<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>MATOA &#187; Taman Nasional</title>
	<atom:link href="http://matoa.org/category/taman-nasional/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://matoa.org</link>
	<description>Just another WordPress weblog</description>
	<lastBuildDate>Fri, 10 Sep 2010 03:00:26 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Semarak Pesta Anak Peduli Air</title>
		<link>http://matoa.org/semarak-pesta-anak-peduli-air/</link>
		<comments>http://matoa.org/semarak-pesta-anak-peduli-air/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Mar 2009 03:37:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Irma Dana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita MATOA]]></category>
		<category><![CDATA[Taman Nasional]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://matoa.org/?p=721</guid>
		<description><![CDATA[Mereka datang dari Jakarta, Tangerang, Bogor dan Cianjur. Wujud kepeduliaan terhadap lingkungan dan air yang semakin kritis kondisinya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_726" class="wp-caption alignright" style="width: 450px"><img class="size-full wp-image-726" title="tnggpimg_0121" src="http://matoa.org/wp-content/uploads/2009/03/tnggpimg_0121.jpg" alt="tnggpimg_0121" width="440" height="293" /><p class="wp-caption-text">SD Katolik Ricci II, Tangerang memainkan alat musik dari barang bekas</p></div>
<p><strong>Cianjur</strong> – Selepas sholat Jum’at, diantara deretan meja pameran yang memeriahkan ulang tahun ke-29 Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, terlihat warna warni pakaian  daerah dikenakan anak-anak.</p>
<p>Mereka datang dari Jakarta, Tangerang, Bogor dan Cianjur. Hari itu, tanggal 6 Maret 2009 mereka akan menunjukkan prestasinya dibidang seni, wujud kepeduliaan terhadap lingkungan dan  air yang semakin kritis kondisinya.</p>
<p>Dihadapan 150 orang anak, pesta pun dibuka oleh Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Ir. Sumarto, M.M. Sebelum mereka pentas, anak-anak diajak bermain Tupai dan Pemburu oleh Deny Boy Mochran. Lima orang anak mewakili sekolahnya untuk bermain Tupai dan Pemburu. Permainan ini berhasil mencairkan ketegangan  diantara anak-anak.</p>
<p>Selepas bermain Tupai dan Pemburu, 36 orang anak berseragam putih dari  SD Giri Mukti, Cianjur, bermain angklung dengan cantik membawakan lagu visi misi Cianjur.Sedangkan dari Jakarta, ada SD Benhil 12 Jakarta, dengan paduan suaranya membawakan tiga lagu. Tak kalah menarik adalah penampilan dari SD. Katolik Ricci II, dari Tangerang. Mereka memainkan alat-alat musik dari barang bekas, seperti botol gallon, pipa paralon dan kaleng. <span id="more-721"></span></p>
<p>Selain alat musik dari barang bekas, Pesta Anak Peduli Air juga bertambah meriah dengan petikan kecapi dari SD Jayagiri yang mengiringi rampak sekar. Semua mencerminkan kecintaan anak-anak pada alam dan lingkungan yang semakin rusak dan mengajak kita untuk menjaganya.</p>
<p>Sekolah Dasar di sekitar kawasan Gunung Gede Pangrango dan Cianjur banyak menampilkan tarian daerah dan puisi-puisi tentang alam. Misalnya dari SD Negeri Cimacan membacakan sajak sunda berjudul Lodaya, yang menceritakan keberanian Harimau.</p>
<p>Peserta Pesta Anak ini selain yang sudah disebutkan tadi, antara lain : SD Negeri Polisi 4, Bogor,  SD Negeri Rarahan, Cianjur,  SD Negeri Cijedil yang mendendangkan Pupuh Kawih.  SD Negeri Sukanagalih I, Pacet, membawakan Tari Klasik Sekar Putri dan jaipongan. Juga MIS Al-Ikhklas, Gunung Putri membawakan Jaipongan. Tak kalah gagahnya, tarian Kuda Lumping yang dibawakan SD Negeri Tegallega 1, Bogor menambah kemeriahan Pesta Anak ini.</p>
<p>Disela-sela penampilan mereka, ada dongeng dari Koen Setyawan, penulis buku satwa seri Indonesia yang menceritakan tentang Harimau dan belangnya. Anak-anak tampak serius mendengarkan dongeng dari Koen.</p>
<p>Selesai pentas dan mendengarkan dongeng, di akhir acara,  peserta diajak menonton film yang berjudul “Serasi Bersama Alam”. Puas rasanya menyaksikan kegembiraan di wajak anak-anak. Saat diberi ruang, mereka bisa mengekpresikan dirinya dengan maksimal. [irma dana]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://matoa.org/semarak-pesta-anak-peduli-air/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Benteng Terakhir Untuk Melindungi Kepunahan Owa Jawa</title>
		<link>http://matoa.org/menyelamatkan-benteng-terakhir-pelindung-kehidupan-manusia-dan-melindungi-kepunahan-owa-jawa/</link>
		<comments>http://matoa.org/menyelamatkan-benteng-terakhir-pelindung-kehidupan-manusia-dan-melindungi-kepunahan-owa-jawa/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Mar 2009 03:53:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Irma Dana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Taman Nasional]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://matoa.org/?p=710</guid>
		<description><![CDATA[Keutuhan dan kelestarian ekosistem TNGGP telah berjasa menyelamatkan Owa Jawa [Hylobates moloch] dari kepunahan.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><img class="size-full wp-image-714 aligncenter" title="owa-jawa-ok" src="http://matoa.org/wp-content/uploads/2009/03/owa-jawa-ok.jpg" alt="owa-jawa-ok" width="400" height="533" /><strong>Bogor</strong>-Taman Nasional Gunung Gede Pangrango [TNGGP], seluas 21.975 hektar merupakan salah satu taman nasional yang tertua di Indonesia, yang memiliki peran penting sebagai sistem penyangga kehidupan. Sebagai kawasan konservasi dengan misi untuk perlindungan, pengawetan, dan pemanfaatan sumber daya alam secara lestari. Keutuhan dan kelestarian ekosistem TNGGP telah berjasa menyelamatkan Owa Jawa [Hylobates moloch] dari kepunahan, benteng bagi kota Jakarta dari  mencegah banjir bandang saat musim penghujan.</p>
<p>Sebagai benteng perlindungan bagi Owa Jawa, TNGGP, Ditjen PHKA bersama-sama dengan Conservation International dan Yayasan Owa Jawa, telah melakukan program penyelamatan dan rehabilitasi Owa Jawa di areal Bodogol dengan membangun Pusat Penyelamatan dan Rehabilitasi owa jawa [Javan Gibbon Center-JGC] yang bertujuan untuk menyelamatkan dan merehabilitasi Owa jawa yang berasal dari masyarakat.</p>
<p>Sebagai kawasan konservasi yang merupakan taman nasional model, TNGGP memberikan air sebagai sumber kehidupan bagi lebih dari 23 juta jiwa, tidak hanya bagi penduduk di tiga kabupaten yang mengelilinginya, tetapi juga bagi penduduk di Jakarta, Lebak, Pelabuhan Ratu,Tangerang, Depok dan Bekasi. TNGGP merupakan penyumbang air bagi 4 Daerah Aliran Sungai DAS besar, yaitu Ciliwung, Cisadane, Cimandiri dan Citarum.</p>
<p>“Berbagai bencana terkait air seperti banjir dan kekeringan di kawasan hilir dan tengah seperti di Jakarta memang sudah berlangsung lama. Namun kian tahun semakin bertambah parah.  Taman Nasional kita-TNGGP, sebagai daerah tangkapan dan resapan air telah berperan optimal dalam menjalankan fungsinya sebagai bagian dari ekosistem dalam ikut mengatur tata air. Namun peran tersebut saat ini terasa dibebankan hanya pada kawasan TNGGP sebagai kawasan konservasi, yang mana seharusnya juga diemban oleh kawasan hulu lainnya–Puncak-di luar kawasan TNGGP Untuk itu menjadi penting terhadap upaya perlindungan daerah hulu-tengah-hilir DAS Ciliwung dan Cisadane melalui program-program perlindungan yang berbasis kemandirian, transparansi dan akuntabilitas atau yang sering kita sebut sebagai good governance”  ujar Ir. Sumarto, MM., Kepala Balai Besar TNGGP.</p>
<p>Sebagai kawasan konservasi, TNGGP juga memberikan manfaat besar bagi kehidupan masyarakat dari jasa pemanfaatan air. Inisiasi pemanfaatan jasa lingkungan air dari kawasan TNGGP untuk mendukungan aktivitas ekonomi dan sosial kemasyarakatan bagi desa sekitar kawasan, telah diwujudkan oleh TNGGP dengan mitra Bina Usaha Lingkungan [YBUL] dan Conservation International Indonesia [CI]. Melalui Program Pengembangan Listrik Komunitas [Pusbalikom] di Dusun Batu Kembar–Desa Ciderum-Caringin, diwujudkan pemenuhan energi mandiri melalui energi terbarukan yang ramah lingkungan yang berbasis komunitas, karena ketersediaan energi listrik di dalam suatu komunitas masyrakat, merupakan pintu gerbang menuju terciptanya masyarakat yang sejahtera.</p>
<p>Inisiasi awal ini merupakan fase rintisan akan menjadi percontohan untuk diduplikasikan menjadi program Pusbalikom di desa-desa lain di Indonesia, sehingga desa-desa lain juga akan memiliki energi mandiri melalui pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro [PLTHM], dan merupakan gerakan berbasis masyarakat, dari, oleh, dan untuk masyarakat.<br />
Informasi lebih lanjut:<br />
1.	Ir. Sumarto, MM. | Kepala BB TN Gunung Gede Pangrango | 0263-512776 | sumarto@gedepangrango.org<br />
2.	Dra. Ratna Widuri, MSi. | Kepala Sub Bagian Humas BB TNGGP | 0812 1050082 | info@gedepangrango.org<br />
3.	Dr. Jatna Supriatna | Direktur Conservation International Indonesia | 0812 817 0314 | ci-indonesia@conservation.or.id<br />
4.	Dr. Noviar Andayani | Yayasan Owa Jawa | 0811 118 954 | jgc_owajawa@yahoo.com<br />
5.	Novrida Masli | Yayasan Bina Usaha Lingkungan &#8211; YBUL | 0813 108 09527 | novrida@ybul.or.id</p>
<p>Catatan untuk editor:<br />
•	Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango [TNGGP] merupakan taman nasional pertama di Indonesia yang mewakili ekosistem hutan pegunungan tropis Indonesia. Informasi lengkap silahkan kunjungi www.gedepangrango.org</p>
<p>•	Conservation International (CI) adalah organisasi non-profit internasional yang menerapkan inovasi dalam bidang ilmu pengetahuan murni, ekonomi, kebijakan dan partisipasi masyarakat untuk melindungi wilayah wilayah dengan keanekaragaman hayati tinggi di dunia dan menunjukkan manusia dapat hidup harmoni dengan alam. CI berdiri pada tahun 1987 dan bekerja di lebih dari 40 negara. Untuk informasi lebih lanjut kunjungi www.conservation.org atau www.conservation.or.id</p>
<p>•	Yayasan Owa Jawa, adalah lembaga nirlaba yang bergerak dalam kegiatan konservasi Owa Jawa. Pada saat ini bekerjasama dengan Ditjen PHKA, Conservation International Indonesia, Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Universitas Indonesia dan Silvery Gibbon Project [SGP] untuk mengembangkan Pusat Penyelamatan dan Rehabilitasi Owa Jawa di daerah Bodogol-kawasan TN Gunung Gede Pangrango.</p>
<p>•	Yayasan Bina Usaha Lingkungan &#8211; YBUL, adalah sebuah organisasi nirlaba yang berlokasi di Jakarta, dan bekerja untuk seluruh wilayah di Indonesia Bidang kerja YBUL meliputi energi pedesaan dan energi terbarukan, perubahan iklim dan pemberdayaan usaha berbasis rakyat yang ramah lingkungan. YBUL memusatkan segenap karya dan pikirannya menuju Justice in Energy-keadilan dalam berenergi, karena setiap rakyat Indonesia seharusnya memiliki hak yang sama, proporsional dan berwawasan lingkungan dalam memanfaatkan sumber energi untuk meningkatkan kesejahteraannya untuk informasi lengkap silahkan kunjungi www.ybul.or.id.</p>
<p>Sumber : www.gedepangrango.org</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://matoa.org/menyelamatkan-benteng-terakhir-pelindung-kehidupan-manusia-dan-melindungi-kepunahan-owa-jawa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kapan Mendaki Gunung Gede-Pangrango?</title>
		<link>http://matoa.org/kapan-mendaki-gunung-gede-pangrango/</link>
		<comments>http://matoa.org/kapan-mendaki-gunung-gede-pangrango/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Feb 2009 07:13:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Irma Dana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Taman Nasional]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://matoa.org/?p=263</guid>
		<description><![CDATA[Sudah pernah mendaki Gunung Gede Pangrango? Banyak pendaki gunung berbondong-bondong ke sana.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a title="tngpimg_9917.jpg" href="http://matoa.org/wp-content/uploads/2009/02/tngpimg_99171.jpg"><img src="http://matoa.org/wp-content/uploads/2009/02/tngpimg_99171.jpg" alt="tngpimg_9917.jpg" width="424" height="321" /></a></p>
<p><strong>Bogor</strong>-Sudah pernah mendaki Gunung Gede Pangrango? Banyak pendaki gunung berbondong-bondong ke sana. Saya sendiri belum pernah mendakinya. Terlalu melelahkan kalau harus mendaki gunung. Sekali-kalinya menginjakkan kaki di Gunung Gede Pangrango itu lima tahun yang lalu. Hanya sampai Danau Telaga Biru saja. Terletak pada ketinggian  1.575 meter dpl. Jaraknya sekitar satu setengah kilo dari pintu masuk Cibodas.</p>
<p>Luas Danau Telaga Biru sekitar 500 meter persegi dan permukaan airnya rata-rata dua meter dan berwarna biru. Awalnya, danau ini merupakan tempat penampungan air, karena proses alami yang berlangsung lama, membuat danau ini terbentuk secara alami pula.<span id="more-263"></span></p>
<p><strong>Keanekaragaman hayati</strong></p>
<p>Tak hanya Danau Telaga Biru yang menarik untuk dikunjungi dan berguru pada alam di Gede Pangrango. Bayangkan! Gede  Pangrango kaya dengan berbagai jenis tumbuhan. Lebih dari 1.500 jenis tumbuhan berbunga tumbuhan di sana, 400 jenis paku-pakuan dan  lebih dari120 jenis lumut. Bahkan 300 jenis diantaranya dapat digunakan sebagai bahan obat.</p>
<p>Potensi lainya di Gede Pangrango, ada 300 jenis insekta, 75 jenis reptilia, 20 jenis amphibi dan lebih dari 110 jenis mamalia yang hidup di sana.</p>
<p>Awal abad ke-19 F.W. Junghun (1839-1861) salah seorang  yang pertama kali mendaki Gunung pada abad itu, melaporkan di kawasan Gede Pangrango banyak populasi badak, harimau jawa, banteng dan rusa. Dan daerah Kandang Badak merupakan bukti bahwa pada jaman itu, daerah  ini merupakan konsentrasi populasi badak. Perburuan satwa saat itu  sangat popular dan menyebakan punahnya badak di Gede Pangrango. Populasi jenis satwa lain pun ikut berkurang</p>
<p>Taman Nasional Gede Pangrango juga menjadi habitat sekitar 260 jenis burung, atau sekitar 53 % dari jenis burung yang ada di Pulau Jawa. Terdiri dari 20 jenis burung endemik Pulau Jawa (termasuk Bali), 58 jenis burung dilindungi. Dimana tiga jenis burung berstatus endemic itu antara lain Elang jawa (<em>Spizaetus bartelsi</em>), Celepuk gunung (<em>Otus angelinae</em>) dan Cerecet (<em>Psaltria exilis</em>).</p>
<p>Selain itu ada  empat jenis primata antara lain Owa jawa (<em>Hylobates moloch</em>), Surili (<em>Presbytis comate</em>), Lutung (<em>Trachypithecus auratus</em>) dan Monyet ekor panjang (<em>Macaca fascicularis</em>) yang bisa ditemui. Owa jawa satu diantara dua primata yang endemik. Persebarannya masih ditemukan di Cibodas, Bodogol dan daerah bagian selatan taman nasional.</p>
<p>Satu lagi adalah Surili, statusnya terancam punah di alam, tapi masih bias dijumpai  dalam kawasan hutan pegunungan bawah dan di sekitar air terjun Cibeureum (Cibodas), Cisarua dan Bodogol.</p>
<p>Untuk mamalia ada Macam tutul (<em>Panthera tigris</em>) diperkirakan jumlah sekitar 20-40 ekor. Macan tutul juga statusnya terancam punah dan dilindungi. Ada lagi Kucing hutan (<em>Felis bengalensis</em>) pada malam hari dapat dijumpai di hutan, juga dilindungi. Sedangkan Musang (<em>Family viverridae</em>) jenis yang sangat sukar ditemui di hutan. Juga Ajag (<em>Cuon alpines</em>) statusnya  rawan dan dilindungi.</p>
<p>Beberapa mamalia yang dapat dijumpai di taman nasional ada Berang-berang, Sigung/Teledu, Trenggilingm Kancil, Mencek, Tando, Tupai, Bajing, Tikus babi, Kelelawar, Landak jawa dan Babi hutan.</p>
<p>Sedangkan amfibi dan reptile  dari 20 jenis yang ada, tiga antaranya sudah jarang ditemui, yaitu Kodok bertanduk, Katak asia dan Katak titik merah. Sedangkan reptil yang hidup di dalam kawasan ada Bunglon jambul hijau, Bunglon dan Bengkarung. Ketiga jenis ini sering ditemukan di daerah terbuka, yang terkena sinar matahari seperti sekitar Cibeureum.</p>
<p><strong>Iklim di Taman Nasional</strong></p>
<p>Selain kaya dengan keanekaragaman hayatinya, kawasan yang terletak di antara Kabupaten Bogor, Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Sukabumi ini merupakan kawasan perwakilan ekosistem hutan hujan pegunungan di Pulau Jawa. Tak heran, taman nasional ini mempunyai arti penting bagi konservasi di Indonesia.</p>
<p>Selain itu, Gunung Gede adalah satu dari 35 gunung berapi aktif  di Indonesia, sedangkan Gunung Pangrango telah dinyatakan mati. Kedua gunung tersebut bagian dari rangkaian gunung ebrapi yang membujur dari Sumatra, Jawa dan usa Tenggara yang terbentuk akibat pergerakan kulit bumi secara terus menerus selama periode kegiatan geologi yang tidak stabil.</p>
<p>Tentunya harus diperhatikan pula  iklim dan curah hujan di Gunung Gede Pangrango pada saat akan mendaki. Curah hujan yang tinggi, rata-rata pada tiap tahun 3.000-4.200 milimeter, menjadikan taman nasional ini sebagai daerah terbasah di Pulau Jawa.</p>
<p>Angin  yang bertiup, adalah angin muson yang berubah arah menurut musim. Pada musim hujan, angin bertiup dari arah Barat Daya dengan kencang, sehingga sering mengakibatkan tumbangnya pepohonan yang mengakibatkan kerusakan hutan. Di musim kemarau, angin bertiup dari arah Timur Laut dengan kecepatan rendah.</p>
<p><strong>Bagaimana Menuju ke Gede Pangrango</strong></p>
<p>Dengan menggunakan mobil atau motor bisa melalui beberapa lokasi pintu masuk. Antara lain:</p>
<p>• Pintu masukCibodas (masuk ke dalam wilayah Kabupaten Cianjur), adalah pintu utama dan terletak di dekat kantor taman nasional, dari Jakarta dapat ditempuh dalam waktu 2,5 jam (+  100 kilometer), melalu jalur Jakarta-Bogor_puncak-Cibodas. Dari Bandung melalui jalur Bandung-Canjur-Cipanas-Cibodas dengan jarak tempuh +  85 kilometer, sekitar dua jam lamanya.</p>
<p>• Pintu masuk Gunung Putri (masuk ke dalam wilayah Kabupaten Cianjur_ berdekatan dengan Cibodas + 10 kilometer, dapat dicapai melalui Cipanas Pacet.</p>
<p>• Pintu masuk Selabintana dan Situ Gunung (masuk wilayah Kabupaten Sukabumi). Dari Jakarta bisa melalui Jakarta-Bogor-Sukabumi-Selabintana/Situ Gunung, dengan jarak tempuh +  110 kilometer atau sekitar 3,5 jam perjalanan. Atau jalur Bandung-Cianjur-Sukabumi-Selabintana/Situ Gunungm dengan jarak tempuh + 90 kilometer atau tiga jam perjalanan.</p>
<p>• Pintu masuk Bodogol, masuk dalam wilayah Kabupaten Bogor. Dapat ditempuh dari jalan raya Bogor-Sukabumi di Desa Tenjoayu, dengan jarak tempuh + 10 kilometer.</p>
<p>• Pintu masuk Cisarua, masuk dalam wilayah Kabupaten Bogor, bisa ditempuh dar tepi jalan raya Bogor-Puncak melalu Desa Citeko, jarak tempuh + 6 kilometer.</p>
<p><strong>Lokasi Menarik di Taman  Nasional Gede  Pangrango</strong></p>
<p>1. Telaga Biru, danau berukuran 150 meter persegi ini terletak tak jauh dari pintu masuk. Berjarak 1, 5 kilometer saja. Danaunya selalu tampak biru karena terdapat ganggang biru di dalamnya. Dan bila terkena sinar matahari permukaan air di danau tampak biru kehijauan yang menakjubkan.</p>
<p>2. Air Terjun Cibeureum, dengan tinggi 50 meter. Jaraknya 2,5 kilometer dari pintu masuk. Tempat yang paling sering dikunjungai pengunjung taman nasional. Di sekitar air terjun Cibeureum ada lumut berwarna merah dan endemic di Jawa Barat.</p>
<p>3. Air Panas,  dapat ditempuh dalam waktu dua jam perjalanan dari Cibodas atau 5,3 kilometer.</p>
<p>4. Kandang Batu dan Kandang Badak.  Sebagai tempat berkemah dan lokasi pengamatan tumbuhan dan satwa. Kandang Batu berada pada ketinggian 2.22o mdpl dengan jarak 5,6 atau 2,5 jam lamanya perjalanan kaki. Sedangakan Kandang Badak berajrak 7,8  kilometer atau 3,5 jam lamanya perjalanan kaki dari pintu masuk Cibodas.</p>
<p>5. Puncak dan Kawah Gunung Gede.  Saat mencapai puncak Gunung Gede, biasanya pengunjung menyempatkan diri menikmati matahari terbit. Bila cuaca cerah pengunjung juga dapat melihat hamparan kota Cianjur, Sukabumi dan Bogor dari kejauhan. Lokasi kawah berada pada ketinggian 2.958 mdpl dengan jarak 9.7 kilometer atau lima jam perjalanan dari Cibodas.  Pengunjung juga dapat mengamati batuan vulkanik dan tumbuhan khas lainnya.</p>
<p>6. Alun-alun Suryakencana. Dataran seluas 50 hektar yang ditutupi hamparan bunga Edelweis. Tempat yang menakjubkan dan cantik. Berada pada ketinggian 2.750 mdpl. Jarak yang harus ditempuh 11,8 kilometer atau enam jam perjalanan kaki dari Cibodas.</p>
<p>7. Gunung Putri dan Selabintana. Sebagai camping ground  yang dapat menampung 100-150 pengunjung.</p>
<p>Jadi, kalau ingin berkunjung ke lokas-lokasi wisata yang ada di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango atau mendakinya, sebaiknya pada bulan Maret – September. Saat itulah waktu yang tepat, karena curah hujan relatif rendah.</p>
<p>Untuk informasi selanjutnya. Silahkan menghubungi :</p>
<p>Kantor Balai Taman Nasional Gunung Gede Pangrango</p>
<p>Jl. Raya Cibodas,  P.O Box 3 Sdl.</p>
<p>Cipanas 43253 – Cianjur</p>
<p>Jawa Barat</p>
<p>Telpon : 0263 – 512 776</p>
<p>Fax      :  0263 – 519 415</p>
<p>Email : tngp@cianjurwasantara.net.id</p>
<p>Sumber : Buku Informasi 50 Taman Nasional di Indonesia – Dep. Kehutanan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://matoa.org/kapan-mendaki-gunung-gede-pangrango/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>31</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengenal Taman Nasional Kayan Mentarang</title>
		<link>http://matoa.org/mengenal-taman-nasional-kayan-mentarang/</link>
		<comments>http://matoa.org/mengenal-taman-nasional-kayan-mentarang/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 Mar 2008 03:45:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matoa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Taman Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[5]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://matoa.org/?p=8</guid>
		<description><![CDATA[..dengan berjuta keanekaragaman hayati, dengan kearifan budaya lokal yang senantiasa menjaga dan melestarikannya, menjadikan TNKM sebagai jantung borneo, aset nasional, bahkan aset dunia, yang patut dipertahankan keberadaannya. PENGANTAR Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM) ditetapkan pertama kali sebagai Cagar Alam oleh Menteri Pertanian RI Tahun 1980 (SK No. 84/Kpts/Un/II/1980 tanggal 25 November) Nama Kayan Mentarang diambil [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><img src="http://www.matoa.org/blog/wp-content/uploads/2008/03/logo-tnkm01.gif" alt="Logo TNKM" /></p>
<p><em>..dengan berjuta keanekaragaman hayati, dengan kearifan budaya lokal yang senantiasa menjaga dan melestarikannya, menjadikan TNKM sebagai jantung borneo, aset nasional, bahkan aset dunia, yang patut dipertahankan keberadaannya.</em></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color: #008000;"><strong>PENGANTAR</strong></span></p>
<p class="MsoNormal">Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM) ditetapkan pertama kali sebagai Cagar Alam oleh Menteri Pertanian RI Tahun 1980 (SK No. 84/Kpts/Un/II/1980 tanggal 25 November) Nama Kayan Mentarang diambil dari nama daerah aliran sungai (DAS) penting yang ada di kawasan taman nasional, yaitu DAS Kayan di bagian selatan dan DAS Mentarang di bagian utara. Kemudian, untuk menampung aspirasi masyarakat lokal (adat) dan berdasarkan kajian ilmiah, kawasan ini diubah statusnya menjadi Taman Nasional agar kepentingan masyarakat lokal dapat tertampung (SK Menteri Kehutanan No. 631/Kpts-II/1996 tanggal 7 Oktober) .</p>
<p class="MsoNormal">
<p style="text-align: center"><img src="http://www.matoa.org/blog/wp-content/uploads/2008/03/map.gif" alt="Location Map" /></p>
<p class="MsoNormal">TNKM memiliki kawasan hutan primer dan sekunder tua terbesar yang masih tersisa di pulau Kalimantan dan seluruh Asia Tenggara. Dengan luas lahan sekitar 1,36 juta hektar, hamparan hutan ini membentang di bagian utara Kalimantan Timur, tepatnya di wilayah Kabupaten Malinau dan Kabupaten Nunukan, berbatasan dengan Sabah dan Sarawak, Malaysia. Terletak pada ketinggian antara 200 meter sampai 2500 meter di atas permukaan laut, kawasan ini mencakup lembah-lembah dataran rendah, dataran tinggi pegunungan, serta gugus pegunungan terjal yang terbentuk dari berbagai formasi sedimen dan vulkanis.</p>
<p class="MsoNormal">Tingginya tingkat deforestrasi dan degradasi hutan di Kalimantan khususnya dan di pulau Borneo umumnya menyebabkan kawasan TNKM menjadi sangat penting nilainya dan perlu mendapat prioritas tinggi dalam hal pelestarian keanekaragaman hayati dan ekosistemnya serta budaya masyarakat lokal yang masih tersisa.<span id="more-8"></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color: #008000;"><strong>PENGELOLAAN KOLABORATIF</strong></span></p>
<p class="MsoNormal">Pada tanggal 4 April 2002, Menteri Kehutanan RI menetapkan Pengelolaan Kolaboratif untuk TNKM melalui Keputusan Menteri Kehutanan RI Nomor: 1213,1214,1215/Kpts-II/2002. Ini merupakan tonggak sejarah baru dalam pengelolaan Taman Nasional di Indonesia yang selama ini pengelolaan sepenuhnya dilakukan oleh Pemerintah.</p>
<p class="MsoNormal">Masyarakat yang ada di dalam dan sekitar kawasan taman nasional merupakan aset yang paling tepat untuk menjaga dan mengelola sumber daya alam yang ada di TNKM. Diperkuat dengan adanya desentralisasi kewenangan Pemerintah Pusat kepada Pemerintah Daerah dalam rangka Pengelolaan Kolaboratif.</p>
<p class="MsoNormal">Pengelolaan kolaboratif diwujudkan ke dalam sebuah wadah organisasi yang disebut sebagai Dewan Penentu Kebijakan (DPK) (Kepmenhut 1215/Kpts-II/2002),<span> </span>kemudian disempurnakan menjadi Dewan Pembina dan Pengendali Pengelolaan Kolaboratif (DP3K) TNKM (Kepmenhut 374/Kepts-II/2007).</p>
<p class="MsoNormal">Kelembagaan ini merupakan representasi dari para pihak terkait di TNKM, yaitu terdiri dari unsur-unsur masyarakat lokal, pemerintah kabupaten, provinsi dan pusat (Departemen Kehutanan) dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) seperti WWF.</p>
<p class="MsoNormal">Tugas dan wewenang<span> </span>DP3K antara lain meliputi: mewadahi para pihak yang berkolaborasi, melaksanaan pembinaan dan pengendalian terhadap perencanaan, pelaksanaan, mekanisme kerja dan sistem pertanggungjawaban yang berhubungan dengan pengelolaan kolaboratif di TNKM, serta memberikan saran dan pertimbangan kepada Menteri Kehutanan dalam pengelolaan kolaboratif TNKM. Selain itu DP3K dapat membentuk sekretariat dan membangun tata hubungan kerja antara para pihak terkait. Pendanaan DP3K dapat bersumber dari APBN, APBD dan sumber lain yang tidak mengikat seperti bantuan hibah pemerintah Jerman melalui GTZ.</p>
<p class="MsoNormal">Pengelolaan kolaboratif<span> </span>TNKM hakekatnya merupakan inovasi dalam pengelolaan taman nasional di Indonesia yang mengedepankan kepentingan bersama, saling berbagi tanggung jawab, peran dan manfaat antara pemerintah, masyarakat lokal dan LSM.</p>
<p><span style="color: #008000;"><strong>KEANEKARAGAMAN BUDAYA</strong></span></p>
<p class="MsoNormal">Di dalam dan sekitar TNKM ditemukan beraneka ragam budaya suku Dayak yang mendiami 11 wilayah Adat Besar dan lebih dari 75 Adat Desa, merupakan warisan budaya yang bernilai tinggi untuk dilestarikan.</p>
<p class="MsoNormal">Sekitar 25.000 orang dari bermacam etnik dan sub kelompok bahasa, suku Dayak, bermukim di dalam dan di sekitar taman nasional. Komunitas Dayak, seperti suku Kenyah, Kayan, Lundaye,Tagel, Saben, dan Punan mendiami sekitar 50 desa yang ada di dalam kawasan TNKM. Ditemukannya kuburan batu di hulu sungai Bahau dan hulu Sungai Pujungan, yang merupakan peninggalan suku Ngorek, mengindikasikan bahwa paling tidak sejak kurang<span> </span>lebih 400 tahun yang lalu masyarakat Dayak sudah menghuni kawasan ini. Peninggalan arkeologi yang paling padat ini, diperkirakan sebagai peninggalan yang paling penting untuk Pulau Borneo.</p>
<p class="MsoNormal">
<p style="text-align: center"><img src="http://www.matoa.org/blog/wp-content/uploads/2008/03/hayati.gif" alt="hayati.gif" /></p>
<p class="MsoNormal">Masyarakat di dalam taman nasional masih sangat bergantung pada pemanfaatan hutan sebagai sumber penghidupan, seperti kayu, tumbuhan obat, dan binatang buruan. Mereka juga menjual secara terbatas tumbuhan dan satwa liar, karena hanya ada sedikit peluang untuk mendapatkan uang tunai. Pada dasarnya masyarakat mengelola sumber daya alam secara tradisional dengan mendasarkan variasi jenis. Sebagai contoh banyak varietas padi ditanam, beberapa jenis kayu digunakan untuk bahan bangunan, banyak jenis tumbuhan digunakan untuk obat, dan berbagai jenis satwa buruan seperti babi hutan dan ikan.</p>
<p class="MsoNormal">Tingginya keragaman jenis yang dimanfaatkan, akan memperkecil kemungkinan jenis-jenis tadi mengalami tekanan. Pengelolaan tradisional tersebut pada dasarnya sangat sejalan dengan konservasi hutan dan hidupan liar. Sayangnya peraturan adat (tradisional) sering tidak dipedulikan oleh pendatang yang terus meningkat untuk mengambil sumber daya dari kawasan. Perubahan yang cepat dari mata pencaharian tradisional ke basis ekonomi membuat orang cenderung tergoda untuk mengabaikan adat.</p>
<p><strong><span style="color: #008000;">KEANEKARAGAMAN HAYATI</span></strong></p>
<p class="MsoNormal">
<p style="text-align: center"><img src="http://www.matoa.org/blog/wp-content/uploads/2008/03/fauna.gif" alt="fauna TNKM" /></p>
<p class="MsoNormal">Tipe-tipe utama ekosistem TNKM adalah hutan <em>Dipterocarpaceae</em>, hutan <em>Fagaceae-Myrtaceae</em>, hutan pegunungan tingkat tengah dan tinggi (di atas 1000 meter di atas permukaan laut), hutan agatis, hutan kerangas, hutan rawa yang terbatas luasnya, serta suatu tipe khusus “hutan lumut” di puncak-puncak gunung di atas ketinggian 1500 meter di atas permukaan laut.<span> </span>Untuk pohon telah teridentifikasi ribuan jenis.</p>
<p class="MsoNormal">Dalam kawasan TNKM ditemukan lebih dari 500 jenis anggrek (<em>Orchidaceae</em>) dan beberapa jenis kantung semar (<em>Nepenthaceae</em>), 25 jenis rotan, 210 jenis burung (termasuk 11 jenis baru untuk Kalimantan dan Indonesia, 19 jenis endemik dan 12 jenis yang hampir punah) telah teridentifikasi, 68 jenis reptilia (banyak spesimen yang belum terindentifikasi), 33 jenis amphibia yang sudah teridentifikasi dan spesies baru selalu ditemukan setiap ada penelitian, 43 jenis ikan yang berhasil diidentifikasi.<span> </span>Banyak jenis satwa liar lainnya yang terpantau namun belum berhasil diidentifikasi dan peluang ditemukannya spesies baru sangat tinggi.</p>
<p class="MsoNormal">TNKM juga merupakan habitat lebih dari 76 spesies mamalia termasuk diantaranya jenis yang dilindungi seperti misalnya Banteng (<em>Bos javanicus</em>), Beruang Madu (<em>Helarctos malayanus</em>), Macan Dahan (<em>Neofelis nebulosa</em>), Kubung (<em>Cynocephalus variegatus</em>), dan tiga jenis landak. Beberapa jenis primata yang sering ditemukan termasuk Wau-Wau (<em>Hylobates muelleri</em>) dan Lutung Abu-abu (<em>Presbytis hosei</em>).</p>
<p class="MsoNormal">Gajah Kalimantan (<em>Elephas maximus borneensis</em>) dan Badak Sumatera (<em>Dicerorhinus sumatrensis</em>) dilaporkan oleh masyarakat lokal menghuni kawasan TNKM bagian utara, terutama di wilayah Krayan dan Lumbis Kabupaten Nunukan di masa lalu. Orangutan Kalimantan (<em>Pongo pygmaeus</em>) pernah menghuni kawasan TNKM bagian tengah hingga selatan. Sayangnya, ketiga jenis langka tersebut hanya tinggal kenangan karena sudah musnah (†) dari TNKM akibat tekanan perburuan di masa silam.</p>
<p class="MsoNormal">Informasi lebih lanjut hubungi:</p>
<p class="MsoNormal"><span style="color: #008000;"><strong>Balai Taman Nasional Kayan Mentarang</strong></span></p>
<p>Kantor (sementara):<br />
Jl. Pusat Pemerintahan Komplek Perumahan DPRD<br />
Tg. Belimbing, Malinau – Kalimantan Timur<br />
Telp./Fax.: (0553) 20 22 757<br />
Telp.: (0553) 20 22 758<br />
Email: balai_tnkm@yahoo.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://matoa.org/mengenal-taman-nasional-kayan-mentarang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
