<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>MATOA &#187; Perubahan iklim</title>
	<atom:link href="http://matoa.org/category/perubahan-iklim/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://matoa.org</link>
	<description>Green Magz</description>
	<lastBuildDate>Mon, 14 May 2012 08:48:35 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=</generator>
		<item>
		<title>Sumber Metana Arktik Ditemukan</title>
		<link>http://matoa.org/sumber-metana-arktik-ditemukan/</link>
		<comments>http://matoa.org/sumber-metana-arktik-ditemukan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 May 2012 07:41:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matoa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perubahan iklim]]></category>
		<category><![CDATA[arktik]]></category>
		<category><![CDATA[gas metana]]></category>
		<category><![CDATA[gas rumah kaca]]></category>
		<category><![CDATA[metana]]></category>
		<category><![CDATA[samudra arktik]]></category>
		<category><![CDATA[sumber gas metana]]></category>
		<category><![CDATA[sumber gas metana di bumi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://matoa.org/?p=7515</guid>
		<description><![CDATA[gas metana yang beku dalam penyimpanan di tanah tundra arktik atau lapisan lautan mudah  untuk dilepaskan di atmosfer.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://matoa.org/wp-content/uploads/2012/05/samudra-arktik.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-7516" title="samudra arktik" src="http://matoa.org/wp-content/uploads/2012/05/samudra-arktik.jpg" alt="" width="329" height="233" /></a>Wilayah Arktik merupakan rumah penyimpanan metana (gas rumah kaca) yang sekarang rapuh dan mengalami banyak perubahan. Iklim bumi yang semakin menghangat membuat gas metana yang beku dalam penyimpanan di tanah tundra arktik atau lapisan lautan mudah  untuk dilepaskan di atmosfer, di mana gas tersebut dapat menambah pemanasan global.<span id="more-7515"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Eric Kort dari NASA’s Jet Propulsion Laboratory, Pasadena, Calif memimpin analisa tersebut ketika masih menjadi murid di Universitas Harvard, Cambridge, Mass. Penelitian ini dilakukan sebagai bagian dari HIAPER Pole-to-Pole Observations (HIPPO) airborne campaign, yang menerbangkan peralatan National Science Foundation (NSF) pesawat Gulfstream V di Samudra Pasifik dari kutub ke kutub, mengumpulkan pengukuran atmosfer dari permukaan bumi hingga ketinggian 8,7 mil (14 km). Kampanye tersebut, didanai oleh NSF dengan dana tambahan dari NCAR, NASA, dan National Oceanic and Atmospheric Administration yang dirancang untuk meningkatkan pemahaman dari mana gas rumah kaca berasal dan disimpan di bagian sistem bumi.</p>
<p style="text-align: justify;">Selama 5 penerbangan HIPPO di arktik dari 2009 – 2010, tim Kort mengamati peningkatan metana selama terbang di ketinggian yang rendah hingga daerah terpencil di Samudra Arktik, bagian utara lautan Chukchi dan Beaufort. Tingkat metana sekitar 1,5% lebih besar dari tingkat normal.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari mana metana berasal? Tim tersebut mendeteksi tidak ada karbon monoksida di atmosfer yang dapat menunjuk kemungkinan kontribusi dari aktivitas pembakaran manusia. Sebagai tambahan, berdasarkan tahun, lokasi, dan sifat emisi, sangat tidak mungkin metana berasal dari lahan dengan ketinggian yang tinggi atau penyimpanan geologi.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan membandingkan lokasi tingkat peningkatan metana dengan pengukuran udara, karbon monoksida, kejenuhan air, dan ozon, para peneliti tersebut mencapai kesimpulan jika sumbernya adalah permukaan samudra, melalui retakan-retakan pada laut es arktik dan area laut dengan tutupan es. Retakan tersebut membuka air laut arktik, menyebabkan samudra tersebut berinteraksi dengan udara, dan metana yang ada di permukaan air untuk keluar ke atmosfer. Tim tersebut mendeteksi tidak ada peningkatan metana saat terbang melewati area dengan es padat.</p>
<p style="text-align: justify;">Kort mengatakan penelitian sebelumnya yang telah dilakukan telah mengukur konsentrasi tinggi metana di permukaan air arktik, namun sebelum sekarang tidak ada yang telah memprediksikan bahwa kenaikan-kenaikan metana di lautan akan menemukan jalan mereka untuk ada di atmosfer.</p>
<p style="text-align: justify;">Bagaimana metana dihasilkan? Para ilmuwan belum yakin, namun Kort mendapat petunjuk produksi biologis dari mahluk hidup di permukaan air arktik seperti culprit (orang yang melakukan kejahatan). Menurut Kort “Sangat mungkin jika area luas seperti lautan dengan lelehan es dan menampakkan lebih banyak air lautan, produksi metana akan meningkat, menyebabkan emisi metana yang semakin besar,”. Ke depannya penelitian akan dibutuhkan untuk memahami peningkatan metanan dan proses emisi terkait dan untuk mengkur total kontribusi tingkat metana di arktik keseluruhan.</p>
<p style="text-align: justify;">“Sementara tingkat metana yang dideteksi tidak terlalu besar, wilayah sumber potensi, samudra arktik luas, sehingga penemuan kami merupakan sumber global baru metana. Karena es penutup pada samudra arktik terus menerus mundur pada iklim yang menghangat, sumber metana akan meningkat juga. Sangat penting bagi kita mengenali potensi kontribusi dari sumber metana ini untuk menghindari salah penafsiran perubahan tingkat metana yang diamati di masa depan.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Sumber: <a href="http://sciencedaily.com">sciencedaily.com</a></p>
<p style="text-align: justify;">Sumber gambar: inilahinfo.blogspot.com</p>
<div style="text-align: justify;"></div>
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://matoa.org/sumber-metana-arktik-ditemukan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pupuk Bertanggung Jawab Meningkatnya Nitro Oksida di Atmosfer</title>
		<link>http://matoa.org/pupuk-bertanggung-jawab-meningkatnya-nitro-oksida-di-atmosfer/</link>
		<comments>http://matoa.org/pupuk-bertanggung-jawab-meningkatnya-nitro-oksida-di-atmosfer/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Apr 2012 08:48:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matoa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perubahan iklim]]></category>
		<category><![CDATA[efek negatif pupuk]]></category>
		<category><![CDATA[efek penggunaan pupuk terhadap iklim]]></category>
		<category><![CDATA[penggunaan pupuk]]></category>
		<category><![CDATA[peningkatan kandungan nitro oksida pada atmosfer]]></category>
		<category><![CDATA[pupuk dan perubahan iklim]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://matoa.org/?p=7404</guid>
		<description><![CDATA[Universitas California, Berkeley, ahli kimia telah menemukan bukti bahwa peningkatan penggunaan pupuk bertanggung jawab terhadap kenaikan signifikan kandungan nitro oksida di atmosfer...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://matoa.org/wp-content/uploads/2012/04/pupuk.jpg"><img class="alignleft  wp-image-7405" title="pupuk" src="http://matoa.org/wp-content/uploads/2012/04/pupuk.jpg" alt="" width="288" height="192" /></a>Universitas California, Berkeley, ahli kimia telah menemukan bukti bahwa peningkatan penggunaan pupuk lebih dari 50 tahun yang lalu bertanggung jawab terhadap kenaikan signifikan kandungan nitro oksida di atmosfer, yang merupakan gas utama yang berkontribusi terhadap perubahan iklim.<span id="more-7404"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Ilmuwan iklim telah berasumsi bahwa penyebab peningkatan nitro oksida adalah nitrogen yang terkandung dalam pupuk, yang menstimulasi mikroba di tanah untuk mengkonversi nitrogen ke nitro oksida lebih cepat dari biasanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Penelitian terbaru dilaporkan pada isu April dalam <em>Journal Nature Geo-science</em>, menggunakan data isotop nitrogen untuk mengidentifikasi sidik jari yang jelas mengenai penggunaan pupuk dalam contoh udara dari Antartika dan Tasmania.</p>
<p style="text-align: justify;">“Penelitian ini merupakan yang pertama yang menunjukkan secara empiris dari data yang ada bahwa rasio isotop nitrogen di atmosfer dan bagaimana hal tersebut sudah berubah dari waktu-waktu merupakan sidik jari penggunaan pupuk,” <em> </em>kata ketua penilitian Kristie Boering, Profesor <em>Chemistry and of Earth and Planetary Science</em> di Universitas Kalifornia Berkeley.</p>
<p style="text-align: justify;">Menurutnya, hal tersebut bukan menjelek-jelekkan pupuk. Manusia tidak akan bisa menghentikan penggunaan pupuk. Namun, pihaknya berharap penelitian ini akan berkontribusi dalam perubahan penggunaan pupuk dan praktik pertanian yang akan membantu memitigasi pelepasan nitro oksida ke atmosfer.</p>
<p style="text-align: justify;">Sejak tahun 1750, tingkat nitro oksida di udara telah meningkat hingga 20%, dari di bawah 270 ppb menjadi lebih dari 320 ppb. Setelah karbon dioksida, metana, nitro oksida (N<sub>2</sub>O) merupakan potensi gas rumah kaca (GRK), menjebak panas, dan berkontribusi terhadap pemanasan global. Hal tersebut juga merusak ozon stratosfer, yang menjaga planet dari sinar ultraviolet yang berbahaya.</p>
<p style="text-align: justify;">Mencari tahu asal nitro oksida di atmofermer lebih sulit karena molekul dari lahan pertanian sepertinya sangat identik dari satu yang berasal dari hutan alam atau samudra jika mengukur konsentrasi total. Namun, perlakuan metabolisme mikroba mempengaruhi rasio isotop nitrogen mikroba N<sub>2</sub>O menghasilkan tanda sidik jari yang dapat dideteksi dengen tehnik sensitif.</p>
<p style="text-align: justify;">Sidik jari sumber nitrogen dapat dilacak karena bakteri dalam lingkungan yang kaya akan nitrogen, seperti lahan yang telah dipupuk lebih memilih menggunakan nitrogen-14 (<sup>14</sup>N), isotop yang paling umum dibanding nitrogen-15 (<sup>15</sup>N).</p>
<p style="text-align: justify;">Mikroba mampu mendiskrimisasikan nitrogen-15, sehingga sidik jari sumber N<sub>2</sub>O dari lahan yang telah dipupuk lebih besar proporsinya untuk nitrogen-14.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan mengukur rasio isotop nitrogen keseluruhan, rasio isotop pada atom pusat nitrogen, dan membandingkan atom pusat nitrogen dengan rasio isotop oksigen-18/oksigen-16, yang tidak berubah lebih dari 65 tahun, hal tersebut mampu menggambarkan gambar arahan yang konsisten pada pupuk dalam sumber utama peningkatan kandungan N<sub>2</sub>O di atmosfer.</p>
<p style="text-align: justify;">Rasio-rasio isotop tersebut juga menunjukkan bahwa penggunaan pupuk telah menyebabkan perubahan jalan mikroba tanah menghasilkan N<sub>2</sub>O. Output relatif bakteri penghasil N<sub>2</sub>O adalah peningkatan nitrifikasi dari 13 ke 23 di seluruh dunia, sementara output relatif bakteri yang menghasilkan N<sub>2</sub>O dengan denitrifikasi (biasanya tanpa ada oksigen) turun menjadi 87 ke 77%.</p>
<p style="text-align: justify;">Membatasi emisi nitro oksida dapat menjadi langkah utama mengurangi semua gas rumah kaca dan mengurangi pemanasan global. Salah satu pendekatan yang bisa dilakukan adalah waktu penggunaan pupuk tidak pada saat hujan, karena tanah yang basah, mikroba dapat menghasilkan nitro oksida yang cukup banyak secara tiba-tiba. Perubahan pada lahan yang digarap misalnya, penggunaan pupuk pada lahan dapat mengurangi produksi nitro oksida.</p>
<p style="text-align: justify;">Penelitian yang melibatkan analisa sidik jari isotop nitro oksida dari beberapa sumber, dapat membantu para petani menentukan strategi yang paling efektif. Hal tersebut juga membantu potensi pengaruh negatif pertumbuhan produk pertanian untuk <em>biofuel</em>, karena beberapa bahan baku membutuhkan pupuk yang menghasilkan N<sub>2</sub>O.</p>
<p style="text-align: justify;">Penelitian ini menunjukan pada kita agar kita bisa memprediksi lebih baik perubahannya, serta efeknya terhadap iklim dan penipisan lapisan stratosfer.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Sumber: sciencedaily.com</p>
<p style="text-align: justify;">Sumber gambar: dianpurwadi.blogspot.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://matoa.org/pupuk-bertanggung-jawab-meningkatnya-nitro-oksida-di-atmosfer/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perubahan Iklim Berdampak Terhadap Hujan Semakin Deras</title>
		<link>http://matoa.org/perubahan-iklim-berdampak-terhadap-hujan-semakin-deras/</link>
		<comments>http://matoa.org/perubahan-iklim-berdampak-terhadap-hujan-semakin-deras/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Mar 2012 06:40:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matoa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perubahan iklim]]></category>
		<category><![CDATA[hujan lebat]]></category>
		<category><![CDATA[intesitas hujan lebat]]></category>
		<category><![CDATA[perubahan iklim berdampak terhadap perubahan iklim]]></category>
		<category><![CDATA[perubahan iklim berpengaruh terhadap hujan lebat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://matoa.org/?p=7285</guid>
		<description><![CDATA[Model iklim telah lama memprediksikan bahwa pemanasan global akan meningkatkan intesitas hujan ekstrim. ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://matoa.org/perubahan-iklim-berdampak-terhadap-hujan-semakin-deras/hujan-lebat/" rel="attachment wp-att-7286"><img class="alignleft  wp-image-7286" title="hujan lebat" src="http://matoa.org/wp-content/uploads/2012/03/hujan-lebat.jpg" alt="" width="270" height="180" /></a>Model iklim telah lama memprediksikan bahwa pemanasan global akan meningkatkan intesitas hujan ekstrim. Penelitian terbaru dilakukan di <em>University of Miami </em>dan <em>University of Reading </em>(U.K.) memberikan bukti observasi yang pertama untuk mengkonfirmasi hubungan antara iklim yang semakin hangat dengan badai hujan yang semakin kuat.<span id="more-7285"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Salah satu dari tantangan serius yang akan dihadapi manusia adalah respon terhadap pemanasan global yang beradaptasi dengan cuaca ekstrim. Yang paling diperhatikan adalah badai hujan yang semakin besar dan lebat akan sering terjadi. Hal tersebut dikarenakan peningkatan kelembaban iklim untuk proses kondensasi (pengembunan). Hujan lebat yang semakin sering akan meningkatkan resiko banjir dan akan berdampak terhadap sektor sosial dan ekonomi.</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk mengerti bagaimana hujan merespon terhadap iklim yang lebih hangat, para peneliti dalam penelitian ini menggunakan perubahan alam yang berhubungan dengan El-Nino sebagai laboratorium untuk menguji hipotesis mereka. Berdasarkan observasi satelit selama 20 tahun, mereka menemukan hubungan yang jelas antara hujan ekstrim di daerah tropis dan suhu, dengan hujan lebat yang meningkatkan masa periode “panas” dan menurunnya masa periode “dingin”.</p>
<p style="text-align: justify;">“Atmosfer yang lebih hangat mengandung kelembaban yang lebih besar yang dapat menaikkan hujan lebat,”  Menurut Dr. Brian J. Soden, <em>associate professor at the University of Miami Rosentiel School of Marine &amp; Atmospheric Sciences.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Laporan “<em>Atmospheric Warming and the Amplification of Precipitation Extremes”</em> di-<em>preview</em> dalam <em>Sciences Express</em>, menemukan bahwa kedua pengamatan dan model tersebut mengindikasikan kenaikan hujan lebat dalam menanggapi iklim yang menghangat. Bagaimanapun, pengamatan amplifikasi hujan lebat ini ditemukan lebih besar secara substansial dalam pengamatan daripada yang diprediksikan model saat ini.</p>
<p style="text-align: justify;">“Membandingkan pengamatan dengan hasil dari model computer meningkatkan kepahaman bagaimana huja menanggapi bumi yang semakin hanta,” kata Dr. Richard P. Allan, <em>NERC  advance fellow </em>di <em>University of Reading Environmental Systems Science Centre</em>. Menurutnya, perbedaan dapat berhubungan dengan kekurangan pengukuran, atau model tersebut menggunakan perubahan iklim prediksi masa depan.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Sumber: sciencedaily.com</p>
<p style="text-align: justify;">Gambar: jurnalpatrolinews.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://matoa.org/perubahan-iklim-berdampak-terhadap-hujan-semakin-deras/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Efek dan Mitigasi Pemanasan Global</title>
		<link>http://matoa.org/efek-dan-mitigasi-pemanasan-global/</link>
		<comments>http://matoa.org/efek-dan-mitigasi-pemanasan-global/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Mar 2012 09:43:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matoa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perubahan iklim]]></category>
		<category><![CDATA[efek dan mitigasi pemanasan global]]></category>
		<category><![CDATA[efek pemanasan global]]></category>
		<category><![CDATA[mitigasi pemanasan global]]></category>
		<category><![CDATA[pemanasan global]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://matoa.org/?p=7254</guid>
		<description><![CDATA[Lambat laun pemanasan global akan berefek terhadap manusia...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://matoa.org/efek-dan-mitigasi-pemanasan-global/bumi-sekarat/" rel="attachment wp-att-7256"><img class="alignleft size-full wp-image-7256" title="bumi sekarat" src="http://matoa.org/wp-content/uploads/2012/03/bumi-sekarat.jpg" alt="" width="300" height="319" /></a>Konsensus pada komunitas ilmuwan adalah pemanasan global disebabkan oleh aktivitas manusia, khususnya pembakaran bahan bakar fosil. Perubahan yang terjadi pada pemanasan global adalah kenaikan suhu, mundurnya glasier, pelelehan salju yang lebih cepat, dan meningkatnya hujan lebat. Lambat laun pemanasan global akan berefek terhadap manusia.</p>
<p style="text-align: justify;">Menurut <em>Intergovernmental Panel on Climate Change</em>, kenaikan suhu bumi periode 1990 – 2005 berkisar 0,15 – 0,13 derajat Celcius. Jika dibiarkan terus menerus, kenaikan suhu bumi dapat mencapai 4,2 derajat Celcius tahun 2050 – 2070 yang berarti kehidupan di bumi akan musnah. Perubahan iklim berdampak juga terhadap curah hujan yang lebih lebat.</p>
<p style="text-align: justify;">Dampak pemanasan global yang jelas terlihat adalah kenaikan air laut yang berakibat hilangnya beberapa pulau di Indonesia. Selain itu, setiap kenaikan 14 – 43 cm maka pH air laut akan turun dari 8,2 cm menjadi 7,8 cm, sehingga akan menghambat pertumbuhan dan akhirnya mematikan biota dan terumbu karang.</p>
<p style="text-align: justify;">Selain itu, pemanasan global akan memicu masalah kesehatan. Akibat suhu yang lebih hangat, maka jentik nyamuk demam berdarah dan malaria memiliki siklus hidup lebih pendek dan masa inkubasi penularan yang lebih singkat. Ledakan populasi wabah ini akan membahayakan masyarakat. Tak terkecuali penyakit diare, leptospirosis, asma, kanker kulit, dan penyakit paru obstruktif kronis (CODP).</p>
<p style="text-align: justify;">Dampak perubahan iklim dalam dunia pertanian adalah mengubah pola presipitasi, penguapan, air limpasan, dan kelembaban tanah, terjadinya ledakan hama dan penyakit tanaman. Hal tersebut akan berdampak terhadap ketahanan pangan di Indonesia.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam memitigasi perubahan iklim, beberapa hal harus dilakukan yaitu:</p>
<ul style="text-align: justify;">
<li>peningkatan efisiensi energi di semua sektor (bangunan, transportasi, industri, dan penyediaan energi)</li>
<li>pergantian bahan bakar dalam sektor transportasi</li>
<li>mengganti bahan bakar fosil dengan sumber energi alternatif dalam negeri</li>
<li>penanaman hutan</li>
<li>pencegahan penggundulan hutan</li>
<li>pengelolaan hutan berkelanjutan</li>
<li>produksi <em>bioenergy</em></li>
<li>pengelolaan lahan pertanian (meningkatkan pengelolaan nutrisi lahan akan meningkatkan kualitas air tanah dan kesehatan lingkungan ekosistem lahan)</li>
<li>pengelolaan tanah penggembalaan (peningkatan produktivitas ternak, mengurangi desertifikasi, dan menyediakan keamanan sosial bagi yang lemah ekonominya agar dapat menggembalakan ternaknya dengan bebas)</li>
<li>pengelolaan ternak (mengkombinasikan pengolahan beras secara tradisional dengan pengelolaan ternak akan meningkatkan pendapatan, bahkan di lahan yang semi gersang atau gersang)</li>
<li>merencanakan sanitasi TPA  dengan pemulihan TPA gas</li>
<li>proses biologis untuk limbah dan limbah air (pengomposan, proses an-aerobik, dan proses aerobic dan an-aerobic limbah air)</li>
<li>pengabuan dan proses panas lainnya</li>
<li>memperkecil daur ulang, penggunaan kembali, dan limbah</li>
</ul>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">sumber: heowordpower.wordpress.com dan ipcc.ch</p>
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://matoa.org/efek-dan-mitigasi-pemanasan-global/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Subtitusi CFC: Baik untuk Lapisan OZON, Tidak Baik untuk Iklim?</title>
		<link>http://matoa.org/subtitusi-cfc-baik-untuk-lapisan-ozon-tidak-baik-untuk-iklim/</link>
		<comments>http://matoa.org/subtitusi-cfc-baik-untuk-lapisan-ozon-tidak-baik-untuk-iklim/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Mar 2012 04:50:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matoa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perubahan iklim]]></category>
		<category><![CDATA[atmosfer]]></category>
		<category><![CDATA[CFC]]></category>
		<category><![CDATA[efek negatif]]></category>
		<category><![CDATA[efek positif]]></category>
		<category><![CDATA[gas rumah kaca]]></category>
		<category><![CDATA[HFC]]></category>
		<category><![CDATA[ozon]]></category>
		<category><![CDATA[pemanasan global]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://matoa.org/?p=7152</guid>
		<description><![CDATA[Penghapusan CFC berefek positif terhadap iklim bumi karena CFC merupakan salah satu gas rumah kaca. Namun, sekarang “efek pantulan” mengancam mempercepat pemanasan global.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="text-align: justify;"><a href="http://matoa.org/subtitusi-cfc-baik-untuk-lapisan-ozon-tidak-baik-untuk-iklim/atmosfer2/" rel="attachment wp-att-7153"><img class="alignleft  wp-image-7153" title="atmosfer2" src="http://matoa.org/wp-content/uploads/2012/03/atmosfer2.jpg" alt="" width="337" height="183" /></a>Protokol Montreal menetapkan setiap negara wajib melakukan penghapusan zat perusak ozon (ODS) seperti <em>chlorofluorocarbones </em>(CFC). Penghapusan CFC berefek positif terhadap iklim bumi karena CFC merupakan salah satu gas rumah kaca. Namun, sekarang “efek pantulan” mengancam mempercepat pemanasan global.<span id="more-7152"></span></p>
<p>Hydrofluorocarbons (HFC) yang sudah digunakan akhir-akhir ini meningkat jumlahnya sebagai bahan pengganti CFC, dan juga sangat aktif terhadap iklim serta berumur panjang. Pada jurnal <em>Science</em>, peneliti internasional merekomendasikan gas-gas yang paling berpotensi ini juga diatur. Hal ini dapat berefek positif terhadap Protokol Montreal untuk iklim global.</p>
<p>Protokol Montreal merupakan perjanjian lingkungan yang paling sukses dan telah diratifikasi oleh 196 negara. Hasilnya, CFC dan zat perusak ozon secara bertahap akan hilang dari atmosfer dalam beberapa dekade yang akan datang. Dan karena banyak zat-zat perusak tersebut merupakan gas rumah kaca yang aktif, iklim bumi akan mendapatkan keuntungan dari berkurangnya konsentrasi zat-zat tersebut.</p>
<p>Selama ini, banyak proses di mana CFC dulu digunakan, sekarang disubsitusikan oleh campuran <em>fluorinated</em> seperti HFC (yang sama persis dengan CFC, namun tidak mengandung klorin dan tidak merusak lapisan ozon stratosfer). HFC digunakan sebagai zat pendingin dalam AC  dan kulkas, sama halnya dengan zat pembakar dalam aerosol, pelarut dan <em>foam</em> dalam produk <em>foam</em>. Bagaimanapun, ada kelemahan dalam penggunaan HFC-134a, atau disebut juga R-134a, sebagai contohnya, yang biasa digunakan untuk unit AC di mobil, 1430 lebih aktif dari gas rumah kaca (GRK) karbon dioksida.</p>
<p>Pengurangan emisi gas rumah kaca tercakup dalam Protokol Kyoto. Perjanjian ini tidak mengikat negara dengan emisi GRK terbesar, Amerika Serikat (yang tidak pernah meratifikasi protokol). Protokol Kyoto berperiode terbatas 2000 – 2012. Belum ada perjanjian untuk memperpanjang perjanjian tersebut. Yang artinya peningkatan signifikan emisi HFC beberapa tahun terakhir akan meniadakan efek positif yang dibawa oleh Protokol Montreal mengenai penghapusn CFC.</p>
<p>Hubungan ini ditunjukan oleh hasil analisis yang dipublikasikan pada isu terbaru “<em>Science</em>”. Tim peneliti internasional yang dikepalai oleh Holland’s Guus Velders dan termasuk penerima nobel Mario Molina dan peneliti Empa Stefan Reimann, menginvestigasi efek positif pada iklim yang dihasilkan Protokol Montreal. Sejak tahun 2000, radiasi memaksa (ukuran efek zat perusak ozon terhadap iklim) zat perusak ozon termasuk CFC tersisa kurang lebih 0,32 W/m<sup>2</sup> dibandingkan dengan nilai 1,5 W/m<sup>2</sup> untuk CO<sub>2</sub>.</p>
<p>Velders, Reimann, dan peneliti laiinya mengkhawatirkan efek positif ini akan ditiadakan oleh emisi HFC, yang saat ini meningkat 10 – 15 % setiap tahunnya. Dalam artikel mereka, menyatakan bahwa “kontribusi HFC terhadap perubahan iklim dapat dipandang sebagai efek negatif yang tidak diharapkan dari Protokol Montreal. Saat ini, efek tersebut masih kecil, sekitar 0,012 W/m<sup>2</sup> untuk semua kombinasi subsitusi CFC. Namun, hal ini melebihi pertanyaan radiasi yang memaksa karena HFC akan meningkat secara signifikan di masa depan akibat dari peningkatan permintaan dan produksi zat-zat tersebut. Ilmuwan atmosfer memperkirakan bahwa nilai ini akan meningkat antara 0,25 dan 0,4 W/m<sup>2</sup> pada tahun 2050. Masalah yang paling besar adalah yang ditimbulkan oleh HFC jenuh, yang secara ekstrim stabil dan bertahan di atmosfer hingga 50 tahun, memperlihatkan potensi pemanasan global yang lama, hingga mencapai 4000 kali lebih tinggi dari CO<sub>2</sub>.</p>
<p>Di antara yang lain, para ilmuwan merekomendasikan modifikasi dalam Protokol Montreal sehingga menutupi efek negatif HFC. Regulasi mengenai penggunaan HFC perlu diperhatikan. Langkah menghapus HFC secara teknis dapat dilakukan mengingat banyak teknologi yang tersedia. Sebagai contoh, si Swiss, penggunaan zat dalam lemari pendingin menggunakan netral hidrokarbon dan penggunaan HFC – 134 a dilarang.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sumber: sciencedaily.com</p>
<p>Sumber foto: misykatulanwar.wordpress.com</p>
</div>
<div style="text-align: justify;"></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://matoa.org/subtitusi-cfc-baik-untuk-lapisan-ozon-tidak-baik-untuk-iklim/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Usaha Memperlambat Perubahan Iklim</title>
		<link>http://matoa.org/usaha-memperlambat-perubahan-iklim/</link>
		<comments>http://matoa.org/usaha-memperlambat-perubahan-iklim/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Jan 2012 06:36:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matoa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perubahan iklim]]></category>
		<category><![CDATA[memperlambat pemanasan global]]></category>
		<category><![CDATA[memperlambat perubahan ilim]]></category>
		<category><![CDATA[negara beres]]></category>
		<category><![CDATA[negara bersalju]]></category>
		<category><![CDATA[negara bersalju dan beres]]></category>
		<category><![CDATA[pemansan global]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://matoa.org/?p=6904</guid>
		<description><![CDATA[Penelitian terbaru yang dilakukan ilmuwan NASA, jika diimplementasikan bisa jadi memperlambat pemanasan global, meningkatkan kesehatan, dan produksi pertanian.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://matoa.org/usaha-memperlambat-perubahan-iklim/gunung-salju/" rel="attachment wp-att-6905"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-6905" title="gunung salju" src="http://matoa.org/wp-content/uploads/2012/01/gunung-salju-200x200.jpg" alt="" width="200" height="200" /></a>Penelitian terbaru yang dilakukan ilmuwan NASA menyoroti hal penting pengukuran pengendalian polusi udara yang jika diimplementasikan bisa jadi memperlambat pemanasan global, meningkatkan kesehatan, dan produksi pertanian.<span id="more-6904"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Penelitian ini yang dilakukan Drew Shindell dari <em>NASA Goddard Institute for Space Studies (GISS)</em> di New York, menemukan bahwa memfokuskan pengukuran-pengukuran ini mungkin memperlambat pemanasan global 0,9 <sup>o</sup>F (0,5 <sup>O</sup>C) di tahun 2050, meningkatkan produksi pertanian hingga 135 juta ton per musim dan mencegah ratusan ribu kematian prematur setiap tahun. Sementara semua wilayah di dunia akan mendapatkan keuntungan, negara Asia dan Timur Tengah akan mendapatkan keuntungan kesehatan dan pertanian terbesar dari pengurangan emisi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Kami telah menunjukan bahwa implementasi praktik spesifik pengurangan emisi yang terpilih untuk memaksimalkan keuntungan iklim juga memiliki kepentingan ‘win-win’ bagi kesehatan manusia dan pertanian,” ujar Shindell.</p>
<p style="text-align: justify;">Penelitian ini dipublikasikan di jurnal <em>Science</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Shindell dan tim internasional lainnya mempertimbangkan sekitar 400 pengkuran kontrol berdasarkan teknologi yang dievaluasi oleh <em>International Institute for Applied Systems Analysis</em> di Luxenburg, Austria. Penelitian tersebut fokus terhadap 14 pengukuran dengan keuntungan iklim terbesar. Ke-empat belas tersebut akan mengekang pelepasan karbon hitam atau metana, polutan yang memperburuk perubahan iklim dan kerusakan manusia atau kesehatan tanaman baik secara langsung maupun yang disebabkan pembentukan ozon.</p>
<p style="text-align: justify;">Karbon hitam, produk pembakaran bahan bakar fosil atau biomasa seperti kayu atau kotoran hewan, mampu memperburuk pernafasan dan penyakit kardiovaskular. Partikel yang kecil juga menyerap radiasi dari sinar matahari yang menyebabkan atmosfer menghangat dan pergeseran pola hujan. Di samping itu, zat-zat tersebut memperhitam es dan salju, mengurangi reflektivitas mereka, dan mempercepat pemanasan global.</p>
<p style="text-align: justify;">Metana merupakan zat kimia yang tak berwarna dan mudah terbakar yang banyak terdapat di gas alam dan berpotensi sebagai gas rumah kaca. Ozon merupakan komponen penting kabut asap dan juga gas rumah kaca, kerusakan hasil pertanian dan kesehatan manusia.</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara karbon dioksida merupakan penggerak utama pemanasan global jangka panjang, membatasi karbon hitam dan metana merupakan aksi yang melengkapi yang akan berpengaruh lebih cepat karena dua polutan ini beredar keluar atmosfer lebih cepat.</p>
<p style="text-align: justify;">Shindell dan timnya menyimpulkan bahwa pengontrolan ini akan menyediakan proteksi terbesar melawan pemanasan global ke Rusia, Tajikistan, dan Kyrgyztan, negara-negara dengan salju yang berarea luas atau penutup es. Iran, Pakistan, dan Yordania akan mengalami peningkatan tinggi pada produksi pertanian. Asia Selatan dan wilayah Sahel di Afrika akan melihat perubahan paling penting pola hujan.</p>
<p style="text-align: justify;">Negara-negara Asia Selatan seperti India, Bangladesh, dan Nepal akan melihat pengurangan terbesar kematian prematur. Penelitian tersebut memperkirakan secara global 700.000 hingga 4,7 juta kematian prematur dapat dihentikam setiap tahun.</p>
<p style="text-align: justify;">Karbon hitam dan metana memiliki banyak sumber. Mengurangi emisi akan membutuhkan masyarakat untuk membuat peningkatan infrastruktur. Untuk metana, strategi penting ilmuwan mempertimbangkan penangkapan gas yang dikeluarkan fasilitas tambang batu bara dan minyak, dan gas alam, sambil mengurangi kebocoran saluran pipa jarak jauh, mencegah emisi dari pembuangan sampah, memperbarui pengolahan air limbah, aerasi sawah lebih banyak, dan membatasi emisi dari pupuk lahan.</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk karbon hitam, strategi yang dianalisa termasuk pemasangan penyaring pada kendaraan diesel, memelihara emisi tinggi kendaraan, memperbarui kompor, dan <em>boiler</em> dengan jenis pembakaran bersih, menggunakan <em>kiln</em> yang lebih efisien untuk produksi batu bata, memperbarui oven dan melarang pembakaran hasil pertanian.</p>
<p style="text-align: justify;">Ilmuwan tersebut menggunakan model komputer yang dikembangkan di GISS dan <em>The Max Planck Institute for Meteorology in Hmaburg</em>, Jerman, sebagai model dari efek pengurangan emisi. Model tersebut menunjukan keuntungan yang luas pengurangan metana karena metana didistribusikan di atmosfer. Karbon hitam jatuh dari atmosfer setelah beberapa hari, sehingga keuntunggan-keuntungan lebih kuat di beberapa wilayah, khususnya daerah yang banyak salju dan esnya.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Sumber: sciencedaily.com</p>
<p style="text-align: justify;">Sumber foto: blog.thesietch.org</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://matoa.org/usaha-memperlambat-perubahan-iklim/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Prediksi Penelitian: Keanekaragaman hayati Hilang karena Pemanasan Global dan Predasi</title>
		<link>http://matoa.org/prediksi-penelitian-keanekaragaman-hayati-hilang-karena-pemanasan-global-dan-predasi/</link>
		<comments>http://matoa.org/prediksi-penelitian-keanekaragaman-hayati-hilang-karena-pemanasan-global-dan-predasi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Jan 2012 07:28:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matoa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perubahan iklim]]></category>
		<category><![CDATA[akibat perubahan iklim]]></category>
		<category><![CDATA[iklim]]></category>
		<category><![CDATA[Keanekaragaman hayati]]></category>
		<category><![CDATA[keanekaragaman hayati musnah]]></category>
		<category><![CDATA[kerang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://matoa.org/?p=6813</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa keanekaragaman hayati punah dikarenakan perubahan iklim...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://matoa.org/prediksi-penelitian-keanekaragaman-hayati-hilang-karena-pemanasan-global-dan-predasi/kerang-2/" rel="attachment wp-att-6814"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-6814" title="kerang" src="http://matoa.org/wp-content/uploads/2012/01/kerang-200x200.jpg" alt="" width="200" height="200" /></a>Beberapa keanekaragaman hayati punah dikarenakan perubahan iklim yang menghasilkan kombinasi peningkatan suhu dan pemusnahan – dan mungkin akan lebih berbahaya dari yang diprediksikam, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh <em>University of British Columbia Zoologist Christopher Harley</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Harley mensurvei batas suhu rendah dan tinggi <em>barnacles</em> dan <em>mussels</em> dari pesisir pantai dingin bagian barat Pulau Vancouver hingga pantai hangat Pulau San Juan, di mana suhu air meningkat dari yang relatif dingin di tahun 1950an ke lebih hangat di tahun 2009 dan 2010.</p>
<p style="text-align: justify;">Menurut Christopher Harley, komunitas <em>intertidal</em> berbatu merupakan tempat ideal untuk penelitian efek pemanasan iklim. “Banyak organisme <em>intertidal</em> seperti <em>mussels</em> hidup dengan batas toleransi, sehingga efeknya dapat dipelajari dengan mudah”.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada tempat yang lebih dingin, <em>mussels </em>dan <em>rocky shore barnacles</em> mampu hidup di daerah tinggi pantai, di luar jangkauan predator mereka. Namun, karena suhu meningkat, <em>barnacles </em>dan <em>mussels</em> dipaksa untuk hidup pada daerah pantai yang lebih rendah, menempatkan mereka di tempat yang sama dengan predator bintang laut.</p>
<p style="text-align: justify;">Suhu tinggi sehari-hari selama musim kemarau telah meningkat hampir 3,5 derajat Celcius pada 60 tahun terakhir, menyebabkan batas atas habitat <em>barnacles </em>dan <em>mussels</em> mundur 50 cm di bawah pantai. Namun, efek predator pada batas rendah, telah tinggal secara konstan.</p>
<p style="text-align: justify;">“Beberapa jenis<em> mussels </em>punah secara lokal di tiga tempat yang disurvey” kata Harley.</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara itu, ketika tekanan dari predator bintang laut berkurang, spesies korban mampu berada di tempat yang lebih panas (tempat yang normalnya tidak ada spesies ini), dan akhirnya populasi spesies meningkat.</p>
<p style="text-align: justify;">Pemanasan tidak hanya berefek langsung pada spesies individual. Berdasarkan penelitian ini perubahan iklim dapat berinteraksi dengan spesies dan menghasilkan perubahan yang tak diharapkan di mana spesies hidup, struktur komunitas, dan keanekaragaman hayati.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Sumber: sciencedaily.com</p>
<p style="text-align: justify;">Sumber gambar: gurungeblog.wordpress.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://matoa.org/prediksi-penelitian-keanekaragaman-hayati-hilang-karena-pemanasan-global-dan-predasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Awan: Bukan Penyebab Perubahan Iklim</title>
		<link>http://matoa.org/awan-bukan-penyebab-perubahan-iklim/</link>
		<comments>http://matoa.org/awan-bukan-penyebab-perubahan-iklim/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Sep 2011 07:16:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matoa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perubahan iklim]]></category>
		<category><![CDATA[awan]]></category>
		<category><![CDATA[awan bukan penyebab perubahan iklim]]></category>
		<category><![CDATA[iklim]]></category>
		<category><![CDATA[penyebab perubahan iklim]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://matoa.org/?p=6054</guid>
		<description><![CDATA[Awan mampu menangkap panas dengan baik, namun awan bukan penyebab perubahan iklim...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://matoa.org/awan-bukan-penyebab-perubahan-iklim/awan/" rel="attachment wp-att-6055"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-6055" title="awan" src="http://matoa.org/wp-content/uploads/2011/09/awan-200x200.jpg" alt="" width="200" height="200" /></a>Menurut professor dari Texas A&amp;M University, awan hanya memperkuat perubahan iklim, bukan akar penyebab perubahan iklim.</p>
<p><span id="more-6054"></span>Profesor Texas A&amp;M University, Andrew Dessler merupakan salah satu ilmuwan yang ahli dalam variasi iklim, mengatakan data beberapa dekade yang mendukung tendensi dan pandangan yang lama dipegang bahwa awan terutama berperan sebagai “umpan balik” yang memperkuat pemanasan dari aktivitas manusia.</p>
<p>Profesor yang telah mempelajari El Nino dan La Nina selama lebih dari sepuluh tahun ini menemukan bahwa awan berperan sangat kecil dalam mengawali variasi-variasi iklim ini, dengan tendensi ilmu iklim dan bertentangan langsung dengan beberapa klaim yang lalu.</p>
<p>Pemanasan karena peningkatan emisi gas rumah kaca akan menyebabkan penjebakan panas lebih banyak yang akan menghasilkan pemanasan. Proses ini dikenal sebagai “arus balik awan” dan diprediksikan bertanggung jawab terhadap porsi peningkatan pemanasan abad selanjutnya.</p>
<p>Suhu lebih hangat berarti awan menjebak panas lebih banyak, sehingga akan menimbulkan suhu yang lebih panas.</p>
<p>Beberapa ilmuwan iklim terkemuka baru-baru ini berpendapat bahwa awan bertindak untuk menstabilkan iklim, berarti mencegah gas rumah kaca untuk menyebabkan pemanasan yang lebih signifikan.</p>
<p>Yang perlu diperhatikan adalah awan tidak menggantikan manusia sebagai penyebab pemanasan yang sekarang melanda bumi.</p>
<p>Ia menambahkan, lebih dari seabad, awan berperan penting dalam memperkuat perubahan iklim. Dengan adanya hasil analisis ini, secara jelas awan bukanlah penyebab perubahan iklim dan tidak mampu mencegah pemanasan global.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sumber: sciencedaily</p>
<p>Sumber gambar: matoa.org</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://matoa.org/awan-bukan-penyebab-perubahan-iklim/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perubahan Iklim dan Relokasi Spesies</title>
		<link>http://matoa.org/perubahan-iklim-dan-relokasi-spesies/</link>
		<comments>http://matoa.org/perubahan-iklim-dan-relokasi-spesies/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Aug 2011 06:59:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matoa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perubahan iklim]]></category>
		<category><![CDATA[biodiversity]]></category>
		<category><![CDATA[pengaruh perubahan iklim]]></category>
		<category><![CDATA[pengaruh perubahan iklim terhadap hewan dan tumbuhan]]></category>
		<category><![CDATA[relokasi]]></category>
		<category><![CDATA[relokasi spesies]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://matoa.org/?p=5918</guid>
		<description><![CDATA[Perubahan iklim tak hanya berpengaruh terhadap kehidupan manusia, namun berpengaruh juga terhadap flora dan fauna. Relokasi dibutuhkan untuk mempertahankan kesetimbangan ekosistem ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://matoa.org/perubahan-iklim-dan-relokasi-spesies/elangjawa/" rel="attachment wp-att-5919"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-5919" title="elangjawa" src="http://matoa.org/wp-content/uploads/2011/08/elangjawa-200x200.jpg" alt="" width="200" height="200" /></a>Menurut peneliti CSIRO, University of Queensland, Dr. Eve McDonald Madden, perubahan iklim lebih cepat dibandingkan spesies  beradaptasi atau berpencar. Para pengelola keanekaragaman hayati menginginkan pilihan adaptasi yang tersedia untuk membantu melestarikan keanekaragaman hayati di dunia.</p>
<p><span id="more-5918"></span>Pengendalian relokasi, dapat juga membantu kolonisasi spesies tanaman atau hewan yang mengikuti perpindahan dari area tersebut, atau tak dapat dipertahankan karena perubahan iklim. Perpindahan spesies dilakukan ke area yang kondisi iklimnya cocok dan sebelumnya belum ada spesies tanaman dan hewan yang dipindahkan ke area tersebut.</p>
<p>Rangka kerja pengambilan keputusan yang telah dikembangkan, menunjukan waktu paling tepat untuk memindahkan spesies tergantung dari beberapa faktor, seperti: jumlah populasi, kehilangan jumlah populasi yang diduga melalui relokasi, dan jumlah yang diharapkan yang dapat didukung area relokasi.</p>
<p>Perpindahan tersebut juga tergantung pada prediksi yang baik mengenai pengaruh perpindahan iklim pada spesies tertentu dan kesesuaian area yang dapat spesies huni (masalah sulit yang sering ditemui spesies langka dikarenakan informasi yang sedikit mengenai wilayah pindah).</p>
<p>Menurut peneliti CSIRO, Dr. Tara Martin, pengawasan dan pembelajaran mengenai seberapa potensialnya perubahan iklim mempengaruhi fungsi tanaman dan satwa di ekosistem asli mereka akan berperan penting dalam memastikan sukses – tidaknya rencana pengaturan relokasi. Pengelolaan penyesuaian yang aktif penting saat memastikan seperti apa perubahan iklim yang terjadi di habitat sebenarnya.</p>
<p>Tanpa relokasi spesies, kita akan kehilangan kehidupan liar yang paling penting bagi ekosistem bumi. Namun, dibutuhkan juga  ekosistem yang layak untuk perpindahan spesies – spesies tersebut.</p>
<p>Relokasi terkendali bukan solusi cepat. Relokasi terkendali akan digunakan pada beberapa keadaan spesifik untuk spesies yang sangat dijaga kelestariannya. Namun, bukan juga penyelamatan untuk semua keanekaragaman hayati yang menghadapi perubahan iklim.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sumber: sciencedaily.com</p>
<p>Sumber foto: <a href="http:// matoa.org">matoa.org</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://matoa.org/perubahan-iklim-dan-relokasi-spesies/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hubungan Iklim dengan Orbit Bumi</title>
		<link>http://matoa.org/hubungan-iklim-dengan-orbit-bumi/</link>
		<comments>http://matoa.org/hubungan-iklim-dengan-orbit-bumi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 29 Jul 2011 08:16:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matoa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perubahan iklim]]></category>
		<category><![CDATA[bumi]]></category>
		<category><![CDATA[kaitan siklus orbit bumi dengan perubahan iklim]]></category>
		<category><![CDATA[orbit bumi]]></category>
		<category><![CDATA[penyebab perubahan iklim]]></category>
		<category><![CDATA[siklus orbit bumi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://matoa.org/?p=5692</guid>
		<description><![CDATA[Selama ini perubahan iklim selalu dikaitkan dengan GRK. Tapi tahukah Anda siklus orbit bumi turut mempengaruhi perubahan iklim, bagaimana mekanismenya?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Apa penyebab pemanasan global? Umumnya kita menjawab karena gas rumah kaca (GRK) yang semakin meningkat kandungannya di bumi. Hingga saat ini, para ilmuwan masih mencari tahu sejauh mana GRK mempengaruhi pemanasan global.</p>
<p><span id="more-5692"></span><a href="http://matoa.org/hubungan-iklim-dengan-orbit-bumi/bumi-2/" rel="attachment wp-att-5693"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-5693" title="bumi" src="http://matoa.org/wp-content/uploads/2011/07/bumi-200x200.jpg" alt="" width="200" height="200" /></a>Ahli geologi dari University of California di Santa Barbara AS, Lorraine Lisiecki melakukan penelitian terhadap sedimen-sedimen lautan dari 57 lokasi di dunia. Ahli geologi menyimpulkan ada kaitan antara iklim dan orbit bumi.</p>
<p><!--more-->Untuk informasi tambahan, orbit bumi mengelilingi matahari selalu berubah setiap 100.000 tahun dari bentuknya, dari bentuk bulat (<em>eccentricity</em>) hingga lebih lonjong selama interval tersebut. Sedangkan kemiringan bumi terhadap sumbunya akan berubah dalam siklus 41.000 tahun.</p>
<p>Berdasarkan riset pembentukan <em>glacier</em> atau lapisan es di permukaan bumi terjadi setiap 100.000 tahun, siklus yang sama dengan berubahnya bentuk orbit bumi. Lisiecki menemukan fakta bahwa terjadinya perubahan iklim dan eccentricity berkaitan satu sama lain. Fakta tersebut diperkuat dengan data hasil riset Lisiecki.</p>
<p>Selain itu, temuan mengejutkan lainnya adalah siklus pembentukan <em>glacier</em> terbesar terjadi pada saat perubahan yang paling lemah dari bentuk orbit bumi dan juga sebaliknya. Menurut ilmuwan di Universitas California tersebut iklim bumi memiliki kestabilan internal akibat sensitivitas perubahan orbit.</p>
<p>Kesimpulan laporan riset yang diterbitkan di jurnal Nature Geoscience ini adalah perubahan iklim memiliki pola selama lebih dari jutaan tahun dan terkait dengan tiga sistem orbit yang berbeda, yaitu kemiringan terhadap sumbu dan bentuk orbit serta perubahan orientasi pada sumbu rotasi.</p>
<p>Hasil riset tersebut memang melegakan, namun tidak seharusnya manusia bermalas-malasan untuk menjaga bumi dan menunggu selama 100.000 tahun agar lapisan es di kutub dan puncak gunung kembali seperti semula.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sumber: planethijau.com</p>
<p>Sumber foto: matoa.org</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://matoa.org/hubungan-iklim-dengan-orbit-bumi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

