18 July, 2011, 11:41 am, Editor: matoa

Tentang Badak Jawa

Indonesia merupakan negara satu-satunya yang memiliki dua jenis badak dan terlengkap yaitu badak bercula satu (badak jawa) dam badak bercula dua (badak sumatera). Sedangkan badak di Afrika merupakan badak bercula dua (badak hitam dan putih) dan di India terdapat badak bercula satu (badak india).

Badak merupakan termasuk binatang berkuku ganjil (perrisodactyla), secara taksonomi badak jawa diklasifikasikan sebagai berikut:

 

Kingdom              : Animalia

Phylum                 : Chordata

Sub phylum        : Vertebrata

Super kelas         : Gnatostomata

Kelas                     : Mammalia

Super ordo         : Mesaxonia

Ordo                      : Perissodactyla

Super famili        : Rhinocerotides

Famili                    : Rhinocerotidae

Genus                   : Rhinoceros Linnaeus, 1758

Species                 : Rhinoceros sondaicus Desmarest, 1882

Badak jawa memiliki cirri yang khas seperti bibir atas lengkung-mengait ke bawah (hooked upped), bercula satu dengan ukuran panjang sampai 25 cm, kulit berwarna abu-abu dan tak berambut, dan cirri khas lainnya adalah lipatan kulit tubuh seperti baju besi. Baju besi ini membuat penampilan badak terlihat gagah dan anggun.

Habitat badak jawa adalah hutan hujan dataran rendah dan rawa-rawa (tropical rainforest dan mountain moss forest), badak jawa terdapat di Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK). Tempat-tempat yang rimbun dengan semak dan perdu yang rapat serta menghindari tempat-tempat yang terbuka, terutama pada siang hari.

Badak jawa beraktifitas dengan menjelajah, diperkirakan badak betina menjelajah sepanjang 10-20 km2, sedangkan badak jantan sepanjang 30 km2.. Malam hari digunakan badak untuk mencari makanan berupa dedaunan dan buah-buahan ke daerah hutan yang didominasi semak belukar lebat seperti Karang Ranjang, Cikeusik, Gunung Honje, hingga Tanjung Ujung Kulon. Sedangkan siang hari digunakan untuk mencari kubangan dan berkubang.

Populasi badak di TNUK tak menentu, tahun 1937 populasi badak jawa ditaksir 25 ekor (10 jantan, 15 betina), tahun 1955 terdapat sekitar 30-35 ekor, sedangkan tahun 1967 dinyatakan populasi badak jawa adalah 21-28 ekor. Tahun 1975, populasi badak terus meningkat menjadi 45 ekor, sedangkan tahun 1999, populasi badak diperkirakan 47-53 ekor. Populasi badak kembali meningkat pada tahun 2001 sekitar 50-60 ekor dan tahun 2006 diperkirakan populasi badak jawa menurun menjadi 20-27 ekor.

Populasi badak jawa dapat dikatakan turun naik karena faktor kelahiran anak dan perburuan. Namun, diperkirakan populasi badak jawa di TNUK jumlahnya kurang dari 100 ekor. Penyebaran badak jawa terbatas hanya di kawasan TNUK, maka badak jawa dikategorikan ke dalam kelompok satwa langka yang menuju kepunahan.

Badak jawa mampu bersuara keras dan terdengar hingga jarak yang jauh, namun ia lebih memilih bergerak tanpa bersuara apabila berpindah tempat di hutan. Badak yang hanya ditemukan di TNUK ini jarang merasa terganggu dengan adanya jenis satwa lain. Namun, perseteruan akan terjadi dalam mempertahankan atau memperebutkan kubangan. Kubangan sangat penting bagi badak karena dapat menurunkan suhu tubuh yang panas. Manusia merupakan musuh utama badak jawa karena manusia sering memburu dan membunuh badak.

Badak jawa berusia cukup panjang, sekitar 35 tahun atau lebih. Badak jantan menikah pada usia 6 tahun, sedangkan badak betina menikah pada usia 3,5 tahun. Badak jawa menarik pasangannya dengan cara yang unik yaitu adu kekuatan yang dimulai dengan suara ancaman yang kemudian dilanjutkan dengan bentrokan antara badak betina dan jantan.

Masa-masa kehamilannya antara 16-19 bulan, anak akan tetap mengikuti induk hingga berumur 6 tahun. Sang induk jarang mampu bereproduksi hingga umur anak mencapai 3 tahun.

 

Sumber: Sudarsono Djuri, Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus)

Sumber foto: Alain Compast

Share:

Satu Komentar