Tim ilmuwan dari Charite and German Rheumatism Research Center Berlin and the University of Geneva telah menemukan mekanisme baru yang fundamental bagaimana sistem pertahanan tubuh manusia berproduksi ketika menghadapi virus penyusup. Eksploitasi mekanisme ini dalam percikan vaksin merupakan harapan baru untuk pencegahan dan terapi yang lebih baik untuk infeksi penyakit dan kanker.
“Sel pembunuh T” (CD8 T cells) mewakili elemen penting dalam sistem pertahanan tubuh manusia. Mereka memiliki kapasitas untuk mengidentifikasi secara spesifik dan membunuh sel, yang menyembunyikan virus, bakteri, atau sel kanker. Sel pembunuh T mewakili komponen penting yang belum tersedia dalam vaksin untuk melawan infeksi seperti HIV/AIDS, hepatitis C, dan malaria, serta sel kanker.
Pengamatan sudah lama dilakukan bahwa tidak ada kecocokan armada sel pembunuh T yang dipicu ketika infeksi virus menyerbu tubuh. Ilmuwan telah mengakreditasi pengamatan ini secara umum menjadi “pathogen associated molecular patterns” (PAMPs) pada virus dan mikroba lainnya. PAMPs yaitu “tampilan asing” virus, sinyal yang disebut “dendritic cells,” yang bertindak sebagai polisi yang mengkoordinasikan respon sel pembunuh T.
Dalam laporan yang sekarang dipublikasikan dalam jurnal Science, para peneliti yang dipimpin oleh Prof. Max Lohning (Charite-University Medicine & DRFZ Berlin) dan Prof. Daniel Pinschewer (University of Geneva) menggambarkan mekanisme umum tambahan dengan infeksi virus yang memicu potensi sel pembunuh T: “Virus sekarat – yang terinfeksi sel itu sendiri memberikan alarm kepada sel pembunuh T…,” Kata Lohning. Virus menyebabkan sel yang terinfeksi mati, mengakibatkan pelepasan komponen sel, yang secara normal tidak terlihat dari luar – dianalogikan seperti individu yang kehilangan darah. Seperti subtansi yang menggembar-gemborkan kecelakaan ketika dilepaskan, disebut juga sebagai “alarmins”. Para ilmuwan menemukan bahwa sel pembunuh T dapat merasakan alarmin yang disebut “interlukin 33” (IL-33). IL-33 terkandung dalam sel, yang membentuk tangga-tangga rumah, limpa, dan tangkai getah bening sel pembunuh T, dan dilepaskan ketika tangga-tangga sel mati.
Tikus yang tidak memiliki pengkodean gen IL-33 yang gagal membentuk tentara besar sel pembunuh T. Sel yang tersisa memiliki keterampilan bertarung yang rendah. Oleh karena itu, tikus-tikus tersebut sensitif terhadap beberapa jenis infeksi virus. Sebaliknya, IL-33 dapat digunakan untuk meningkatkan tentara sel pembunuh T secara artifisial, yang dihasilkan dalam merespon vaksin. Seperti yang dijelaskan Max Lohning dan Daniel Pinschewer, PAMPs dan alarmins rupanya memiliki fungsi yang saling melengkapi dan tidak berlebih-lebihan dalam membentuk pertahanan sel pembunuh T: “Tampilan Asing” virus (PAMPs) mengaktifkan polisi “dendritic cells” untuk mengikat sel pembunuh T. Bagaimanapun sel pembunuh T menyisakan petarung yang kurang bagus kecuali disiagakan oleh sel mati dalam lingkungan mereka (alarmins).” Penemuan baru ini mampu menyediakan kunci dalam pengefektifan vaksinasi melawan infeksi penyakit dan kanker.
Sumber: sciencedaily.com
Sumber gambar: sciencedaily.com


























