“Untuk sel agar dapat mensintesis protein (mesin molekuler mereka), sel-sel tersebut membutuhkan banyak potassium. Sodium menghalangi aktivitas-aktivitas ini,” kata study co-author Armen Mulkidjanian, seorang biophysicist di University of Osnabruck, Jerman.
Untuk hidup tidak bisa jika tidak mensintesis protein, sehingga harus menjaga kandungan potassium yang tinggi. Saat ini sel-sel bergantung terhadap protein kompleks untuk memompa kelebihan sodium keluar dari membrane, sehingga sel dapat berfungsi dengan baik.
Sel pertama, tidak memiliki mesin tersebut dalam organ pencernaan mereka (hanya membran sel yang belum sempurna dan apapun nutrisinya, sel-sel tersebut cukup beruntung terjebak di dalamnya). Sebagai hasilnya, sel pertama sangat mudah ditembus dan sangat beruntung karena lingkungan di sekitarnya. Oleh karena itu rasio potassium dengan sodium harus lebih besar dari 1:1, potassium harus lebih tinggi.
Namun dalam air laut kuno (sama dengan kondisi air laut saat ini), perbandingan sodium dan potassium adalah 40:1. Dengan kenyataan tersebut, Mulkidijanian dan rekannya meminta bantuan ahli geologis untuk memahami asal kehidupan antara 3,8 – 4,3 miliar tahun lalu.
Tim tersebut menyadari bahwa daerah panas bumi di darat dapat melakukannya, terutama pot-pot lumpur yang dapat ditemukan di Taman Nasional Yellowstone. “Pot-pot lumpur merupakan tempat keluarnya uap dari bumi dan berkondensasi, membawa banyak mineral, termasuk potassium. Pot-pot lumpur tersebut seperti lumpur yang keluar dari bumi dan akan membuat tempat yang memungkinkan bagi sel pertama,” kata Mulkidjanian
Para ilmuwan sudah lama mengabaikan pot-pot lumpur sebagai analog yang memungkinkan untuk cairan primordial karena versi zaman modern adalah berenang dalam asam sulfat (zat kimia mematikan yang terbentuk ketika hidrogen sulfida bertemu oksigen di atmosfer).
“Banyak orang khawatir akan kondisi asam, namun bumi hanya menggunakan oksigen yang sangat sedikit di atmosfer. Lingkungan anoksik ini stabil selama jutaan tahun dan mungkin kondusif untuk mendukung kehidupan pertama di bumi,” kata Mulkidjanian
Sumber: nationalgeographic.com
Sumber gambar: footage.shutterstock.com



























