Tidak banyak yang tahu “mengapa upaya konservasi harus dilakukan di lahan gambut?”. Sekilas lahan gambut merupakan daerah rawa-rawa yang selalu tergenang air dan tidak bisa dijadikan sebagai lahan pertanian.
Lahan gambut adalah lahan yang memiliki lapisan tanah kaya bahan organik C (karbon > 18%) dengan ketebalan 50 cm atau lebih. Bahan organik tersebut didapat dari sisa-sisa tanaman yang belum melapuk sempurna karena kondisi lingkungan yang jenuh air dan miskin hara. Timbunan terus bertambah karena proses dekomposisi terhambat oleh kondisi anaerob dan/atau kondisi lingkungan lainnya yang menyebabkan rendahnya tingkat perkembangan biota pengurai.
Tanah gambut umumnya memiliki kesuburan yang rendah (pH rendah), ketersediaan unsure hara makro dan mikro yang rendah, mengandung asam-asam organic yang beracun, dan memiliki Kapasitas Tukar Kation (KTK) yang tinggi namun Kejenuhan Basa (KB) yang rendah. Gambut di Indonesia tergolong jenis gambut mesotrofik (gambut yang agak subur karena memiliki kandungan mineral dan basa-basa sedang) dan oligotrofik (gambut yang tidak subur karena miskin mineral dan basa-basa).
Lahan gambut memiliki banyak manfaat, di antaranya adalah mencegah banjir di musim hujan, mencegah kekeringan di musim kemarau, dan habitat bagi kehidupan berbagai satwa. Kadar air tanah gambut berkisar antara 100 – 1.300% dari berat kering. Sehingga gambut mampu menyerap air hingga 13 kali bobotnya. Namun, jika kandungan airnya menurun secara berlebihan akan mengakibatkan kondisi kering tak balik. Jika terjadi kondisi yang demikian, lahan gambut akan sulit menyerap air kembali.
Gambut memiliki daya penyaluran air secara horizontal (mendatar) yang cepat sehingga memacu pencucian unsur-unsur hara ke saluran drainase. Sebaliknya, gambut memiliki daya penyaluran air vertikal (ke atas) yang sangat lambat. Hal tersebut mengakibatkan lapisan atas gambut sering mengalami kekeringan, walau lapisan bawahnya basah.
Gambut yang telah mengalami kekeringan, bobotnya akan sangat ringan sehingga mudah hanyut terbawa air hujan, strukturnya mudah lepas seperti pasir, mudah terbakar, dan sulit ditanami kembali.
Kebakaran di lahan gambut sangat sulit dipadamkan karena dapat menembus ke bawah permukaan tanah. Pada permukaan, bara api yang dikira sudah padam, masih tersimpan di dalam tanah dan menjalar ke tempat-tempat sekitar lahan gambut. Jika demikian, bara api yang telah merambat tersebut akan sulit dipadamkan, bisa dipadamkan dengan air hujan yang lebat.
Sumber: Lahan Gambut: Potensi untuk Pertanian dan Aspek Lingkungan. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 2008 dan indo-peat.net
Sumber gambar: bkprn.org


























