23 October, 2012, 3:06 pm, Editor: editor

Pupuk Cair dari Limbah Kambing

 

Kambing, Foto: StormyinGA

 

Tanpa terasa 3 hari kita akan merayakan Idul Qurban, biasanya banyak sekali hewan-hewan kurban yang dijual di pinggir jalan dan kita seringkali melihat banyak sekali kotoran-kotoran atau feses kambing atau domba yang dibiarkan saja bahkan terbuang percuma yang justru mencemari lingkungan. Banyak yang tidak tahu bahwa feses tersebut sebenarmya dapat bernilai jika kita mampu mengolahnya, salah satunya untuk dijadikan pupuk cair..?

 

Kenapa pupuk cair dari feses? hal ini diakibatkan seiring dengan meningkatnya pertanian organik membuat permintaan pupuk organik semakin meningkat. Salah satu jenis pupuk organik yaitu dengan memanfaatkan limbah peternakan salah satunya menggunaan kompos atau feses yang telah difermentasi. Namun penggunaan pupuk organik padat dinilai cukup menyulitkan terutama untuk aplikasi di lapangan yang membutuhkan banyak sekali pasokan kotoran hewan. Dengan bantuan teknologi, kita dapat menggunakan feses kambing menjadi pupuk cair tentunya dengan bantuan bakteri fermentasi.

 

Bagaimana cara membuat pupuk cair dari feses?

 

Pada dasarnya hal terpenting dalam membuat pupuk adalah bagaimana usaha kita untuk meningkatkan kandungan hara makro seperti nitrogen, kalium, dan fosfor. Pada kotoran ternak, baik feses maupun urin terkandung nitrogen yang kadarnya dapat ditingkatkan menggunakan mikroba pengikat nitrogen, sedangkan untuk hara kalium digunakan mikroba frementer Rummino bacillus. Pupuk cair dari kotoran ternak ternagi menjadi 2 macam yaitu yang terdiri atas pupuk cair dari urin (biourin) ataupun pupuk cair dari feses ternak (biokultur).

 

Untuk membuat biourine, urin ternak ditampung di dalam bak, lalu ke dalamnya dimasukkan fermenter (R. bacillus dan Azotobacter). Setipa 800 liter urine difermentasi dengan R. bacillus 1 liter dan Azotobacter 1 liter, lalu diaduk dengan aerator selama 3-4 jam. Selanjutnya permukaan bak ditutup dengan triplek atau plastik dan didiamkan selama 7 hari. Pada hari ke-8, urine diaduk untuk mengurangi jumlah amonia karena sifat amonia sebagai racun untuk tanaman. lalu setelah itu, urine yang telah difermentasi siap untuk digunakan kembali atau disimpan dalam wadah.

 

Untuk membuat biokultur, kotoran ternak (feses) ditamoung ke dalam bak lalu dicampur dengan air dengan perbandingan 1:2. Feses yang telah dicampur dengan air lalu ditambahkan dengan mikroba fermenter (R. bacillus d an Azotobacter). Setiap  800 liter campuran feses ditambahkan dengan 1 liter R. bacillus dan 1 liter Azotobacter. Selanjutnya diaduk dengan pengaduk selama 3-4 jam. Bak fermentasi selanjutnya ditutup dengan triplek atau plastik dan didiamkan hingga 7 hari. Pada hari ke-8, bagian cairannya diambil dan bagian yang mengendap diperas kembali. Cairan hasil perasan dapat dicampurkan kembali dengan bagian cair. Bagian padat dapat digunakan juga sebagai pupuk organik padat dan biokultur siap untuk digunakan sebagai pupuk cair.

 

Apa saja kandungan dalam pupuk cair ?

 

Berdasarkan hasil uji, pupuk cair memiliki kandungan nitrogen, C-organik, dan kalium yang lebih tinggi dibandingkan dengan pupuk kompos. Namun untuk kandungan fosfor justru semakin rendan untuk biourine dan semakin meningkat untuk biokultur. Meningkatnya kandungan hara makro nitrogen diakibatkan adanya aktivitas mikroba Azotobacter yang juga mampu mengikat N dari udara. Mikroba R. bacillus lebih berfungsi dalam meningkatkan kandungan K dan C-organik. Kandungan P yang rendah pada biourin diakibatkan oleh inokulan yang belum bekerja optimal dalam mengikat P. Hal ini menjadi tantangan untuk menambahakan mikroba fermenter yang mampu mengikat P.

 

Bagaimana aplikasi pupuk cair?

 

Tergantung terhadap jenis tanaman, untuk tanaman semusim dan sayuran dapat diaplikasikan dengan memberikan pupuk sebelum masa tanam, dan pada saat tanaman telah ditanam. Untuk tanaman pekebunan dapat dilakukan dengan metode penyemprotan tanaman.

 

Tidak ada salahnya untuk mencoba membuat pupuk cair dari limbah ternak yang terbuang..

 

sumber : Warta Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 30 No 6, 2008

Share: