27 April, 2009, 2:09 pm, Editor: matoa

Lahan Gambut Naik Daun

Lahan gambut dulu tidak diperhatikan, sekarang lahan gambut menjfestival_orang-gambut_fotoadi idola banyak kalangan, dari pemerintah, LSM hingga pengusaha. Catatan Greenpeace, total gambut di Indonesia ada 42 juta hektar alias 10 persen dari total gambut dunia.

Bustar Maitar, Senior Forest Campaigner Greenpeace juga menjelaskan bahwa lahan gambut di Indonesia mempunya fungsi ekologis bagi 800 jenis, 71 family dan 237 genus. Lahan gambut merupakan habitatnya orangutan juga pemijahan ikan, dan udang. Gambut juga penting untuk penyeimbang iklim.

“Penghancur utama gambut adalah ekspansi sawit dan HTI,” ucap Bustar di depan peserta Seminar Festival Orang Rawa-Gambut Se-Indonesia, 22 April 2009 lalu di Hotel Salak, Bogor.

Lantas apa sih kerugian apabila lahan gambut hancur?
Indonesia akan mengekspor asap tahunan ke wilayah Asia Tenggara, terutama Singapura dan Malaysia. Selain itu melepas emisi.

“Greenpeace ingin menahan kenaikan iklim sampai 2 derajat Celsius, kalau sampai naik 2 derajat berarti kehancuran,” tegas Bustar mengenai penghancuran lahan gambut ini.

Selain mengungkapkan kerugian serta Nampak yang kritis apabila hutan gambut beralih fungsi menjadi perkebunan sawit dan HTI. Greenpeace mengemukakan tuntuannya agar dilakukan:

1. Penghentian sementara konversi hutan di Indonesia
2. Perlindungan total untuk kawasan gambut di Indonesia
3. Deforestasi NOL di tahun 2020

Bustar juga menambahkan, bahwa banyak sekali konflik kebijaksanaan dan banyak kepentingan yang harus diakomodir oleh pemerintah. Karena itu, Greenpeace mengajukan moratorium dan penghentian sementara konversi hutan tadi.

“Greenpeace tidak anti sawit, tapi Greenpeace anti pembabatan lahan gambut. Apa yang Greenpeace lakukan hanya mengangkat fakta-fakta yang masyarakat tidak tahu.”

Intinya, lahan gambut sekarang berubah, selama ini dianggap kawasan tidak bernilai, rendah alias tidak ada nilai moneter maupun sosial. Naik daunnya lahan gambut karena isu perubahan iklim. Disampaikan Farah Sofa, dari Kemitraan Pada penutupan seminar.

Share:

2 Komentar

  1. Apapun ceritanya, tidak akan mungkin penggunaan area gambut oleh pemilik modal dan dengan cara pemilik modal dapat dihentikan bila kita tidak ubah haluan menuju ekonoi kerakyatan. Saya adalah peneliti pada tanaman Eucalyptus, menyatakan demikian sebab saya tahu, anda juga tahu, kita sama-sama tahu. Lalu Apa.

  2. tergantung pemerintah mas kalau mau melestarikan rawa gambut ya dijaga baik baik eksploitasinya dibatasi tapi apa biso ya..