23 April, 2009, 7:00 am, Editor: budi

Suaka Alam Tanjung Puting

<cerita awal> <cerita sebelumnya>

tanjungputingLain lagi ketika saya mengunjungi Suaka Alam Tanjung Puting di Kalimantan Tengah. Saya diajak ke sana oleh Direktur PPA (Pusat Pengawetan Alam), pak Loekito Darjadi. Di Suaka Alam itu tinggal Berute Galdikas, seorang Amerika ahli orang utan. Sudah lama saya ingin mengunjungi Tanjung Puting, yang tercantum di peta dunia pelestarian alam. Jadi tanpa keraguan sedikitpun saya iyakan ajakan pak Loekito. Kami naik kapal terbang perusahaan De Raya dari Semarang ke Pangkalan Boen. Pak Effendi Soemardja, salah seorang staf pak Loekito, terbang bersama kami. Meskipun jarak antara Semarang dan Pangkalan Boen tidak jauh, rasanya kami terbang lama sekali. Bunyi mesin kapal terbang itu sangat berisik, sehingga kami tidak bisa bercakap-cakap walaupun duduk berdekatan. Ciapan anak-anak ayam yang diangkut bersama kami ke Balikpapan menambah riuhnya bunyi mesin yang mengganggu pendengaran kami. Agaknya anak-anak ayam ini merasa ketidaknyamanan seperti yang kami alami.

Sesampai kami di Pangkalan Boen, sebuah jip telah menunggu kami untuk membawa kami ke kantor Kehutanan setempat dan Suaka Alam Tanjung Puting. Sebuah jembatan kayu kecil menghubungkan pelataran tempat Berute dan para asistennya bermukim dan jalan tempat jip diparkir. Begitu kami meniti jembatan kayu itu, begitu kami disambut oleh orang-orang utan yang dipelihara Berute sebelum dilepaskannya kembali ke hutan alami. Nama yang diberikan kepada orang-orang utan itu adalah nama-nama orang terkenal Jakarta yang pernah mengunjungi Tanjung Puting. Kami semua tertawa mendengar Berute memanggil orang utan itu satu per satu dengan nama-nama yang kami kenal. Bukan tidak mungkin setelah kunjungan kami, nama Loekito Darjadi akan diabadikan Berute di salah satu orang utan peliharaannya. Suatu cara unik untuk menghormati mereka yang terkenal.

Kami menginap di salah satu rumah dekat rumah Berute. Tiap hari yang kami makan tidak lebih dari ikan sarden kalengan dan nasi. Tiga kali sehari makan sarden tentu saja sangat membosankan. Tetapi tidak ada seorang pun yang berani mengeluh. Saya melihat banyak ikan gabus berseliweran di parit di sisi rumah Berute. Alangkah nikmatnya bila ikan gabus goreng segar terhidang di hadapan kami sebagai pengganti ikan sarden itu. Tetapi, ikan gabus goreng itu tentunya hanya ada dalam lamunan, karena di suaka alam semua hewan dan tumbuhan dilindungi. Kami tunduk pada aturan, meskipun di antara kami ada pak Loekito, pimpinan tertinggi dari seluruh persuakaalaman Indonesia.

<bersambung>

Catatan redaksi :

Tulisan ini merupakan bagian catatan perjalanan Setijati D Sastrapradja dari buku Bintang Beralih, sebagai sumber inspirasi sepanjang masa.

Share: