11 June, 2012, 4:10 pm, Editor: matoa

Harapan Berlebihan terhadap Biofuel?

Dua ilmuwan menantang norma-norma penerimaan produksi biofuel saat ini. Komentar terbaru yang dipublikasikan di GCB Bioenergy mengungkapkan bahwa perhitungan emisi gas rumah kaca (GRK) dari produksi bioenergi mengabaikan informasi penting yang telah menyebabkan harapan berlebihan terhadap penggunaan biofuel dibandingkan bahan bakar fosil.

Kritik memanjang terhadap model Life Cycle Analysis (LCA) produksi bioenergi. LCA merupakan tehnik yang digunakan untuk mengukur dan menyusun semua faktor yang berhubungan dengan produksi, penggunaan, dan pembuangan bahan bakar atau suatu produk. Pengarang menyimpulkan bahwa LCA berharap berlebihan terhadap dampak positif penggunaan biofuel vs penggunaan bahan bakar fosil dengan menghilangkan emisi karbon dioksida dari kendaraan yang menggunakan ethanol dan biodiesel.

Pendukung bioenergi membantah bahwa analisis harus selalu mengabaikan karbon dioksida karena tanaman tumbuh untuk menyangga biofuel dan oleh karenanya mengimbangi jumlah karbon yang sama yang diemisikan oleh penyulingan dan pembakaran bahan bakar. Banyak yang mengkritik metode ini dengan berpendapat bahwa melakukan penghitungan ganda sehingga karbon yang diserap ketika tanaman bioenergi tumbuh di lahan yang telah digunakan untuk produksi hasil pertanian atau yang telah menumbuhkan tanaman jenis lain karena bioenergi tidak selalu menghasilkan penambahan penyerapan karbon. Biofuel hanya mengurangi gas rumah kaca jika mereka menghasilkan penyerapan karbon tambahan, atau jika menghasilkan tambahan biomassa yang dapat digunakan dengan menangkap limbah yang akan membusuk.

Harapan berlebihan terhadap LCA bioenergi menjadi semakin diperbesar ketika kelalaian CO2 dikombinasikan dengan mangabaikan emisi nitrogen dari penggunaan pupuk. Berdasarkan pengarang utama Dr Keith Smith dari Universitas Edinburgh, “Emisi N2O dari tanah membuat kontribusi besar terhadap pemanasan global yang berhubungan dengan hasil pertanian karena setiap kilogram N2O diemisikan ke atmosfir memilliki efek sama dengan 300 kg CO2. Ia mengatakan bahwa beberapa LCA merendahkan persentase penggunaan pupuk nitrogen yang sebetulnya diemisikan ke atmosfir sebagai GRK. Pengarang mengklaim bahwa penyerapan N2O meningkat di atmosfir menunjukkan bahwa persentase ini faktanya mendekati nilai ganda yang digunakan LCA, yang mengubah hasil dengan sangat besar.

Karena hasil LCA telah digunakan secara luas , Searcsinger dan Smith menyimpulkan bahwa pengembangan keseluruhan dan penelitian alternatif bahan bakar telah menuju arah yang salah. “Kesempatan terbaik untuk membuat biofuel yang menguntungkan adalah menggunakan bahan limbah atau fokus terhadap lahan basah tapi lahan terdegradasi tinggi,” kata Dr. Smith. Jika hasil pertanian bioenergi dihasilkan pada lahan terdegradasi, GRK akan lebih sedikit diemisikan dan banyak yang akan disimpan. Selain itu, lahan jenis ini tidak akan berkompetisi dengan tanaman pangan, tekstil, dan produk lainnya.

Sumber: sciencedaily.com

Sumber gambar: projectbiofuel.blogspot.com

Share: