperti anatase yang mampu mengadsorbsi polusi atmosfer dengan efek fotokatalitik. Kota ini berkonsep hotel bahtera yang ditafsirkan mampu melindungi manusia dari perubahan iklim.</p>
<p>Kota ini mengembangkan flora dan faunanya di sekitar danau yang dapat menampung dan menjernihkan air hujan. Tiga marina dan gunung yang dirancang, didedikasikan untuk kepentingan perkantoran, pertokoan, dan sarana rekreasi. Kota ini diharapkan mampu menciptakan hubungan harmonis antara manusia dan alam.</p>
<p>Selain itu, kota terapung ini mampu mengatasi empat masalah utama manusia (menurut OECD pada Maret 2008) yaitu iklim, biodiversitas, air, dan kesehatan. Kota lilypad ini mampu mencapai neraca energi positif tanpa emisi karbon dengan integrasi energi terbarukan (solar, energi panas dan fotovoltaik, energi angin, hidraulik, energi <em>osmotic </em>dan biomassa). Sehingga didapatkan energi yang lebih banyak dibanding yang dikonsumsi.</p>
<p>Keunggukan lain ecopolis terapung ini adalah dapat menghasilkan dan melunakkan oksigen dan listrik sendiri. Cara yang digunakan adalah mendaur ulang karbon dioksida dan limbahnya, serta menjernihkan dan melunakkan air yang sudah terpakai.</p>
<p>Sayangnya, para pecinta kota ini harus menunggu lebih lama lagi yaitu sekitar tahun 2100. Kota apung dengan desain menawan ini diharapkan mampu menjadi salah satu solusi perpindahan penduduk akibat perubahan iklim.</p>
<p>Sumber: anehsemua.blogspot.com dan majarimagazine.com</p>
<p>Sumber foto: anehsemua.blogspot.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://matoa.org/lilypad-kota-terapung-masa-depan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

